KPK tunggu konfirmasi dari Anas soal pemanggilan besok
Kamis, 14 Maret 2013 - 19:58 WIB
KPK tunggu konfirmasi dari Anas soal pemanggilan besok
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku belum mendapat konfirmasi dari Anas Urbaningrum terkait pemanggilan sebagai saksi dalam kasus korupsi pengadaan alat simulator SIM yang menyeret tersangka Irjen Pol Djoko Susilo.
Juru bicara KPK Johan Budi mengatakan, pihaknya sudah melaksanakan prosedur dengan mengirimkan surat pemanggilan pemeriksaan terhadap mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu.
“Suratnya sudah dikirim pada hari Selasa lalu, untuk pemeriksaan Pak Anas Urbaningrum hari Jumat. Sampai hari ini belum ada konfirmasi dari yang bersangkutan,“ terang Johan di Kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (14/3/2013).
Pihaknya masih menunggu kabar, apakah yang bersangkutan bisa hadir atau tidak dalam pemeriksaan itu.
“Sampai hari ini kami belum menerima pemberitahuan mengenai hadir atau tidaknya Anas Urbaningrum. Kalau misalnya tidak mau hadir silakan disampaikan ke KPK,“ pintanya.
Johan menambahkan, Anas dinilai mengetahui soal simulator SIM karena saat itu masih sebagai anggota DPR RI. “Saya kira semua keterangan saksi penting. Jadi keterangan Pak Anas ini juga penting. Yang pasti dia sebagai anggota DPR, dan dia sebagai saksi,“ pungkasnya.
KPK saat ini mulai menelusuri dugaan aliran dana proyek simulator SIM ke anggota DPR. Sebelumnya, penyidik juga telah memeriksa sejumlah anggota Komisi III DPR RI.
Dalam penyidikan, AKBP Teddy Rusmawan mengaku, selaku Ketua Pengadaan Proyek Simulator SIM, Anas hadir dalam pertemuan yang membahas uang jasa pengurusan anggaran Kepolisian di Restoran King Crab, kawasan bisnis Sudirman, Jakarta Selatan sekitar tahun 2010.
AKBP Teddy mengaku sempat menyalami Anas dalam pertemuan yang juga dihadiri M Nazaruddin, Dirut PT Citra Mandiri Metalindo Abadi, Budi Susanto.
Dalam pertemuan itu, Nazar minta uang jasa pengurusan anggaran kepolisian. Besarnya sekitar 12 persen dari anggaran yang disetujui. Separo harus dibayar di muka.
Setelah pertemuan, Teddy mengantar paket ke Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan dan menyerahkan Rp 4miliar kepada Nazaruddin. Suap ini dalam bentuk dolar AS.
Penasihat Hukum Nazaruddin, Rufinus Hutauruk mengakui kliennya pernah hadir dalam pertemuan itu. Namun pertemuan itu tak khusus membahas anggaran simulator, melainkan juga tentang rencana kerja dan anggaran kepolisian 2011.
Masih dalam penelusuran, selain Demokrat, ada jatah bagi partai-partai lain. Bagian untuk politisi PDIP Rp2 miliar dikirim Teddy ke kantor Herman Herry, anggota DPR dari PDIP di Panglima Polim, Jakarta Selatan.
Dari sana, Teddy meluncur ke Kafe De Luca, Plaza Senayan untuk menemui politikus Golkar, Azis Syamsuddin dan Bambang Soesatyo.
Sesampainya di area parkir Plaza Senayan, melalui seorang staf Korps Polisi Lalu Lintas Kepolisian, uang Rp4 miliar berpindah tangan ke ajudan Azis.
Nazaruddin sendiri pernah mengungkapkan adanya keterlibatan Azis, Bambang dan Herman Hery dalam kasus itu. Namun, ketiganya telah membantah tudingan Nazaruddin tersebut.
Juru bicara KPK Johan Budi mengatakan, pihaknya sudah melaksanakan prosedur dengan mengirimkan surat pemanggilan pemeriksaan terhadap mantan Ketua Umum Partai Demokrat itu.
“Suratnya sudah dikirim pada hari Selasa lalu, untuk pemeriksaan Pak Anas Urbaningrum hari Jumat. Sampai hari ini belum ada konfirmasi dari yang bersangkutan,“ terang Johan di Kantor KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Kamis (14/3/2013).
Pihaknya masih menunggu kabar, apakah yang bersangkutan bisa hadir atau tidak dalam pemeriksaan itu.
“Sampai hari ini kami belum menerima pemberitahuan mengenai hadir atau tidaknya Anas Urbaningrum. Kalau misalnya tidak mau hadir silakan disampaikan ke KPK,“ pintanya.
Johan menambahkan, Anas dinilai mengetahui soal simulator SIM karena saat itu masih sebagai anggota DPR RI. “Saya kira semua keterangan saksi penting. Jadi keterangan Pak Anas ini juga penting. Yang pasti dia sebagai anggota DPR, dan dia sebagai saksi,“ pungkasnya.
KPK saat ini mulai menelusuri dugaan aliran dana proyek simulator SIM ke anggota DPR. Sebelumnya, penyidik juga telah memeriksa sejumlah anggota Komisi III DPR RI.
Dalam penyidikan, AKBP Teddy Rusmawan mengaku, selaku Ketua Pengadaan Proyek Simulator SIM, Anas hadir dalam pertemuan yang membahas uang jasa pengurusan anggaran Kepolisian di Restoran King Crab, kawasan bisnis Sudirman, Jakarta Selatan sekitar tahun 2010.
AKBP Teddy mengaku sempat menyalami Anas dalam pertemuan yang juga dihadiri M Nazaruddin, Dirut PT Citra Mandiri Metalindo Abadi, Budi Susanto.
Dalam pertemuan itu, Nazar minta uang jasa pengurusan anggaran kepolisian. Besarnya sekitar 12 persen dari anggaran yang disetujui. Separo harus dibayar di muka.
Setelah pertemuan, Teddy mengantar paket ke Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan dan menyerahkan Rp 4miliar kepada Nazaruddin. Suap ini dalam bentuk dolar AS.
Penasihat Hukum Nazaruddin, Rufinus Hutauruk mengakui kliennya pernah hadir dalam pertemuan itu. Namun pertemuan itu tak khusus membahas anggaran simulator, melainkan juga tentang rencana kerja dan anggaran kepolisian 2011.
Masih dalam penelusuran, selain Demokrat, ada jatah bagi partai-partai lain. Bagian untuk politisi PDIP Rp2 miliar dikirim Teddy ke kantor Herman Herry, anggota DPR dari PDIP di Panglima Polim, Jakarta Selatan.
Dari sana, Teddy meluncur ke Kafe De Luca, Plaza Senayan untuk menemui politikus Golkar, Azis Syamsuddin dan Bambang Soesatyo.
Sesampainya di area parkir Plaza Senayan, melalui seorang staf Korps Polisi Lalu Lintas Kepolisian, uang Rp4 miliar berpindah tangan ke ajudan Azis.
Nazaruddin sendiri pernah mengungkapkan adanya keterlibatan Azis, Bambang dan Herman Hery dalam kasus itu. Namun, ketiganya telah membantah tudingan Nazaruddin tersebut.
(lns)