Partai berbasis agama miskin figur
Senin, 24 Desember 2012 - 16:42 WIB
Partai berbasis agama miskin figur
A
A
A
Sindonews.com - Beberapa waktu lalu, nama Rhoma Irama ramai diperbincangkan akan dicalonkan sebagai calon presiden (Capres). Munculnya nama si Raja Dangdut itu diharapkan tak sekadar komoditas politik semata.
Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan, dengan munculnya nama Rhoma, menandakan partai berbasis agama saat ini tengah mengalami krisis figur untuk diusung sebagai capres pada 2014 mendatang.
"PKB, PPP usung Rhoma, itu bukti partai berbasis agama krisis figur," kata Burhanuddin di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (24/12/2012).
Peneliti dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini menjelaskan, relevansi politik aliran semakin berkurang. Hal itu bisa dilihat dari hasil survei, dimana masyarakat semakin religius.
"Tapi pilihan politiknya tidak diberikan ke partai berbasis agama," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, masalah lain yang tengah dihadapi partai berbasis agama adalah kesulitan finansial. Bahkan untuk akses media lebih banyak dikuasai partai nasionalis.
"Partai berbasis agama hanya sebagai follower, tidak jadi trendsetter atau leader dalam perpolitikan nasional,"
Menurutnya, yang terjadi saat ini partai nasionalis mampu memainkan politik pencitraan dengan tidak ragu mendukung program berbau agama. Burhanuddin menilai, hal itu yang selama ini gagal dimainkan partai berbasis agama.
"Masalahnya partai berbasis agama gagal sambut isu penting masyarakat, seperti ekonomi dan korupsi. Dua persoalan ini gagal disambut partai berbasis agama," pungkasnya.
Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan, dengan munculnya nama Rhoma, menandakan partai berbasis agama saat ini tengah mengalami krisis figur untuk diusung sebagai capres pada 2014 mendatang.
"PKB, PPP usung Rhoma, itu bukti partai berbasis agama krisis figur," kata Burhanuddin di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (24/12/2012).
Peneliti dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini menjelaskan, relevansi politik aliran semakin berkurang. Hal itu bisa dilihat dari hasil survei, dimana masyarakat semakin religius.
"Tapi pilihan politiknya tidak diberikan ke partai berbasis agama," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, masalah lain yang tengah dihadapi partai berbasis agama adalah kesulitan finansial. Bahkan untuk akses media lebih banyak dikuasai partai nasionalis.
"Partai berbasis agama hanya sebagai follower, tidak jadi trendsetter atau leader dalam perpolitikan nasional,"
Menurutnya, yang terjadi saat ini partai nasionalis mampu memainkan politik pencitraan dengan tidak ragu mendukung program berbau agama. Burhanuddin menilai, hal itu yang selama ini gagal dimainkan partai berbasis agama.
"Masalahnya partai berbasis agama gagal sambut isu penting masyarakat, seperti ekonomi dan korupsi. Dua persoalan ini gagal disambut partai berbasis agama," pungkasnya.
(maf)