Hartati dinilai ingin amankan citra SBY
Rabu, 15 Agustus 2012 - 09:30 WIB
Hartati dinilai ingin amankan citra SBY
A
A
A
Sindonews.com - Keputusan Hartati Murdaya Poo mundur dari keanggotaan Dewan Pembina Partai Demokrat dinilai untuk melindungi kepentingan politik dan citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana memandang SBY menjadi pihak yang paling diuntungkan atas keputusan mundur Hartati. Dia menjelaskan, Hartati selama ini dikenal sebagai salah satu penyokong utama SBY. Hubungan Hartati dan SBY serta keluarga Cikeas, kata Ari, sudah sangat personal.
"Nah, mundurnya Hartati sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat yang dipimpin SBY merupakan cara ‘aman’ supaya opini negatif publik atas kasus dugaan suapnya bisa dilokalisasi, tidak menjadi bola liar yang dapat merugikan SBY, apalagi (ke) keluarga Cikeas," ujar Ari kemarin.
Menurut Ari, sebenarnya sulit untuk menafikan bahwa Hartati adalah figur yang melekat pada kepentingan politik SBY. Terlebih, Presiden Direktur PT Hardaya Inti Plantation (PT HIP) dan PT Cipta Cakra Murdaya (PT CCM) itu diketahui dekat dengan SBY sebelum mantan Menkopolkam itu mengikuti Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.
Karenanya, meski yang tampak di permukaan adalah Hartati mengundurkan diri secara sukarela, hal itu sangat mungkin tidak lepas dari tekanan pihak Istana dan Cikeas.
"Kepentingan Cikeas adalah agar ‘bersih’ karena kasus Hartati juga bisa dipakai sebagai alat sandera politik oleh kekuatan faksi lain di Demokrat. SBY berkepentingan karena magnet elektoralnya masih tinggi dan bermanfaat banyak untuk Demokrat di 2014," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Hartati Murdaya memutuskan mundur dari jabatannya di PartaiDemokratsetelahKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan hak guna usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Hartati juga mundur dari keanggotaannya di Komite Ekonomi Nasional (KEN).
Dalam kasus itu, Hartati diduga menyuap Bupati Buol Amran Batalipu, senilai Rp3 miliar. Adapun Amran lebih dulu ditetapkan KPK sebagai tersangka, bahkan yang bersangkutan saat ini sudah ditahan.
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Ari Dwipayana memandang SBY menjadi pihak yang paling diuntungkan atas keputusan mundur Hartati. Dia menjelaskan, Hartati selama ini dikenal sebagai salah satu penyokong utama SBY. Hubungan Hartati dan SBY serta keluarga Cikeas, kata Ari, sudah sangat personal.
"Nah, mundurnya Hartati sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat yang dipimpin SBY merupakan cara ‘aman’ supaya opini negatif publik atas kasus dugaan suapnya bisa dilokalisasi, tidak menjadi bola liar yang dapat merugikan SBY, apalagi (ke) keluarga Cikeas," ujar Ari kemarin.
Menurut Ari, sebenarnya sulit untuk menafikan bahwa Hartati adalah figur yang melekat pada kepentingan politik SBY. Terlebih, Presiden Direktur PT Hardaya Inti Plantation (PT HIP) dan PT Cipta Cakra Murdaya (PT CCM) itu diketahui dekat dengan SBY sebelum mantan Menkopolkam itu mengikuti Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.
Karenanya, meski yang tampak di permukaan adalah Hartati mengundurkan diri secara sukarela, hal itu sangat mungkin tidak lepas dari tekanan pihak Istana dan Cikeas.
"Kepentingan Cikeas adalah agar ‘bersih’ karena kasus Hartati juga bisa dipakai sebagai alat sandera politik oleh kekuatan faksi lain di Demokrat. SBY berkepentingan karena magnet elektoralnya masih tinggi dan bermanfaat banyak untuk Demokrat di 2014," ungkapnya.
Diberitakan sebelumnya, Hartati Murdaya memutuskan mundur dari jabatannya di PartaiDemokratsetelahKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan hak guna usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Hartati juga mundur dari keanggotaannya di Komite Ekonomi Nasional (KEN).
Dalam kasus itu, Hartati diduga menyuap Bupati Buol Amran Batalipu, senilai Rp3 miliar. Adapun Amran lebih dulu ditetapkan KPK sebagai tersangka, bahkan yang bersangkutan saat ini sudah ditahan.
(san)