Dana abadi pendidikan Rp15,6 T rawan dikorupsi
Selasa, 02 Oktober 2012 - 12:38 WIB
Dana abadi pendidikan Rp15,6 T rawan dikorupsi
A
A
A
Sindonews.com - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menilai pengelolaan dan pengalokasian dana abadi pembangunan pendidikan nasional tiap tahun berpotensi diselewengkan. Bahkan bisa menjadi skandal yang sama dengan kasus bank Century, karena anggarannya bisa mencapai Rp15,6 triliun.
Ketua DPP PPP Reni Marlinawati mengatakan, pemerintah melalui menteri keuangan menganggarkan dana pengembangan pendidikan nasional sejak tahun 2010 dengan jumlah yang sangat besar. Alokasi dana ini disisihkan tiap tahun dari APBN yang 20 persen diperuntukkan untuk pendidikan.
Pada tahun 2010, kata dia, dana sisipan yang disimpan di bank tersebut dialokasikan Rp1 triliun, dan tahun 2013 rencana akan dinaikkan lagi menjadi Rp5 triliun.
"Pokoknya kalau ditotal dari 2010 sampai 2013, jumlahnya Rp15,6 triliun. Dana ini bunganya tiap tahun mencapai Rp300 miliaran," ujar Ketua DPP PPP Reni Marlinawati, di Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Menurut Reni, pemerintah selalu menyebut dana ini sebagai dana abadi pendidikan, yang dipakai untuk membiayai beasiswa sarjana S2 dan S3. Kemudian membiayai infrastruktur pendidikan akibat bencana, serta untuk penelitian nasional.
"Makanya ini menjadi aneh. Sebab dana di Dikti Kemendiknas sudah ada anggaran untuk beasiswa itu, kemudian untuk infrastruktur bencana sudah ada di BNPB. Bahkan untuk penelitian juga ada di litbang Kemendiknas dan kementerian yang lain, bahkan ada juga LIPI. Makanya buat apa lagi dana abadi ini yang bunganya Rp300 miliar setahun," ungkapnya.
Reni mengaku khawatir, sistem pengelolaan dana semacam ini akan menjadi persoalan besar dikemudian hari. Apalagi jika ada nuansa agar sistem pendanaan ini diarahkan untuk mendukung target politik tertentu.
"Ini sangat berbahaya menurut saya. Bisa saja nanti menjadi seperti kasus Bank Century karena anggarannya besar sekali. Makanya saya ingatkan agar jangan sampai kejadian," pungkasnya.
Ketua DPP PPP Reni Marlinawati mengatakan, pemerintah melalui menteri keuangan menganggarkan dana pengembangan pendidikan nasional sejak tahun 2010 dengan jumlah yang sangat besar. Alokasi dana ini disisihkan tiap tahun dari APBN yang 20 persen diperuntukkan untuk pendidikan.
Pada tahun 2010, kata dia, dana sisipan yang disimpan di bank tersebut dialokasikan Rp1 triliun, dan tahun 2013 rencana akan dinaikkan lagi menjadi Rp5 triliun.
"Pokoknya kalau ditotal dari 2010 sampai 2013, jumlahnya Rp15,6 triliun. Dana ini bunganya tiap tahun mencapai Rp300 miliaran," ujar Ketua DPP PPP Reni Marlinawati, di Jakarta, Selasa (2/10/2012).
Menurut Reni, pemerintah selalu menyebut dana ini sebagai dana abadi pendidikan, yang dipakai untuk membiayai beasiswa sarjana S2 dan S3. Kemudian membiayai infrastruktur pendidikan akibat bencana, serta untuk penelitian nasional.
"Makanya ini menjadi aneh. Sebab dana di Dikti Kemendiknas sudah ada anggaran untuk beasiswa itu, kemudian untuk infrastruktur bencana sudah ada di BNPB. Bahkan untuk penelitian juga ada di litbang Kemendiknas dan kementerian yang lain, bahkan ada juga LIPI. Makanya buat apa lagi dana abadi ini yang bunganya Rp300 miliar setahun," ungkapnya.
Reni mengaku khawatir, sistem pengelolaan dana semacam ini akan menjadi persoalan besar dikemudian hari. Apalagi jika ada nuansa agar sistem pendanaan ini diarahkan untuk mendukung target politik tertentu.
"Ini sangat berbahaya menurut saya. Bisa saja nanti menjadi seperti kasus Bank Century karena anggarannya besar sekali. Makanya saya ingatkan agar jangan sampai kejadian," pungkasnya.
(san)