Marak kekerasan, Indonesia bangsa yang gagal
Minggu, 28 Oktober 2012 - 09:31 WIB
Marak kekerasan, Indonesia bangsa yang gagal
A
A
A
Sindonews.com - Maraknya kekerasan belakangan ini bisa menjadi indikator kalau Indonesia dianggap sebagai bangsa yang gagal. Ditambah lagi, ada warga negara yang menjadi pengungsi di negeri sendiri.
Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan, ada empat indikator yang membuat Indonesia dapat menjadi bangsa yang gagal, jika bangsa Indonesia semakin diwarnai kekerasan.
Kedua, jika semakin banyak warga negara yang menjadi pengungsi, padahal mereka warga negara Indonesia yang sah.
"Ini kasus terjadi di kalangan WNI penganut Syiah di Sampang dan Ahmadiyah di Mataram serta ada penyerangan masjid Ahmadiyah di Bandung," paparnya disela-sela Hari Sumpah Pemuda juga Hari Indonesia Tanpa Diskriminasi di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (28/10/2012).
Indikator bangsa yang gagal, lanjutnya jika aparat keamanan dalam bangsa kita semakin tidak memonopoli kekerasan. Selain itu, jika pemerintah pusat kehilangan ketegasan untuk melindungi semua warga negara.
"Seolah pemerintah membiarkan kelompok sosial yang satu dianiaya kelompok sosial lainnya. Ini agak mengherankan, padahal mereka yang radikal dan keras itu hanyalah segelintir minoritas, yang kebetulan bersuara keras," tegasnya.
Untuk itu, menurutnya Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi menjauhkan Indonesia menjadi bangsa yang gagal.
"Dengan memiliki sebuah hari nasional, gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi akan diperingati setiap tahun dan akan terjadi silaturahmi secara batiniah setiap tahun agar publik nasional kembali mereview apakah Indonesia Tanpa Diskriminasi sudah tercapai," pungkasnya.
Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan, ada empat indikator yang membuat Indonesia dapat menjadi bangsa yang gagal, jika bangsa Indonesia semakin diwarnai kekerasan.
Kedua, jika semakin banyak warga negara yang menjadi pengungsi, padahal mereka warga negara Indonesia yang sah.
"Ini kasus terjadi di kalangan WNI penganut Syiah di Sampang dan Ahmadiyah di Mataram serta ada penyerangan masjid Ahmadiyah di Bandung," paparnya disela-sela Hari Sumpah Pemuda juga Hari Indonesia Tanpa Diskriminasi di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (28/10/2012).
Indikator bangsa yang gagal, lanjutnya jika aparat keamanan dalam bangsa kita semakin tidak memonopoli kekerasan. Selain itu, jika pemerintah pusat kehilangan ketegasan untuk melindungi semua warga negara.
"Seolah pemerintah membiarkan kelompok sosial yang satu dianiaya kelompok sosial lainnya. Ini agak mengherankan, padahal mereka yang radikal dan keras itu hanyalah segelintir minoritas, yang kebetulan bersuara keras," tegasnya.
Untuk itu, menurutnya Gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi menjauhkan Indonesia menjadi bangsa yang gagal.
"Dengan memiliki sebuah hari nasional, gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi akan diperingati setiap tahun dan akan terjadi silaturahmi secara batiniah setiap tahun agar publik nasional kembali mereview apakah Indonesia Tanpa Diskriminasi sudah tercapai," pungkasnya.
(ysw)