Meninggal di tanah suci 2 hari sebelum haji
Selasa, 23 Oktober 2012 - 08:07 WIB
Meninggal di tanah suci 2 hari sebelum haji
A
A
A
Sindonews.com - Pergi ke tanah suci melaksanakan rukun Islam kelima merupakan kewajiban bagi umat Muslim yang mampu, sekaligus satu kebahagiaan dan puncak kepuasan religius. Namun apa jadinya jika ternyata, justru di tanah suci itulah pasangan suami istri dipisahkan untuk selamanya.
Seperti yang terjadi pada Een Rohayni (59), jemaah haji Indonesia asal Garut, embarkasi JKS. Een harus rela mengiklaskan suami tercinta Sasa Sutiarsa yang meninggal, dua hari menjelang pelaksanaan haji.
Kesedihan begitu dalam menyelimuti hatinya. Kemandirian, kesabaran dan ketegaran menjadi kunci baginya untuk sukses menghadapi ujian di tanah suci. Di sebuah pemondokan, di wilayah Bahutma, Mekah, Arab Saudi, Een menghadapi ujian beratnya.
"Saya sedih ketika suami saya meninggal. Saya nangis, tapi saya yakin suami mendapat tempat terbaik disisi Allah," ungkap ibu Een dengan wajah yang tampak muram dan mata berkaca-kaca, di Mekah.
Ditambahkan dia, sebelum meninggal, suaminya hanya mengeluh sakit di bagian dada. Tak disangka, sakit itu ternyata keluhan terakhir suaminya. Pada Senin 4 pagi WAS (Waktu Arab Saudi-red) suaminya meninggal di ruang ICU BPHI.
Semua kemelut dalam hati Een saat itu, dalam sekejab serasa terobati saat jenazah sang suami di salatkan di Masjidil Haram. "Alhamdulillah bapak sudah tenang, meninggal di mekah dan disalatkan di masjidil haram," ungkapnya.
Doa untuk suami tercinta-pun menjadi hal yang utama dalam pelaksanaan haji Bu Een tahun ini. "Saya ikhlas suami saya meninggal, dan saya akan berdoa buat bapak moga diterima disisi-Nya secara baik dan haji-nya saya titipkan untuk di badalkan," tambahnya
Keluaraganya pun sudah iklhas atas kematian orang tuanya. "Keluarga sudah tahu. Anak-anak ikhlas, ridho, bahkan sms mama harus tabah, sabar, tawakal dan harus sehat, supaya dapat menunaikan ibadah haji," tutupnya.
Ujian terhadap manusia, pada dasarnya selalu menyimpan hikmah dan pahala yang begitu besar tersembunyi. Kesabaran adalah kunci menghadapi ujian hidup. "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar," demikian tertulis dalam surat QS. Al-Baqarah 153.
Seperti yang terjadi pada Een Rohayni (59), jemaah haji Indonesia asal Garut, embarkasi JKS. Een harus rela mengiklaskan suami tercinta Sasa Sutiarsa yang meninggal, dua hari menjelang pelaksanaan haji.
Kesedihan begitu dalam menyelimuti hatinya. Kemandirian, kesabaran dan ketegaran menjadi kunci baginya untuk sukses menghadapi ujian di tanah suci. Di sebuah pemondokan, di wilayah Bahutma, Mekah, Arab Saudi, Een menghadapi ujian beratnya.
"Saya sedih ketika suami saya meninggal. Saya nangis, tapi saya yakin suami mendapat tempat terbaik disisi Allah," ungkap ibu Een dengan wajah yang tampak muram dan mata berkaca-kaca, di Mekah.
Ditambahkan dia, sebelum meninggal, suaminya hanya mengeluh sakit di bagian dada. Tak disangka, sakit itu ternyata keluhan terakhir suaminya. Pada Senin 4 pagi WAS (Waktu Arab Saudi-red) suaminya meninggal di ruang ICU BPHI.
Semua kemelut dalam hati Een saat itu, dalam sekejab serasa terobati saat jenazah sang suami di salatkan di Masjidil Haram. "Alhamdulillah bapak sudah tenang, meninggal di mekah dan disalatkan di masjidil haram," ungkapnya.
Doa untuk suami tercinta-pun menjadi hal yang utama dalam pelaksanaan haji Bu Een tahun ini. "Saya ikhlas suami saya meninggal, dan saya akan berdoa buat bapak moga diterima disisi-Nya secara baik dan haji-nya saya titipkan untuk di badalkan," tambahnya
Keluaraganya pun sudah iklhas atas kematian orang tuanya. "Keluarga sudah tahu. Anak-anak ikhlas, ridho, bahkan sms mama harus tabah, sabar, tawakal dan harus sehat, supaya dapat menunaikan ibadah haji," tutupnya.
Ujian terhadap manusia, pada dasarnya selalu menyimpan hikmah dan pahala yang begitu besar tersembunyi. Kesabaran adalah kunci menghadapi ujian hidup. "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar," demikian tertulis dalam surat QS. Al-Baqarah 153.
(san)