Agum Gumelar: Tindak pelaku tawuran
Jum'at, 23 November 2012 - 01:16 WIB
Agum Gumelar: Tindak pelaku tawuran
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Dewan Penyantun Universitas Pancasila (UP) Agum Gumelar ingin pelaku tawuran ditindak sesuai aturan. Jika tidak dapat diberikan peringatan, maka harus diberi sanksi tegas.
“Apapun alasannya, mereka harus mendapat hukuman,” kata Agum saat acara Lokakarya dengan tema Prahara Tawuran: Problem dan Solusi di UP, Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Dengan sanksi yang diberikan, diharapkan dapat memberikan efek jera pada pelakunya. Maraknya perkelahian pelajar saat ini, kata Agum, banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin membuat situasi keamanan dimasyarakat menjadi tak terkendali.
“Semua pihak yaitu siswa, orangtua, guru, dan pemerintah harus menyadari hal tersebut,” tutur Agum.
Komunikasi intensif harus dilakukan untuk menumbuhkan rasa saling pengertian. Selain itu, pemberitaan yang menimbulkan rasa benci terhadap satu sekolah. Pelajar sebaiknya diberikan ruang untuk menyalurkan hobi dan aktifitas. Misalnya untuk seni, budaya dan olahraga.
“Pembangunan gedung olahraga ataupun bukan merupakan pemborosan, karena dengan beraktivitas dibidang seni dan olahraga para siswa dapat menyakurkan bakatnya,” tegasnya.
Sementara itu, Psikolog Universitas Indonesia (UI) Winarini Wilman D Mansoer menilai, ada kesalahan dalam menganani masalah tawuran. “Masalahnya adalah di kelompok siswa, bukan individu siswa. Jadi harus ditangani perilaku kelompok,” terangnya.
Tindakan tegas yang diambil sekolah, harus diikuti oleh sekolah lainnya yang terlibat tawuran. Sehingga tidak hanya dari satu pihak saja.
Menurutnya, harus ada konsep kebersamaan antar kedua sekolah yang bertikai, jangan libatkan keduanya dalam kompetisi apapun, termasuk olahraga.
“Saat ini tawuran pelajar sudah menyebar keberbagai daerah seperti Purwakarta, Garut, Pantura, Menado dan lainnya,” tutupnya.
“Apapun alasannya, mereka harus mendapat hukuman,” kata Agum saat acara Lokakarya dengan tema Prahara Tawuran: Problem dan Solusi di UP, Jakarta, Kamis (22/11/2012).
Dengan sanksi yang diberikan, diharapkan dapat memberikan efek jera pada pelakunya. Maraknya perkelahian pelajar saat ini, kata Agum, banyak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang ingin membuat situasi keamanan dimasyarakat menjadi tak terkendali.
“Semua pihak yaitu siswa, orangtua, guru, dan pemerintah harus menyadari hal tersebut,” tutur Agum.
Komunikasi intensif harus dilakukan untuk menumbuhkan rasa saling pengertian. Selain itu, pemberitaan yang menimbulkan rasa benci terhadap satu sekolah. Pelajar sebaiknya diberikan ruang untuk menyalurkan hobi dan aktifitas. Misalnya untuk seni, budaya dan olahraga.
“Pembangunan gedung olahraga ataupun bukan merupakan pemborosan, karena dengan beraktivitas dibidang seni dan olahraga para siswa dapat menyakurkan bakatnya,” tegasnya.
Sementara itu, Psikolog Universitas Indonesia (UI) Winarini Wilman D Mansoer menilai, ada kesalahan dalam menganani masalah tawuran. “Masalahnya adalah di kelompok siswa, bukan individu siswa. Jadi harus ditangani perilaku kelompok,” terangnya.
Tindakan tegas yang diambil sekolah, harus diikuti oleh sekolah lainnya yang terlibat tawuran. Sehingga tidak hanya dari satu pihak saja.
Menurutnya, harus ada konsep kebersamaan antar kedua sekolah yang bertikai, jangan libatkan keduanya dalam kompetisi apapun, termasuk olahraga.
“Saat ini tawuran pelajar sudah menyebar keberbagai daerah seperti Purwakarta, Garut, Pantura, Menado dan lainnya,” tutupnya.
(san)