Demokrat incar suara pesantren
Jum'at, 10 Agustus 2012 - 09:38 WIB
Demokrat incar suara pesantren
A
A
A
Sindonews.com - Partai Demokrat terus mendekati basis pemilih untuk mempertahankan elektabilitasnya pada pemilu mendatang. Salah satunya mendekati tokoh di kalangan pesantren.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok mengatakan, pihaknya telah menjalin sinergi dengan para tokoh pesantren. Mereka menyatakan kesepahaman dengan visi partai dan berkeinginan untuk menyalurkan suaranya ke Partai Demokrat. "Suara yang signifikan itu datang dari tokoh pesantren. Saya kaget tokoh-tokoh pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur berbondong-bondong masuk Demokrat. Mereka melakukan pendekatan informal kepada Demokrat,” ungkap dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis 9 Agustus 2012.
Mubarok mengaku, mendekatnya para tokoh pesantren ke partainya merupakan keinginan pribadi. Sebelumnya Partai Demokrat bahkan tidak melakukan pendekatan khusus. Para tokoh pesantren ini juga hampir seluruhnya tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di daerahnya masing-masing.
Dia mengutarakan, manfaat yang bisa diambil jika para tokoh agama masuk parpol akan sangat besar. Para tokoh agama itu memiliki massa yang luas dan pemilih tradisional yang kental. Masuknya tokoh pesantren ini ke Demokrat karena mereka mengaku tidak memiliki pilihan partai lain.
"Mereka tidak punya pilihan. Apa coba yang bisa menarik dari partai lain? Partai Demokrat masih memiliki daya tarik. Kapal selam itu tidak akan karam. Demokrat ibarat kapal selam. Moderat juga menjadi nilai plus bagi mereka selain paham nasionalis religius. Di samping itu, daya tarik tetap Pak SBY juga masih kuat,” ungkapnya.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin tidak merasa khawatir dengan kondisi pindahnya sejumlah tokoh pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti yang diklaim Partai Demokrat.
Pihaknya masih tetap optimistis asas PPP sebagai partai berbasis Islam mampu merengkuh kembali suara tradisionalnya yakni kalangan pesantren, kiai, dan ulama. Dia mengaku pengalaman pada 2009 memberi pelajaran bagi PPP untuk bisa kembali ke basis awal partai.
"Kita ingin mengembalikan umat besar PPP agar berkumpul kembali. Semua partai akan mendekati kelompok-kelompok strategis di kalangan pesantren, kiai, dan alim ulama. Tapi secara tradisi PPP masih lebih unggul karena pemilih tradisional PPP memang mereka. Tanpa didekati, mereka sudah menjadi bagian dari historis PPP," katanya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf mengaku tidak tahu-menahu mengenai hijrahnya beberapa tokoh ulama NU ke Partai Demokrat. Namun, jika kabar itu benar, pihaknya memandang itu merupakan hak politik para ulama NU itu. Dia mengaku, PBNU tidak memiliki kepentingan untuk mengurusi para ulama yang hendak masuk partai tertentu. PBNU memberikan kebebasan kepada setiap warga NU untuk menentukan hak politiknya sebab PBNU bersikap netral kepada partai politik mana pun.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok mengatakan, pihaknya telah menjalin sinergi dengan para tokoh pesantren. Mereka menyatakan kesepahaman dengan visi partai dan berkeinginan untuk menyalurkan suaranya ke Partai Demokrat. "Suara yang signifikan itu datang dari tokoh pesantren. Saya kaget tokoh-tokoh pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur berbondong-bondong masuk Demokrat. Mereka melakukan pendekatan informal kepada Demokrat,” ungkap dia saat dihubungi di Jakarta, Kamis 9 Agustus 2012.
Mubarok mengaku, mendekatnya para tokoh pesantren ke partainya merupakan keinginan pribadi. Sebelumnya Partai Demokrat bahkan tidak melakukan pendekatan khusus. Para tokoh pesantren ini juga hampir seluruhnya tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di daerahnya masing-masing.
Dia mengutarakan, manfaat yang bisa diambil jika para tokoh agama masuk parpol akan sangat besar. Para tokoh agama itu memiliki massa yang luas dan pemilih tradisional yang kental. Masuknya tokoh pesantren ini ke Demokrat karena mereka mengaku tidak memiliki pilihan partai lain.
"Mereka tidak punya pilihan. Apa coba yang bisa menarik dari partai lain? Partai Demokrat masih memiliki daya tarik. Kapal selam itu tidak akan karam. Demokrat ibarat kapal selam. Moderat juga menjadi nilai plus bagi mereka selain paham nasionalis religius. Di samping itu, daya tarik tetap Pak SBY juga masih kuat,” ungkapnya.
Wakil Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Lukman Hakim Saifuddin tidak merasa khawatir dengan kondisi pindahnya sejumlah tokoh pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti yang diklaim Partai Demokrat.
Pihaknya masih tetap optimistis asas PPP sebagai partai berbasis Islam mampu merengkuh kembali suara tradisionalnya yakni kalangan pesantren, kiai, dan ulama. Dia mengaku pengalaman pada 2009 memberi pelajaran bagi PPP untuk bisa kembali ke basis awal partai.
"Kita ingin mengembalikan umat besar PPP agar berkumpul kembali. Semua partai akan mendekati kelompok-kelompok strategis di kalangan pesantren, kiai, dan alim ulama. Tapi secara tradisi PPP masih lebih unggul karena pemilih tradisional PPP memang mereka. Tanpa didekati, mereka sudah menjadi bagian dari historis PPP," katanya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf mengaku tidak tahu-menahu mengenai hijrahnya beberapa tokoh ulama NU ke Partai Demokrat. Namun, jika kabar itu benar, pihaknya memandang itu merupakan hak politik para ulama NU itu. Dia mengaku, PBNU tidak memiliki kepentingan untuk mengurusi para ulama yang hendak masuk partai tertentu. PBNU memberikan kebebasan kepada setiap warga NU untuk menentukan hak politiknya sebab PBNU bersikap netral kepada partai politik mana pun.
(lil)