Karakter pemilih masih emosional
Senin, 16 Juli 2012 - 09:02 WIB
Karakter pemilih masih emosional
A
A
A
Sindonews.com - Karakter pemilih dalam Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden 2014 mendatang diprediksi masih didominasi pemilih emosional.
Peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Toto Izul Fatah menyatakan, dengan mayoritas pemilih yang masih emosional ini, tingkat kesukaan masyarakat terhadap calon tetap menjadi penentu.
Soal visimisi, kata dia, memang tetap akan dilihat, tetapi pada akhirnya yang akan memenangi pilpres adalah tokoh yang disukai publik.
”Nah, melihat karakter pemilih yang masih emosional itu, figur alternatif seperti Joko Widodo/ Jokowi (Wali Kota Solo yang memenangi Pilkada DKI Jakarta putaran pertama) dan Dahlan Iskan (Menteri BUMN) punya potensi untuk disukai mayoritas publik,” kata Toto di Jakarta kemarin.
Dia mengakui saat ini masih susah untuk melihat bobot peluang figur alternatif karena waktu pemilu masih relatif lama. Namun, munculnya figur alternatif atau figur yang bukan pimpinan parpol masih sangat mungkin mengingat PDIP dan Partai Demokrat belum memutuskan capres.
CEO Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Grace Natalie mengemukakan, calon yang berpotensi mendapatkan dukungan dari publik bisa jadi bukan orang partai atau setidaknya bukan tokoh sentral. Itu karena kriteria pemimpin yang diharapkan publik adalah yang dapat dipercaya.
Dia mengacu pada hasil survei yang dirilis pekan lalu di mana 60 persen responden memilih kriteria pemimpin berdasarkan kepercayaan. Namun, lanjut Grace, figur alternatif tidak mungkin mendapatkan respons publik jika tidak diberi ruang oleh media.
Peneliti senior Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Toto Izul Fatah menyatakan, dengan mayoritas pemilih yang masih emosional ini, tingkat kesukaan masyarakat terhadap calon tetap menjadi penentu.
Soal visimisi, kata dia, memang tetap akan dilihat, tetapi pada akhirnya yang akan memenangi pilpres adalah tokoh yang disukai publik.
”Nah, melihat karakter pemilih yang masih emosional itu, figur alternatif seperti Joko Widodo/ Jokowi (Wali Kota Solo yang memenangi Pilkada DKI Jakarta putaran pertama) dan Dahlan Iskan (Menteri BUMN) punya potensi untuk disukai mayoritas publik,” kata Toto di Jakarta kemarin.
Dia mengakui saat ini masih susah untuk melihat bobot peluang figur alternatif karena waktu pemilu masih relatif lama. Namun, munculnya figur alternatif atau figur yang bukan pimpinan parpol masih sangat mungkin mengingat PDIP dan Partai Demokrat belum memutuskan capres.
CEO Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Grace Natalie mengemukakan, calon yang berpotensi mendapatkan dukungan dari publik bisa jadi bukan orang partai atau setidaknya bukan tokoh sentral. Itu karena kriteria pemimpin yang diharapkan publik adalah yang dapat dipercaya.
Dia mengacu pada hasil survei yang dirilis pekan lalu di mana 60 persen responden memilih kriteria pemimpin berdasarkan kepercayaan. Namun, lanjut Grace, figur alternatif tidak mungkin mendapatkan respons publik jika tidak diberi ruang oleh media.
(lns)