PDIP: Klaim dukung Prabowo menyesatkan
Selasa, 24 Juli 2012 - 09:14 WIB
PDIP: Klaim dukung Prabowo menyesatkan
A
A
A
Sindonews.com - Manuver Partai Gerindra yang terus menggiring Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk berkoalisi dengan calon presiden (capres) Prabowo Subianto dinilai menyesatkan.
PDIP kembali menegaskan tidak ada komitmen untuk mendukung capres dari luar partai termasuk dari Gerindra. “Itu asumsi yang tidak benar. Tidak benar bahwa PDIP sudah memutuskan untuk mendukung capres mana pun, apalagi capres dari luar PDIP,” kata fungsionaris DPP PDIP Budiman Sudjatmiko saat dihubungi di Jakarta, Senin 23 Juli 2012.
Budiman mengatakan, PDIP sebagai partai besar sudah tentu punya semangat untuk mengajukan capres dari kader internal. Sebagai partai ideologis yang konsisten dalam kaderisasi, PDIP juga tidak kekurangan stok tokoh yang bisa diusung sebagai pemimpin nasional.
“PDIP akan seksama dalam memilih capres/cawapres. Tetapi yang jelas di PDIP tidak kekurangan kader potensial dari berbagaigenerasi,” ungkapnya.
Bantahan sama disampaikan Wakil Sekjen DPP PDIP Achmad Basarah. Menurut dia, PDIP tidak serta merta memberikan dukungan otomatis kepada Prabowo pada Pilpres 2014. PDIP memang siap bekerja sama dengan parpol mana pun dalam rangka menyukseskan Pilpres 2014.
Terutama dengan parpol yang memiliki kesamaan ideologi dan platform perjuangannya, termasuk Partai Gerindra. Namun, tolak ukur atau kriteria kerja sama itu bukan atas kesepakatan politik antara PDIP dan Gerindra pada Pilpres 2009.
“Dari informasi yang saya ketahui, memang ada kesepakatan politik antara PDIP dan Gerindra untuk mendukung Prabowo menjadi capres pada Pilpres 2014, tetapi dengan suatu syarat kondisional bahwa pasangan Mega-Prabowo menang dalam Pilpres 2009,” ungkapnya.
Menurut Basarah, oleh karena syarat kondisional itu tidak terpenuhi, kesepakatan politik untuk PDIP mendukung Prabowo secara otomatis dalam Pilpres 2014 bukan merupakan kewajiban PDIP lagi. “Bukti tidak lagi berjalan secara bersama-sama pasca Pilpres 2009 adalah tidak ada kerja sama politik yang disepakati secara spesifik antara fraksi PDIP dan Gerindra di DPR hingga saat ini,” ungkap Sekretaris Dewan Penasihat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) itu.
Sejauh ini nama Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri selalu menempati urutan teratas sebagai capres dalam berbagai survei yang mengukur elektabilitas dan popularitas figur-figur capres. Namun, Mega selaku ketua umum PDIP sampai saat ini belum menegaskan siapa yang bakal maju pada 2014.
Hasil Rakernas PDIP di Bandung tahun lalu hanya memutuskan bahwa masalah penetapan capres/cawapres PDIP diserahkan kepada Mega untuk menentukannya. Mandat yang diberikan kepada Mega itu disinyalir oleh beberapa pihak bahwa Mega sudah tidak akan maju lagi pada 2014.
Sementara kader PDIP yang namanya mulai masuk dalam bursa capres adalah Ketua DPP PDIP Bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga Puan Maharani, dan Wakil Ketua DPR yang juga mantan Sekjen PDIP Pramono Anung. Sebelumnya Ketua DPP Partai Gerindra Martin Hutabarat mengungkapkan, PDIP dan Gerindra terikat kontrak politik sejak 2009 terkait pilpres.
Namun, Gerindra tidak menutup diri ataupun terpaku pada koalisi dengan PDIP dalam menentukan pasangan cawapres pendamping Prabowo. Gerindra dapat saja meninggalkan PDIP meski kedua partai ini intim sejak 2009.
“Kita sedang menimbang semua figur untuk menjadi cawapres pendamping Pak Prabowo. Figur tersebut tidak hanya dari PDIP, tapi juga bisa dari partai mana pun,” ungkap Martin.
Dia pun mengatakan, penentuan siapa pasangan cawapres Gerindra akhirnya sangat bergantung pada keputusan Prabowo selaku ketua dewan Pembina Partai Gerindra. Namun, penentuan cawapres tersebut akan didasari kriteria yang rasional dan terukur.
“Di antaranya menyangkut elektabilitas figur serta komitmennya berjuang untuk bangsa Indonesia,” tandasnya.
PDIP kembali menegaskan tidak ada komitmen untuk mendukung capres dari luar partai termasuk dari Gerindra. “Itu asumsi yang tidak benar. Tidak benar bahwa PDIP sudah memutuskan untuk mendukung capres mana pun, apalagi capres dari luar PDIP,” kata fungsionaris DPP PDIP Budiman Sudjatmiko saat dihubungi di Jakarta, Senin 23 Juli 2012.
Budiman mengatakan, PDIP sebagai partai besar sudah tentu punya semangat untuk mengajukan capres dari kader internal. Sebagai partai ideologis yang konsisten dalam kaderisasi, PDIP juga tidak kekurangan stok tokoh yang bisa diusung sebagai pemimpin nasional.
“PDIP akan seksama dalam memilih capres/cawapres. Tetapi yang jelas di PDIP tidak kekurangan kader potensial dari berbagaigenerasi,” ungkapnya.
Bantahan sama disampaikan Wakil Sekjen DPP PDIP Achmad Basarah. Menurut dia, PDIP tidak serta merta memberikan dukungan otomatis kepada Prabowo pada Pilpres 2014. PDIP memang siap bekerja sama dengan parpol mana pun dalam rangka menyukseskan Pilpres 2014.
Terutama dengan parpol yang memiliki kesamaan ideologi dan platform perjuangannya, termasuk Partai Gerindra. Namun, tolak ukur atau kriteria kerja sama itu bukan atas kesepakatan politik antara PDIP dan Gerindra pada Pilpres 2009.
“Dari informasi yang saya ketahui, memang ada kesepakatan politik antara PDIP dan Gerindra untuk mendukung Prabowo menjadi capres pada Pilpres 2014, tetapi dengan suatu syarat kondisional bahwa pasangan Mega-Prabowo menang dalam Pilpres 2009,” ungkapnya.
Menurut Basarah, oleh karena syarat kondisional itu tidak terpenuhi, kesepakatan politik untuk PDIP mendukung Prabowo secara otomatis dalam Pilpres 2014 bukan merupakan kewajiban PDIP lagi. “Bukti tidak lagi berjalan secara bersama-sama pasca Pilpres 2009 adalah tidak ada kerja sama politik yang disepakati secara spesifik antara fraksi PDIP dan Gerindra di DPR hingga saat ini,” ungkap Sekretaris Dewan Penasihat Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) itu.
Sejauh ini nama Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri selalu menempati urutan teratas sebagai capres dalam berbagai survei yang mengukur elektabilitas dan popularitas figur-figur capres. Namun, Mega selaku ketua umum PDIP sampai saat ini belum menegaskan siapa yang bakal maju pada 2014.
Hasil Rakernas PDIP di Bandung tahun lalu hanya memutuskan bahwa masalah penetapan capres/cawapres PDIP diserahkan kepada Mega untuk menentukannya. Mandat yang diberikan kepada Mega itu disinyalir oleh beberapa pihak bahwa Mega sudah tidak akan maju lagi pada 2014.
Sementara kader PDIP yang namanya mulai masuk dalam bursa capres adalah Ketua DPP PDIP Bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga Puan Maharani, dan Wakil Ketua DPR yang juga mantan Sekjen PDIP Pramono Anung. Sebelumnya Ketua DPP Partai Gerindra Martin Hutabarat mengungkapkan, PDIP dan Gerindra terikat kontrak politik sejak 2009 terkait pilpres.
Namun, Gerindra tidak menutup diri ataupun terpaku pada koalisi dengan PDIP dalam menentukan pasangan cawapres pendamping Prabowo. Gerindra dapat saja meninggalkan PDIP meski kedua partai ini intim sejak 2009.
“Kita sedang menimbang semua figur untuk menjadi cawapres pendamping Pak Prabowo. Figur tersebut tidak hanya dari PDIP, tapi juga bisa dari partai mana pun,” ungkap Martin.
Dia pun mengatakan, penentuan siapa pasangan cawapres Gerindra akhirnya sangat bergantung pada keputusan Prabowo selaku ketua dewan Pembina Partai Gerindra. Namun, penentuan cawapres tersebut akan didasari kriteria yang rasional dan terukur.
“Di antaranya menyangkut elektabilitas figur serta komitmennya berjuang untuk bangsa Indonesia,” tandasnya.
(lil)