Tokoh sentral partai layak capres
Rabu, 22 Agustus 2012 - 09:55 WIB
Tokoh sentral partai layak capres
A
A
A
Sindonews.com - Dorongan agar parpol-parpol memunculkan figur alternatif disambut dingin oleh kalangan elite politik. Mereka beranggapan bahwa wacana itu kurang etis karena cenderung mengerdilkan kapasitas dan kualitas tokoh sentral parpol.
Ketua DPP Partai Golkar HajriyantoY Thohari menyatakan, apabila melihat kultur politik saat ini, tidak ada satu parpol pun yang membuka diri untuk mencalonkan figur di luar partainya. Artinya, parpol masih tetap memandang bahwa figur ideal seorang capres adalah dari internal. Hal itu secara otomatis akan memberi keistimewaan kepada ketua umum atau figur sentral di partai.
“Baru ketika dihadapkan kenyataan bahwa dari dalam tidak ada kader yang punya elektabilitas tinggi, maka dicari figur dari luar. Dan itu pun dalam konteks koalisi, selalu dalam konteks share of power,” ujarnya di Jakarta, Selasa 21 Agustus 2012.
Menurut dia, sudah seharusnya memang parpol percaya diri dalam berpolitik dan bercita- cita bisa memperjuangkan kadernya di pilpres. Untuk itu, lanjut dia, parpol ketika menggelar kongres atau munas harus sudah mempertimbangkan bahwa yang akan dipilih sebagai ketua umum nantinya diproyeksikan sebagai capres.
“Di politik itu regenerasi sebuah etiika saja. Menjadi kebajikan umum bahwa suatu partai itu bagus kalau regenerasi berjalan. Hal ini berkorelasi antara di parpol dengan di jabatan strategis, termasuk penentuan capres,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjut dia, jika dalam melakukan regenerasi parpol tidak mempertimbangkan sinkronisasi dari jabatan struktural dan jabatan strategis publik akan terjadi anakronisme. Menurut Hajriyanto, sejak awal seharusnya terpikirkan regenerasi di parpol itu sebagai pijakan awal untuk sukses di pilpres.
Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan memaparkan bahwa secara faktual, sikap politik PAN jelas dan tegas. Pertama, bekerja keras mencapai suara dua digit di pemilu legislatif. Dan kedua, menetapkan Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa sebagai capres.
“Karena semua partai harapannya tentu sama yaitu ketua umum sebagai lokomotif yang diharapkan bisa jadi capres.Target politiknya partai harus seperti itu. Tidak hanya PAN, tetapi keseluruhan partai. Dan kader yang menjadi tokoh sentral atau ketua umum juga tentunya punya kesadaran target politik untuk dicalonkan sebagai pemimpin nasional,”katanya.
Soal tokoh alternatif, lanjut dia, itu tentunya juga tidak lepas dari tahapan parpol dalam mencapai hasil di pemilu legislatif.
“Sukses elektoral di pemilu legislatif sangat menentukan. Hasil memuaskan atau sukses di pemilu tentu sangat berkorelasi dengan apa yang dicita-citakan terutama dalam menghadapi pilpres di mana di internal parpol juga sudah menyiapkan capres,” kata Taufik.
Untuk itu, lanjut dia, Hatta Rajasa selaku ketua umum dan kader yang telah ditetapkan sebagai capres selalu menekankan bekerja, bekerja, dan bekerja ketika ditanya soal pencapresannya.
“Kalau di pemilu legislatif tidak memuaskan, tidak hanya PAN, Golkar, Gerindra, atau Demokrat belum tahu siapa yang akan muncul di pilpres karena memang belum tahu bagaimana hasil pemilu legislatif. Namun sekarang, kita dalam posisi kerja keras memperjuangkan agar mendapatkan suara dua digit dan bisa memperjuangkan Pak Hatta di pilpres,”tandasnya.
Pandangan senada diungkapkan Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda dan Olahraga Maruarar Sirait. Dia mengatakan, aspirasi kader dan struktur PDIP di semua jenjang menginginkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum menjadi capres 2014. Pertimbangannya, hanya Mega yang paling layak untuk proyeksi politik ke depan, termasuk dalam hal pencapresan.
Selain Mega mampu menjadi faktor pemersatu, kenyataannya dalam berbagai survei, elektabilitas Mega selalu yang teratas. “Tentu itu kebanggaan kami sebagai kader. Kepercayaan itu yang harus kami syukuri karena kami tentunya menginginkan kader terbaik partai bisa dicalonkan dalam pilpres,” katanya.
Ketua DPP Partai Golkar HajriyantoY Thohari menyatakan, apabila melihat kultur politik saat ini, tidak ada satu parpol pun yang membuka diri untuk mencalonkan figur di luar partainya. Artinya, parpol masih tetap memandang bahwa figur ideal seorang capres adalah dari internal. Hal itu secara otomatis akan memberi keistimewaan kepada ketua umum atau figur sentral di partai.
“Baru ketika dihadapkan kenyataan bahwa dari dalam tidak ada kader yang punya elektabilitas tinggi, maka dicari figur dari luar. Dan itu pun dalam konteks koalisi, selalu dalam konteks share of power,” ujarnya di Jakarta, Selasa 21 Agustus 2012.
Menurut dia, sudah seharusnya memang parpol percaya diri dalam berpolitik dan bercita- cita bisa memperjuangkan kadernya di pilpres. Untuk itu, lanjut dia, parpol ketika menggelar kongres atau munas harus sudah mempertimbangkan bahwa yang akan dipilih sebagai ketua umum nantinya diproyeksikan sebagai capres.
“Di politik itu regenerasi sebuah etiika saja. Menjadi kebajikan umum bahwa suatu partai itu bagus kalau regenerasi berjalan. Hal ini berkorelasi antara di parpol dengan di jabatan strategis, termasuk penentuan capres,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjut dia, jika dalam melakukan regenerasi parpol tidak mempertimbangkan sinkronisasi dari jabatan struktural dan jabatan strategis publik akan terjadi anakronisme. Menurut Hajriyanto, sejak awal seharusnya terpikirkan regenerasi di parpol itu sebagai pijakan awal untuk sukses di pilpres.
Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan memaparkan bahwa secara faktual, sikap politik PAN jelas dan tegas. Pertama, bekerja keras mencapai suara dua digit di pemilu legislatif. Dan kedua, menetapkan Ketua Umum DPP PAN Hatta Rajasa sebagai capres.
“Karena semua partai harapannya tentu sama yaitu ketua umum sebagai lokomotif yang diharapkan bisa jadi capres.Target politiknya partai harus seperti itu. Tidak hanya PAN, tetapi keseluruhan partai. Dan kader yang menjadi tokoh sentral atau ketua umum juga tentunya punya kesadaran target politik untuk dicalonkan sebagai pemimpin nasional,”katanya.
Soal tokoh alternatif, lanjut dia, itu tentunya juga tidak lepas dari tahapan parpol dalam mencapai hasil di pemilu legislatif.
“Sukses elektoral di pemilu legislatif sangat menentukan. Hasil memuaskan atau sukses di pemilu tentu sangat berkorelasi dengan apa yang dicita-citakan terutama dalam menghadapi pilpres di mana di internal parpol juga sudah menyiapkan capres,” kata Taufik.
Untuk itu, lanjut dia, Hatta Rajasa selaku ketua umum dan kader yang telah ditetapkan sebagai capres selalu menekankan bekerja, bekerja, dan bekerja ketika ditanya soal pencapresannya.
“Kalau di pemilu legislatif tidak memuaskan, tidak hanya PAN, Golkar, Gerindra, atau Demokrat belum tahu siapa yang akan muncul di pilpres karena memang belum tahu bagaimana hasil pemilu legislatif. Namun sekarang, kita dalam posisi kerja keras memperjuangkan agar mendapatkan suara dua digit dan bisa memperjuangkan Pak Hatta di pilpres,”tandasnya.
Pandangan senada diungkapkan Ketua DPP PDIP Bidang Pemuda dan Olahraga Maruarar Sirait. Dia mengatakan, aspirasi kader dan struktur PDIP di semua jenjang menginginkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum menjadi capres 2014. Pertimbangannya, hanya Mega yang paling layak untuk proyeksi politik ke depan, termasuk dalam hal pencapresan.
Selain Mega mampu menjadi faktor pemersatu, kenyataannya dalam berbagai survei, elektabilitas Mega selalu yang teratas. “Tentu itu kebanggaan kami sebagai kader. Kepercayaan itu yang harus kami syukuri karena kami tentunya menginginkan kader terbaik partai bisa dicalonkan dalam pilpres,” katanya.
(kur)