PDIP harus mulai cari capres baru
Senin, 24 September 2012 - 03:35 WIB
PDIP harus mulai cari capres baru
A
A
A
Sindonews.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) diminta untuk mencari bakal calon presiden baru yang akan diusung dalam pemilu presiden (Pilpres) 2014 mendatang. Pasalnya, kemenangan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, justru membuat elektabilitas Prabowo Subianto meninggalkan Megawati Soekarnoputri.
Pengamat militer Salim Said mengatakan, hasil survei pra pilkada dan exit poll Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut mayoritas warga Jakarta akan memilih Prabowo sebagai presiden dibandingkan Megawati, menjadi tantangan besar bagi PDIP yang juga ingin bertarung dalam Pilpres.
"Ini (hasil survei SMRC) merupakan pekerjaan terbesar bagi PDIP, mereka harus segera mencari calon presiden yang lain," katanya di Jakarta, Minggu 9 September 2012.
Dia mengungkapkan, hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang tidak tahu terkait latar belakang, dan isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang melilit Prabowo Subianto.
"Masyarakat DKI Jakarta yang notabene sangat rasional saja gambaran pilihannya seperti itu, apalagi masyarakat yang di luar Jawa dan daerah?" ujarnya.
Seperti diketahui, SMRC menilai Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto meraih keuntungan paling banyak, dibanding Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri dengan kemenangan pasangan Jokowi-Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta.
"Hasil survei pra Pilkada menunjukkan warga Jakarta secara umum paling banyak memilih Prabowo, yakni sekitar 19 persen dibanding tokoh-tokoh lain untuk menjadi presiden bila pemilihan dilakukan pada saat survei. Yang menarik, pemilih Jokowi-Ahok sekitar 25 persennya memilih Prabowo, dan hanya 13 persen yang memilih Megawati," kata Chief Eksekutif Officer SRMC Grace Natalie.
Survei pra Pilkada DKI Jakarta itu sendiri melibatkan 1.000 responden, dengan margin of error plus minus 4,5 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sementara, survei exit poll dilakukan di 400 TPS yang dipilih secara random dan proporsional dari seluruh kota di DKI Jakarta dengan melibatkan sekitar 800 responden, dan margin of error plus minus 3,7 persen.
Pengamat militer Salim Said mengatakan, hasil survei pra pilkada dan exit poll Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut mayoritas warga Jakarta akan memilih Prabowo sebagai presiden dibandingkan Megawati, menjadi tantangan besar bagi PDIP yang juga ingin bertarung dalam Pilpres.
"Ini (hasil survei SMRC) merupakan pekerjaan terbesar bagi PDIP, mereka harus segera mencari calon presiden yang lain," katanya di Jakarta, Minggu 9 September 2012.
Dia mengungkapkan, hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang tidak tahu terkait latar belakang, dan isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang melilit Prabowo Subianto.
"Masyarakat DKI Jakarta yang notabene sangat rasional saja gambaran pilihannya seperti itu, apalagi masyarakat yang di luar Jawa dan daerah?" ujarnya.
Seperti diketahui, SMRC menilai Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto meraih keuntungan paling banyak, dibanding Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri dengan kemenangan pasangan Jokowi-Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta.
"Hasil survei pra Pilkada menunjukkan warga Jakarta secara umum paling banyak memilih Prabowo, yakni sekitar 19 persen dibanding tokoh-tokoh lain untuk menjadi presiden bila pemilihan dilakukan pada saat survei. Yang menarik, pemilih Jokowi-Ahok sekitar 25 persennya memilih Prabowo, dan hanya 13 persen yang memilih Megawati," kata Chief Eksekutif Officer SRMC Grace Natalie.
Survei pra Pilkada DKI Jakarta itu sendiri melibatkan 1.000 responden, dengan margin of error plus minus 4,5 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sementara, survei exit poll dilakukan di 400 TPS yang dipilih secara random dan proporsional dari seluruh kota di DKI Jakarta dengan melibatkan sekitar 800 responden, dan margin of error plus minus 3,7 persen.
(lil)