Anggaran pertahanan belum ideal
Kamis, 04 Oktober 2012 - 15:06 WIB
Anggaran pertahanan belum ideal
A
A
A
Sindonews.com - Anggaran pertahanan dinilai belum cukup untuk mencapai minimum essential force (MEF), karena masih di bawah satu persen dari total Anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN).
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, hingga saat ini pemerintah masih fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, masih kurang melirik pembangunan kekuatan pertahanan negara.
"Kita masih lebih pada mensejahterakan rakyat, anggaran (pertahanan) kita belum sampai satu persen. Padahal, yang normal itu sekira dua persen," katanya di Mabes TNI Angkatan Darat (AD), Jakarta, Kamis (4/10/2012).
Dia mengungkapkan, setiap tahunnya anggaran pertahanan untuk TNI dibagi ke tiga matra, yakni darat, laut, dan udara. TNI AD sendiri mendapatkan jatah yang paling kecil untuk pembelian alutsista, yakni sebesar Rp14 juta pada 2012.
Meski demikian, dirinya optimistis dana tersebut bisa memberikan hasil yang mumpuni jika pengadaan Alutsista menggunakan sistem government to government (G to G), dengan melibatkan pengguna dan produsen.
Menurutnya, selama ini pihaknya selalu memprioritaskan untuk melakukan pengadaan alutsista yang mendasar, dan dibutuhkan oleh sistem pertahanan ke depannya.
"Kenapa kita beli alat-alat macam itu? Karena ke depan kita butuh senjata jarak jauh, dengan tidak meninggalkan kemampuan prajurit kita. Setiap saat pun kita sudah sampai MEF dengan anggaran, dan kemampuan kita sendiri," ungkapnya.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, hingga saat ini pemerintah masih fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingga, masih kurang melirik pembangunan kekuatan pertahanan negara.
"Kita masih lebih pada mensejahterakan rakyat, anggaran (pertahanan) kita belum sampai satu persen. Padahal, yang normal itu sekira dua persen," katanya di Mabes TNI Angkatan Darat (AD), Jakarta, Kamis (4/10/2012).
Dia mengungkapkan, setiap tahunnya anggaran pertahanan untuk TNI dibagi ke tiga matra, yakni darat, laut, dan udara. TNI AD sendiri mendapatkan jatah yang paling kecil untuk pembelian alutsista, yakni sebesar Rp14 juta pada 2012.
Meski demikian, dirinya optimistis dana tersebut bisa memberikan hasil yang mumpuni jika pengadaan Alutsista menggunakan sistem government to government (G to G), dengan melibatkan pengguna dan produsen.
Menurutnya, selama ini pihaknya selalu memprioritaskan untuk melakukan pengadaan alutsista yang mendasar, dan dibutuhkan oleh sistem pertahanan ke depannya.
"Kenapa kita beli alat-alat macam itu? Karena ke depan kita butuh senjata jarak jauh, dengan tidak meninggalkan kemampuan prajurit kita. Setiap saat pun kita sudah sampai MEF dengan anggaran, dan kemampuan kita sendiri," ungkapnya.
(lil)