JK: Jangan batasi usia capres
Minggu, 22 Juli 2012 - 09:33 WIB
JK: Jangan batasi usia capres
A
A
A
Sindonews.com – Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai umur dan kesehatan bukan menjadi penghalang seseorang untuk maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.
“Pilpres bukan melalui proses pengaderan, tetapi bagaimana seseorang mampu memimpin negeri ini dengan baik. Presiden itu hanya satu, beda dengan menteri,” tegas JK seusai melaksanakan salat tarawih di Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, Sabtu 21 Juli 2012.
JK melanjutkan, banyak pemimpin yang sudah berumur 70 tahun tetapi dia mampu memimpin, melindungi, serta mengayomi warganya dengan baik. Ucapan yang dilontarkan JK itu berkaitan dengan sindiran politikus senior PDIP yang juga Ketua MPR Taufiq Kiemas mengenai regenerasi kepemimpinan nasional.
Taufiq terus menyuarakan agar tokoh-tokoh nasional yang sudah senior dan sudah berusia senja tak lagi maju menjadi calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres) pada 2014, dan menjadi king maker saja. Pada 2014 mendatang, Taufiq Kiemas dan JK sama-sama berusia 72 tahun.
“Kalau saya seumuran gitu ga mau (jadi capres). Itu kalau saya lho, kita kan tidak bisa menahan seseorang kalau mau jadi capres,” tutur Taufiq.
Menanggapi sindiran tersebut, JK sempat menantang Taufiq Kiemas apakah mampu berjalan 10 km di usianya yang memasuki 70 tahun saat ini.
Di tempat terpisah, Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta memandang JK masih pantas dan layak maju di Pilpres 2014. Menurut Anis, selain kesehatannya prima, JK memiliki strategi berpolitik yang baik serta kepemimpinan yang bagus. Popularitasnya pun relatif tinggi.
“Tentu bagus sekali bila JK masih muncul pada 2014 nanti. Umur bukanlah penghalang lahirnya regenerasi. Saya sangat mendukung regenerasi, tapi umur bukan ukuran. Kita harus memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk maju pilpres," tandasnya.
Dia juga mengatakan, saat ini peluang bagi para tokoh dan figur untuk menjadi capres atau cawapres seharusnya dibuka selebar mungkin agar masyarakat pun memiliki pilihan lebih banyak. Nantinya, secara alamiah pilihan masyarakat akan mengerucut pada tokoh yang dinilai paling baik. “Harus ada pula insentif politisi agar partai lain tidak perlu berkoalisi untuk mengusung capres,” tegas Anis.
“Pilpres bukan melalui proses pengaderan, tetapi bagaimana seseorang mampu memimpin negeri ini dengan baik. Presiden itu hanya satu, beda dengan menteri,” tegas JK seusai melaksanakan salat tarawih di Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, Sabtu 21 Juli 2012.
JK melanjutkan, banyak pemimpin yang sudah berumur 70 tahun tetapi dia mampu memimpin, melindungi, serta mengayomi warganya dengan baik. Ucapan yang dilontarkan JK itu berkaitan dengan sindiran politikus senior PDIP yang juga Ketua MPR Taufiq Kiemas mengenai regenerasi kepemimpinan nasional.
Taufiq terus menyuarakan agar tokoh-tokoh nasional yang sudah senior dan sudah berusia senja tak lagi maju menjadi calon presiden (capres) atau calon wakil presiden (cawapres) pada 2014, dan menjadi king maker saja. Pada 2014 mendatang, Taufiq Kiemas dan JK sama-sama berusia 72 tahun.
“Kalau saya seumuran gitu ga mau (jadi capres). Itu kalau saya lho, kita kan tidak bisa menahan seseorang kalau mau jadi capres,” tutur Taufiq.
Menanggapi sindiran tersebut, JK sempat menantang Taufiq Kiemas apakah mampu berjalan 10 km di usianya yang memasuki 70 tahun saat ini.
Di tempat terpisah, Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta memandang JK masih pantas dan layak maju di Pilpres 2014. Menurut Anis, selain kesehatannya prima, JK memiliki strategi berpolitik yang baik serta kepemimpinan yang bagus. Popularitasnya pun relatif tinggi.
“Tentu bagus sekali bila JK masih muncul pada 2014 nanti. Umur bukanlah penghalang lahirnya regenerasi. Saya sangat mendukung regenerasi, tapi umur bukan ukuran. Kita harus memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk maju pilpres," tandasnya.
Dia juga mengatakan, saat ini peluang bagi para tokoh dan figur untuk menjadi capres atau cawapres seharusnya dibuka selebar mungkin agar masyarakat pun memiliki pilihan lebih banyak. Nantinya, secara alamiah pilihan masyarakat akan mengerucut pada tokoh yang dinilai paling baik. “Harus ada pula insentif politisi agar partai lain tidak perlu berkoalisi untuk mengusung capres,” tegas Anis.
(lil)