Pemilu 2014 ajang pertarungan figur
Selasa, 17 Juli 2012 - 08:11 WIB
Pemilu 2014 ajang pertarungan figur
A
A
A
Sindonews.com - Partai-partai politik menyiapkan strategi pemenangan khusus untuk Pemilu 2014 yang berbasis pada kekuatan figur.
"Kami sekarang ini sedang mempelajari fenomena figur. Fenomena Pilkada DKI yang menarik adalah Jokowi sebagai tokoh daerah muncul dan memenangkan putaran pertama. Tren semacam ini perlu dikaji mendalam sebagai peralihan pilihan rakyat terhadap aliran parpol ke figur," kata Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, sebenarnya fenomena figur sebagaimana halnya Jokowi ini sudah terlihat pada Pemilu 2004 lalu. Saat itu, kata dia, masyarakat sudah melihat transisi politik aliran ke politik figur. Apalagi, pada 2009 pertarungannya melalui mekanisme suara terbanyak sehingga kefiguran calon sangat menentukan.
"Fenomena Jokowi menjadi analisis PAN. Ini untuk pileg dan pilpres, ini menjadi realitas yang harus dicermati," ujarnya.
Dengan semakin cairnya pemilih dan menguatnya faktor figur itu, lanjut dia, maka PAN khususnya tidak hanya melihat hasil survei sebagai bahan evaluasi. Apalagi, pengarus faktor figur nyata-nyata bisa membuat prediksi lembaga survei meleset dalam waktu yang begitu cepat.
"Jadi, strategi nanti tidak semata-mata opini masyarakat bisa digiringgiring oleh lembaga survei. Apalagi, kami punya prinsip bahwa survei yang paling tepat, ya survei yang dilakukan oleh internal parpol," jelasnya.
Menurut dia, terlepas dari berapa persen suara yang diperoleh PAN dalam survei-survei belakangan ini, strategi pencalegan dan penempatan figur yang tepat akan menjadi pertimbangan utama karena di situlah realitas pertarungan pada 2014 nanti. Pandangan senada disampaikan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Melani Leimena Suharli.
Menurut dia, elektabilitas parpol yang dipotret oleh lembaga survei saat ini belum tentu berbanding lurus dengan hasil pada 2014 nanti.
Jika parpol tertentu salah dalam penempatan dan pemilihan figur sebagai caleg, bukan tidak mungkin hasilnya berkebalikan dari hasil survei. Hal itu juga akan berpengaruh bagaimana parpol menetapkan figurnya yang akan diusung menjadi capres-cawapres. Itu semua, akan sangat memengaruhi tingkat kepercayaan dan elektabilitas partai.
"Karena sekarang trennya orang tidak melihat partainya, tapi orangnya," katanya.
Kalau publik masih melihat partai sebagai pertimbangan pilihan, kata dia, tentu suara pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli tidak sampai sebesar itu, karena dalam survei suara Demokrat dikatakan menurun.
Hal sama juga terjadi di pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono. Jika pemilih pertimbangannya partai, suaranya juga pasti akan signifikan karena Golkar dalam berbagai survei selalu nomor satu.
"Karena itu, figur akan jadi pertimbangan di penetapan caleg, apalagi pencapresan. Sekarang kan dengan suara terbanyak partai hanya jadi mekanisme pencalonan, tetapi orangnya bagaimana itu yang menentukan," ujar Wakil Ketua MPR itu.
Wakil Sekjen DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)) Achmad Basarah mengakui masalah figur sangat krusial dalam demokrasi yang menggunakan sistem pemilihan langsung. Meski begitu, kata dia, PDIP tidak mau terjebak hanya mengandalkan faktor kefiguran dalam melakukan perekrutan caleg.
"Pilihan politik PDIP sebagai partai ideologis tentu akan menempatkan ideologi sebagai kriteria utama dalam melakukan seleksi," katanya.
Sementara masalah figur, kata dia, dari sistem kaderisasi PDIP juga sudah membuktikan punya kesinambungan sehingga tidak akan mengalami kesulitan. Artinya, figur caleg dipastikan yang sudah lolos tahapan seleksi.
"Kami sekarang ini sedang mempelajari fenomena figur. Fenomena Pilkada DKI yang menarik adalah Jokowi sebagai tokoh daerah muncul dan memenangkan putaran pertama. Tren semacam ini perlu dikaji mendalam sebagai peralihan pilihan rakyat terhadap aliran parpol ke figur," kata Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, sebenarnya fenomena figur sebagaimana halnya Jokowi ini sudah terlihat pada Pemilu 2004 lalu. Saat itu, kata dia, masyarakat sudah melihat transisi politik aliran ke politik figur. Apalagi, pada 2009 pertarungannya melalui mekanisme suara terbanyak sehingga kefiguran calon sangat menentukan.
"Fenomena Jokowi menjadi analisis PAN. Ini untuk pileg dan pilpres, ini menjadi realitas yang harus dicermati," ujarnya.
Dengan semakin cairnya pemilih dan menguatnya faktor figur itu, lanjut dia, maka PAN khususnya tidak hanya melihat hasil survei sebagai bahan evaluasi. Apalagi, pengarus faktor figur nyata-nyata bisa membuat prediksi lembaga survei meleset dalam waktu yang begitu cepat.
"Jadi, strategi nanti tidak semata-mata opini masyarakat bisa digiringgiring oleh lembaga survei. Apalagi, kami punya prinsip bahwa survei yang paling tepat, ya survei yang dilakukan oleh internal parpol," jelasnya.
Menurut dia, terlepas dari berapa persen suara yang diperoleh PAN dalam survei-survei belakangan ini, strategi pencalegan dan penempatan figur yang tepat akan menjadi pertimbangan utama karena di situlah realitas pertarungan pada 2014 nanti. Pandangan senada disampaikan anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Melani Leimena Suharli.
Menurut dia, elektabilitas parpol yang dipotret oleh lembaga survei saat ini belum tentu berbanding lurus dengan hasil pada 2014 nanti.
Jika parpol tertentu salah dalam penempatan dan pemilihan figur sebagai caleg, bukan tidak mungkin hasilnya berkebalikan dari hasil survei. Hal itu juga akan berpengaruh bagaimana parpol menetapkan figurnya yang akan diusung menjadi capres-cawapres. Itu semua, akan sangat memengaruhi tingkat kepercayaan dan elektabilitas partai.
"Karena sekarang trennya orang tidak melihat partainya, tapi orangnya," katanya.
Kalau publik masih melihat partai sebagai pertimbangan pilihan, kata dia, tentu suara pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli tidak sampai sebesar itu, karena dalam survei suara Demokrat dikatakan menurun.
Hal sama juga terjadi di pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono. Jika pemilih pertimbangannya partai, suaranya juga pasti akan signifikan karena Golkar dalam berbagai survei selalu nomor satu.
"Karena itu, figur akan jadi pertimbangan di penetapan caleg, apalagi pencapresan. Sekarang kan dengan suara terbanyak partai hanya jadi mekanisme pencalonan, tetapi orangnya bagaimana itu yang menentukan," ujar Wakil Ketua MPR itu.
Wakil Sekjen DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)) Achmad Basarah mengakui masalah figur sangat krusial dalam demokrasi yang menggunakan sistem pemilihan langsung. Meski begitu, kata dia, PDIP tidak mau terjebak hanya mengandalkan faktor kefiguran dalam melakukan perekrutan caleg.
"Pilihan politik PDIP sebagai partai ideologis tentu akan menempatkan ideologi sebagai kriteria utama dalam melakukan seleksi," katanya.
Sementara masalah figur, kata dia, dari sistem kaderisasi PDIP juga sudah membuktikan punya kesinambungan sehingga tidak akan mengalami kesulitan. Artinya, figur caleg dipastikan yang sudah lolos tahapan seleksi.
(san)