Regenerasi capres hanya retorika
Kamis, 19 Juli 2012 - 08:17 WIB
Regenerasi capres hanya retorika
A
A
A
Sindonews.com - Wacana regenerasi kepemimpinan nasional terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dinilai sekadar retorika. Sejumlah pengamat menduga ada kepentingan politik tertentu di balik wacana tersebut.
"Pada kenyataannya, regenerasi capres (calon presiden) yang disampaikan oleh tokoh atau elite politik senior sebatas obral janji. Saya yakin ada tujuan-tujuan terselubung di belakangnya," ucap peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi, kemarin.
Kristiadi menjelaskan, para pemimpin dan elite politik senior sebenarnya baru bisa dikatakan hebat apabila secara sungguh-sungguh menyiapkan calon pemimpin penerus bagi bangsa. Dalam istilah Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas yang kerap menyuarakan regenerasi, pemimpin senior idealnya menjadi king maker.
Menurut Kristiadi, para politikus senior yang merasa sudah sepuh semestinya tidak perlu obral janji tentang regenerasi, namun sama sekali tidak membuktikan kerja nyata dalam mengusung capres alternatif dari kalangan muda.
"Kalau yang ada hanya ucapan, ini namanya mantra atau gunaguna politik. Ucapannya regenerasi, tapi targetnya hanya jegal-menjegal dan seterusnya," tandasnya.
Kristiadi tidak menampik kemungkinan bahwa regenerasi kepemimpinan nasional yang disuarakan tokoh sekaliber Taufiq Kiemas juga bagian dari retorika politik tersebut. Misalnya untuk menghadang langkah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) maju dalam Pilpres 2014.
Selama ini publik hanya melihat bahwa Taufiq Kiemas sering menyuarakan regenerasi sekadar untuk mengingatkan istrinya, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, agar tak lagi menjadi capres.
"Makanya saya katakan, sebenarnya praktikkan saja regenerasi itu. Tak perlu mengobral opini dulu sebab pemimpin yang baik tentu harus menyiapkan regenerasi secara otomatis. Bukan pura-pura menyiapkan regenerasi," pungkas Kristiadi.
Sementara itu, pengamat politik dari The Indonesian Institute Hanta Yuda mengatakan, peluang munculnya capres alternatif dari kalangan pemuda sebenarnya sangat besar karena hingga saat ini belum ada capres yang memiliki elektabilitas tinggi.
"Bahkan masih ada lebih dari 50% pemilih yang belum mantap menentukan pilihannya. Nama-nama lama dan senior yang ditawarkan parpol juga belum kuat secara elektabilitas. Baik Megawati, Aburizal Bakrie (ketua umum DPP Partai Golkar), maupun Prabowo Subianto (ketua Dewan Pembina Partai Gerindra) belum benar-benar diminati masyarakat," ungkapnya.
Hanta juga menegaskan bahwa partai harus berani menggelar konvensi capres2014 yang terbuka dan demokratis. Cara ini sangat strategis dan menguntungkan bagi parpol, terutama jika mau berkaca pada Pilkada DKI putaran pertama.
"Ada pelajaran penting dari putaran pertama Pilkada DKI menuju Pemilu 2014, yakni ada pesan perubahan yang cukup kencang," ungkapnya.
Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti berpendapat, regenerasi kepemimpinan sebatas retorika politik para elite tertentu. Pada kenyataannya, para elite belum rela posisinya digantikan oleh generasi muda yang sebenarnya jauh lebih siap, lebih kompeten, dan lebih energik.
Jika sikap elite politik masih tetap seperti ini, bukan tidak mungkin para generasi muda akan melakukan aksi perebutan kepemimpinan dengan cara-cara anak muda.
"Dalam titik tertentu, bisa jadi para politisi dan aktivis politik muda merebut kekuasaan dari elite tua yang dianggap tidak sejalan dengan cita-cita perjuangan reformasi. Indonesia punya sejarah bahwa setiap perubahan politik bangsa selalu dimotori anak muda. Ini semua terjadi karena elite politik senior terlalu asyik tanpa memikirkan regenerasi yang sehat," paparnya.
Di tempat terpisah, politikus Partai Golkar Agusman Effendy mengatakan, sangat tidak tepat apabila masalah regenerasi ini dijadikan isu politik dengan tujuan politis pula.
"Semoga mereka yang menyuarakan regenerasi kepemimpinan nasional bukan bermaksud menjegal langkah pencapresan Pak JK atau Bang Ical (Aburizal Bakrie)," ungkapnya.
"Pada kenyataannya, regenerasi capres (calon presiden) yang disampaikan oleh tokoh atau elite politik senior sebatas obral janji. Saya yakin ada tujuan-tujuan terselubung di belakangnya," ucap peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi, kemarin.
Kristiadi menjelaskan, para pemimpin dan elite politik senior sebenarnya baru bisa dikatakan hebat apabila secara sungguh-sungguh menyiapkan calon pemimpin penerus bagi bangsa. Dalam istilah Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas yang kerap menyuarakan regenerasi, pemimpin senior idealnya menjadi king maker.
Menurut Kristiadi, para politikus senior yang merasa sudah sepuh semestinya tidak perlu obral janji tentang regenerasi, namun sama sekali tidak membuktikan kerja nyata dalam mengusung capres alternatif dari kalangan muda.
"Kalau yang ada hanya ucapan, ini namanya mantra atau gunaguna politik. Ucapannya regenerasi, tapi targetnya hanya jegal-menjegal dan seterusnya," tandasnya.
Kristiadi tidak menampik kemungkinan bahwa regenerasi kepemimpinan nasional yang disuarakan tokoh sekaliber Taufiq Kiemas juga bagian dari retorika politik tersebut. Misalnya untuk menghadang langkah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) maju dalam Pilpres 2014.
Selama ini publik hanya melihat bahwa Taufiq Kiemas sering menyuarakan regenerasi sekadar untuk mengingatkan istrinya, Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, agar tak lagi menjadi capres.
"Makanya saya katakan, sebenarnya praktikkan saja regenerasi itu. Tak perlu mengobral opini dulu sebab pemimpin yang baik tentu harus menyiapkan regenerasi secara otomatis. Bukan pura-pura menyiapkan regenerasi," pungkas Kristiadi.
Sementara itu, pengamat politik dari The Indonesian Institute Hanta Yuda mengatakan, peluang munculnya capres alternatif dari kalangan pemuda sebenarnya sangat besar karena hingga saat ini belum ada capres yang memiliki elektabilitas tinggi.
"Bahkan masih ada lebih dari 50% pemilih yang belum mantap menentukan pilihannya. Nama-nama lama dan senior yang ditawarkan parpol juga belum kuat secara elektabilitas. Baik Megawati, Aburizal Bakrie (ketua umum DPP Partai Golkar), maupun Prabowo Subianto (ketua Dewan Pembina Partai Gerindra) belum benar-benar diminati masyarakat," ungkapnya.
Hanta juga menegaskan bahwa partai harus berani menggelar konvensi capres2014 yang terbuka dan demokratis. Cara ini sangat strategis dan menguntungkan bagi parpol, terutama jika mau berkaca pada Pilkada DKI putaran pertama.
"Ada pelajaran penting dari putaran pertama Pilkada DKI menuju Pemilu 2014, yakni ada pesan perubahan yang cukup kencang," ungkapnya.
Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti berpendapat, regenerasi kepemimpinan sebatas retorika politik para elite tertentu. Pada kenyataannya, para elite belum rela posisinya digantikan oleh generasi muda yang sebenarnya jauh lebih siap, lebih kompeten, dan lebih energik.
Jika sikap elite politik masih tetap seperti ini, bukan tidak mungkin para generasi muda akan melakukan aksi perebutan kepemimpinan dengan cara-cara anak muda.
"Dalam titik tertentu, bisa jadi para politisi dan aktivis politik muda merebut kekuasaan dari elite tua yang dianggap tidak sejalan dengan cita-cita perjuangan reformasi. Indonesia punya sejarah bahwa setiap perubahan politik bangsa selalu dimotori anak muda. Ini semua terjadi karena elite politik senior terlalu asyik tanpa memikirkan regenerasi yang sehat," paparnya.
Di tempat terpisah, politikus Partai Golkar Agusman Effendy mengatakan, sangat tidak tepat apabila masalah regenerasi ini dijadikan isu politik dengan tujuan politis pula.
"Semoga mereka yang menyuarakan regenerasi kepemimpinan nasional bukan bermaksud menjegal langkah pencapresan Pak JK atau Bang Ical (Aburizal Bakrie)," ungkapnya.
(san)