LSM lingkungan geruduk Kedubes Australia
Kamis, 29 November 2012 - 11:38 WIB
LSM lingkungan geruduk Kedubes Australia
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen terhadap lingkungan, hari ini mendatangi Kedutaan Besar (Kedubes) Australia.
LSM tersebut adalah Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Koalisi Anti Utang (KAU), Solidaritas Perempuan (Soliper), Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (Kiara), dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Mereka menuntut, perusahaan milik Australia menghentikan eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) dari Indonesia.
"Kita menuntut kepada sejumlah perusahaan tambang seperti PT Agincourt Resources, perusahaan tambang emas yang beroperasi di Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kemudian Newmont, di Sulawesi," kata Koordinator aksi Haris Simalungun, di depan Kedubes Australia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2012).
Menurut Haris, tuntutan tersebut akibat perubahan iklim yang menurun secara drastis di Indonesia. Saat ini, cuaca nyaris tidak bisa diprediksi dan banyak terjadi bencana.
"Perubahan iklim, membuat rata-rata kenaikan suhu bumi 0,8 derajat celcius, yang mungkin akan naik menjadi 2 sampai 4 derajat celcius. Akibat, penggunaan bahan bakar fosil yang terus dieksploitasi dari perut bumi," ucapnya.
Dia berharap, adanya komitmen pemerintah Indonesia sebagai pemilik SDA, agar tidak dengan mudahnya melepaskan sumber daya alam Indonesia ke negara maju.
"Tidak boleh Pemerintah dengan mudah memberi izin pada perusahaan asing untuk mengeksploitasi alam kita, karena kita yang akan terkena bencana," tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, agar seluruh stakeholder yang ada memiliki kepedulian untuk menjaga lingkungan dan peduli terhadap kekayaaan alam yang dimiliki Indonesia.
"Harus segera dihentikan penggunaan berlebihan bahan bakar, karena ini menambah laju kerusakan alam dan peningkatan suhu bumi," tandasnya.
LSM tersebut adalah Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Koalisi Anti Utang (KAU), Solidaritas Perempuan (Soliper), Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (Kiara), dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Mereka menuntut, perusahaan milik Australia menghentikan eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) dari Indonesia.
"Kita menuntut kepada sejumlah perusahaan tambang seperti PT Agincourt Resources, perusahaan tambang emas yang beroperasi di Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kemudian Newmont, di Sulawesi," kata Koordinator aksi Haris Simalungun, di depan Kedubes Australia, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2012).
Menurut Haris, tuntutan tersebut akibat perubahan iklim yang menurun secara drastis di Indonesia. Saat ini, cuaca nyaris tidak bisa diprediksi dan banyak terjadi bencana.
"Perubahan iklim, membuat rata-rata kenaikan suhu bumi 0,8 derajat celcius, yang mungkin akan naik menjadi 2 sampai 4 derajat celcius. Akibat, penggunaan bahan bakar fosil yang terus dieksploitasi dari perut bumi," ucapnya.
Dia berharap, adanya komitmen pemerintah Indonesia sebagai pemilik SDA, agar tidak dengan mudahnya melepaskan sumber daya alam Indonesia ke negara maju.
"Tidak boleh Pemerintah dengan mudah memberi izin pada perusahaan asing untuk mengeksploitasi alam kita, karena kita yang akan terkena bencana," tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, agar seluruh stakeholder yang ada memiliki kepedulian untuk menjaga lingkungan dan peduli terhadap kekayaaan alam yang dimiliki Indonesia.
"Harus segera dihentikan penggunaan berlebihan bahan bakar, karena ini menambah laju kerusakan alam dan peningkatan suhu bumi," tandasnya.
(maf)