Koalisi capres Parpol Islam sulit terwujud
Kamis, 06 September 2012 - 08:42 WIB
Koalisi capres Parpol Islam sulit terwujud
A
A
A
Sindonews.com - Wacana pengusungan bersama calon presiden (capres) oleh partai politik (parpol) berasaskan Islam diprediksi sulit terwujud. Selain sejumlah parpol Islam sudah menyiapkan calon, ego kepartaian terutama soal marwah juga cukup tinggi.
Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana mengatakan, basis sosial pendukung parpol Islam sesungguhnya komplementer. Sebab, empat parpol Islam yang ada saat ini, yakni PPP, PKS, PAN, dan PKB, memiliki perbedaan basis sosial.
Perbedaan itu seperti santri perkotaan dikuasai oleh basis organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam Muhammadiyah yang dekat dengan PKS dan PAN.
Adapun di perdesaan yang tergabung dalam ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dikenal dekat dengan PKB dan PPP. Perbedaan basis inilah yang akan menyulitkan bergabungnya parpol-parpol Islam dalam mengusung capres dan cawapres.
Selain itu, sejumlah parpol Islam juga sudah menyiapkan capres sendiri seperti PAN yang sudah menyiapkan ketua umumnya, Hatta Rajasa, dan PKS yang dikabarkan bakal mengusung presidennya, Luthfi Hasan Ishaaq.
“Mereka sudah memiliki capres sendiri-sendiri atas nama marwah partai. Parpol-parpol Islam itu juga sudah merasa punya peluang dan elektabilitas berdasarkan hitungan masing- masing. Kecuali mereka menyepakati figur di luar partai mereka sebagai kandidat presiden yang diusung,” tandas Ari kepada SINDO di Jakarta kemarin.
Meski demikian, Ari mengatakan, koalisi parpol Islam bisa saja terjadi, tetapi hanya didasarkan pada alasan pragmatis jangka pendek. Salah satunya untuk memenuhi besaran ambang batas pengusungan capres (presidential threshold/ PT) yang ditetapkan sebesar 20 persen.
“Koalisi antarparpol Islam yang tergolong partai medioker bisa terjadi karena alasan pragmatis jangka pendek, yakni ambang batas pencalonan presiden. Itu artinya alasan awal adalah hanya untuk memenuhi PT saja,” paparnya.
Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyatakan Presiden DPP PKS Luthfi Hasan Ishaaq dinilai mumpuni diusung sebagai capres lantaran kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi partai.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PKS Syahfan Badri mengatakan, pada umumnya partai memang mengusung pucuk tertinggi pimpinan parpol sebagai capres. Seperti juga pengusunganKetuaUmumDPPPartaiGolkar Aburizal Bakrie (Ical) dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.
“PKS juga begitu. Domain kami penetapan Presiden PKS (Luthfi Hasan Ishaaq). Common sensenya mengusulkan ketua umumnya meskipun keputusan itu ada di wilayah Majelis Syuro PKS,” ujarnya.
Dia mengutarakan, sebenarnya PKS memiliki beberapa nama alternatif capres selain Luthfi Hasan Ishaaq. Namun, pencapresan internal PKS dan strategi pemenangan pemilu di PKS itu sebenarnya dilakukan beriringan.
Dengan demikian, kalkulasi politik juga tetap akan diperhitungkan. Sejauh ini, dia mengungkapkan, nama Luthfi memang yang terkuat untuk dicalonkan. Ini dilihat dari hasil survei internal yang dilakukan PKS. Ditambah, dari segi kompetensi, Luthfi dianggap paling memadai.
Adapun Ketua DPP PAN Abdul Hakam Naja mengatakan, pihaknya sepaham dan setuju dengan usulan penggabungan parpol Islam untuk mengusung capres bersama pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2014.
Dia menilai, wacana tersebut justru akan meningkatkan suara parpol Islam dan membuat penyelenggaraan pemilu bisa lebih bersih dan dinamis.
Menurut dia, sudah saatnya parpol-parpol Islam berkonsolidasi sebagai bentuk kesepahaman landasan parpol.
“Usulan ini positif. Kami di PAN juga semuanya mendukung hal itu (pengusungan bersama capres parpol Islam). Penggabungan ini sebagai bentuk atas konsolidasi dan soliditas parpol-parpol Islam. Tapi, ya harus fokus, capres mana yang akan diusung,” tandasnya.
Hakam mengatakan, fokus pencalonan bisa dimulai dari identifikasi latar belakang figur-figur yang akan diusung menjadi capres. Menurut dia, sebaiknya figur itu tidak saja dimunculkan dari internal parpol Islam, melainkan juga dari kalangan eksternal parpol Islam.
Dengan demikian, ujarnya, harus ada pembicaraan resmi antarparpol Islam untuk menentukan capres mana yang akan diusung dan dibulatkan suaranya.
Pengamat politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana mengatakan, basis sosial pendukung parpol Islam sesungguhnya komplementer. Sebab, empat parpol Islam yang ada saat ini, yakni PPP, PKS, PAN, dan PKB, memiliki perbedaan basis sosial.
Perbedaan itu seperti santri perkotaan dikuasai oleh basis organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam Muhammadiyah yang dekat dengan PKS dan PAN.
Adapun di perdesaan yang tergabung dalam ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dikenal dekat dengan PKB dan PPP. Perbedaan basis inilah yang akan menyulitkan bergabungnya parpol-parpol Islam dalam mengusung capres dan cawapres.
Selain itu, sejumlah parpol Islam juga sudah menyiapkan capres sendiri seperti PAN yang sudah menyiapkan ketua umumnya, Hatta Rajasa, dan PKS yang dikabarkan bakal mengusung presidennya, Luthfi Hasan Ishaaq.
“Mereka sudah memiliki capres sendiri-sendiri atas nama marwah partai. Parpol-parpol Islam itu juga sudah merasa punya peluang dan elektabilitas berdasarkan hitungan masing- masing. Kecuali mereka menyepakati figur di luar partai mereka sebagai kandidat presiden yang diusung,” tandas Ari kepada SINDO di Jakarta kemarin.
Meski demikian, Ari mengatakan, koalisi parpol Islam bisa saja terjadi, tetapi hanya didasarkan pada alasan pragmatis jangka pendek. Salah satunya untuk memenuhi besaran ambang batas pengusungan capres (presidential threshold/ PT) yang ditetapkan sebesar 20 persen.
“Koalisi antarparpol Islam yang tergolong partai medioker bisa terjadi karena alasan pragmatis jangka pendek, yakni ambang batas pencalonan presiden. Itu artinya alasan awal adalah hanya untuk memenuhi PT saja,” paparnya.
Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyatakan Presiden DPP PKS Luthfi Hasan Ishaaq dinilai mumpuni diusung sebagai capres lantaran kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi partai.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PKS Syahfan Badri mengatakan, pada umumnya partai memang mengusung pucuk tertinggi pimpinan parpol sebagai capres. Seperti juga pengusunganKetuaUmumDPPPartaiGolkar Aburizal Bakrie (Ical) dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto.
“PKS juga begitu. Domain kami penetapan Presiden PKS (Luthfi Hasan Ishaaq). Common sensenya mengusulkan ketua umumnya meskipun keputusan itu ada di wilayah Majelis Syuro PKS,” ujarnya.
Dia mengutarakan, sebenarnya PKS memiliki beberapa nama alternatif capres selain Luthfi Hasan Ishaaq. Namun, pencapresan internal PKS dan strategi pemenangan pemilu di PKS itu sebenarnya dilakukan beriringan.
Dengan demikian, kalkulasi politik juga tetap akan diperhitungkan. Sejauh ini, dia mengungkapkan, nama Luthfi memang yang terkuat untuk dicalonkan. Ini dilihat dari hasil survei internal yang dilakukan PKS. Ditambah, dari segi kompetensi, Luthfi dianggap paling memadai.
Adapun Ketua DPP PAN Abdul Hakam Naja mengatakan, pihaknya sepaham dan setuju dengan usulan penggabungan parpol Islam untuk mengusung capres bersama pada Pemilu Presiden (Pilpres) 2014.
Dia menilai, wacana tersebut justru akan meningkatkan suara parpol Islam dan membuat penyelenggaraan pemilu bisa lebih bersih dan dinamis.
Menurut dia, sudah saatnya parpol-parpol Islam berkonsolidasi sebagai bentuk kesepahaman landasan parpol.
“Usulan ini positif. Kami di PAN juga semuanya mendukung hal itu (pengusungan bersama capres parpol Islam). Penggabungan ini sebagai bentuk atas konsolidasi dan soliditas parpol-parpol Islam. Tapi, ya harus fokus, capres mana yang akan diusung,” tandasnya.
Hakam mengatakan, fokus pencalonan bisa dimulai dari identifikasi latar belakang figur-figur yang akan diusung menjadi capres. Menurut dia, sebaiknya figur itu tidak saja dimunculkan dari internal parpol Islam, melainkan juga dari kalangan eksternal parpol Islam.
Dengan demikian, ujarnya, harus ada pembicaraan resmi antarparpol Islam untuk menentukan capres mana yang akan diusung dan dibulatkan suaranya.
(lns)