Maraknya perjokian
Senin, 16 Juli 2012 - 08:15 WIB
Maraknya perjokian
A
A
A
Dunia pendidikan kita ternodai dengan terungkapnya joki dalam ujian masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) kelas internasional di Fakultas Kedokteran beberapa waktu lalu.
Fenomena ini sangat memalukan kita semua. Apalagi kasus perjokian kini sudah sangat sistematis dan profesional. Kenyataan ini tak bisa dipandang sebelah mata.
Temuan ini benar-benar memprihatinkan generasi muda kita sekarang ini. Tidak bisa dibayangkan bagaimana masa depan mereka jika awalnya sudah melakukan kecurangan seperti itu.
Dunia perjokian sebenarnya sudah ada sejak dulu. Hampir setiap tahun kita mendengar fenomena joki terutama saat masuk perguruan tinggi.
Maraknya perjokian ini disebabkan sejumlah faktor. Pertama, tidak ada hukuman tegas baik bagi joki yang tertangkap maupun siswa yang menyewanya. Hukuman yang tidak tegas tidak akan memberikan efek jera bagi pelakunya.
Hal ini bahkan bisa memberikan inspirasi bagi munculnya joki-joki baru. Dengan imbalan bayaran yang tinggi, mereka tetap akan ambil risiko untuk menjadi joki.
Kedua, besarnya pasar bagi joki. Hal ini terkait dengan masih tingginya permintaan dari masyarakat akan keberadaan joki.
Dengan kata lain, joki seperti dipelihara tetap eksis karena dinilai saling ‘’memberi keuntungan’’ bagi yang memerlukannya. Karena itu, selama permintaan dari masyarakat masih ada, joki tetap akan ada.
Ketiga, terkait belum tumbuhnya rasa malu di sebagian kalangan masyarakat terkait fenomena joki ini. Mereka pun rela melakukan segala cara asalkan dapat masuk universitas yang diinginkannya.
Di sini sebenarnya peran orang tua sangat vital sebab tanpa dukungan mereka sangat mustahil dunia perjokian bisa berlangsung. Apakah para siswa bisa membayar para joki hingga Rp100 juta? Tentu hal itu sangat sulit dilakukan tanpa dukungan finansial dari orang tuanya.
Karena itu, peran orang tua sangat sentral dalam masalah ini, terutama untuk membina anaknya agar mengajarkan kejujuran. Keberhasilan anak di masa depan tak hanya ditentukan di mana dia berkuliah, tapi juga bagaimana anak diajarkan norma-norma yang baik sebagai bekal hidupnya nanti di masyarakat.
Terkait temuan praktik joki di UGM tersebut, aparat harus menyeret para pelakunya ke pengadilan. Kalau perlu siswa yang menyewa juga harus dimintai pertanggungjawabannya secara hukum.
Hal itu penting agar kasus-kasus serupa tidak terulang lagi di masa mendatang. Selain itu juga bisa memberikan efek jera bagi siswa yang lain untuk tidak sekalipun mencoba menyewa jasa joki saat akan mengikuti ujian masuk universitas karena hukumannya sangat tegas.
Kalau hukum bisa dijalankan secara baik, percaloan pasti hilang dengan sendirinya.
Bagaimanapun maraknya joki ujian masuk universitas ini sangat memengaruhi kualitas pendidikan sarjana kita.Padahal pendidikan merupakan salah satu, kalau tidak bisa dikatakan satu-satunya, upaya untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dan disegani bangsa lain.
Karena itu, pendidikan harus dijaga kualitasnya. Pemerintah sebagai pemegang regulasi harus mampu menciptakan kondisi dunia pendidikan ini bagi terciptanya generasi muda yang berkarakter baik, terampil, mumpuni, dan siap kerja.
Banyaknya pengangguran di tingkat sarjana salah satunya disebabkan oleh masih kurangnya kualitas dan kesiapan para lulusannya. Ini menjadi catatan penting bagi kita bahwa kualitas pendidikan tidak selalu bisa dibeli dengan uang.
Integritas yang tinggi sangat penting untuk membentuk karakter generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.
Negara ini memerlukan generasi muda yang tidak saja cerdas dan terampil, tapi juga memiliki komitmen untuk terus berjuang bagi masa depan kemajuan bangsa ini.
Kaum muda yang dari awal dididik jujur dan memiliki etos kerja yang tinggi akan menghindarkan munculnya generasi penerus yang koruptif.(*)
Fenomena ini sangat memalukan kita semua. Apalagi kasus perjokian kini sudah sangat sistematis dan profesional. Kenyataan ini tak bisa dipandang sebelah mata.
Temuan ini benar-benar memprihatinkan generasi muda kita sekarang ini. Tidak bisa dibayangkan bagaimana masa depan mereka jika awalnya sudah melakukan kecurangan seperti itu.
Dunia perjokian sebenarnya sudah ada sejak dulu. Hampir setiap tahun kita mendengar fenomena joki terutama saat masuk perguruan tinggi.
Maraknya perjokian ini disebabkan sejumlah faktor. Pertama, tidak ada hukuman tegas baik bagi joki yang tertangkap maupun siswa yang menyewanya. Hukuman yang tidak tegas tidak akan memberikan efek jera bagi pelakunya.
Hal ini bahkan bisa memberikan inspirasi bagi munculnya joki-joki baru. Dengan imbalan bayaran yang tinggi, mereka tetap akan ambil risiko untuk menjadi joki.
Kedua, besarnya pasar bagi joki. Hal ini terkait dengan masih tingginya permintaan dari masyarakat akan keberadaan joki.
Dengan kata lain, joki seperti dipelihara tetap eksis karena dinilai saling ‘’memberi keuntungan’’ bagi yang memerlukannya. Karena itu, selama permintaan dari masyarakat masih ada, joki tetap akan ada.
Ketiga, terkait belum tumbuhnya rasa malu di sebagian kalangan masyarakat terkait fenomena joki ini. Mereka pun rela melakukan segala cara asalkan dapat masuk universitas yang diinginkannya.
Di sini sebenarnya peran orang tua sangat vital sebab tanpa dukungan mereka sangat mustahil dunia perjokian bisa berlangsung. Apakah para siswa bisa membayar para joki hingga Rp100 juta? Tentu hal itu sangat sulit dilakukan tanpa dukungan finansial dari orang tuanya.
Karena itu, peran orang tua sangat sentral dalam masalah ini, terutama untuk membina anaknya agar mengajarkan kejujuran. Keberhasilan anak di masa depan tak hanya ditentukan di mana dia berkuliah, tapi juga bagaimana anak diajarkan norma-norma yang baik sebagai bekal hidupnya nanti di masyarakat.
Terkait temuan praktik joki di UGM tersebut, aparat harus menyeret para pelakunya ke pengadilan. Kalau perlu siswa yang menyewa juga harus dimintai pertanggungjawabannya secara hukum.
Hal itu penting agar kasus-kasus serupa tidak terulang lagi di masa mendatang. Selain itu juga bisa memberikan efek jera bagi siswa yang lain untuk tidak sekalipun mencoba menyewa jasa joki saat akan mengikuti ujian masuk universitas karena hukumannya sangat tegas.
Kalau hukum bisa dijalankan secara baik, percaloan pasti hilang dengan sendirinya.
Bagaimanapun maraknya joki ujian masuk universitas ini sangat memengaruhi kualitas pendidikan sarjana kita.Padahal pendidikan merupakan salah satu, kalau tidak bisa dikatakan satu-satunya, upaya untuk membangun Indonesia menjadi bangsa yang mandiri dan disegani bangsa lain.
Karena itu, pendidikan harus dijaga kualitasnya. Pemerintah sebagai pemegang regulasi harus mampu menciptakan kondisi dunia pendidikan ini bagi terciptanya generasi muda yang berkarakter baik, terampil, mumpuni, dan siap kerja.
Banyaknya pengangguran di tingkat sarjana salah satunya disebabkan oleh masih kurangnya kualitas dan kesiapan para lulusannya. Ini menjadi catatan penting bagi kita bahwa kualitas pendidikan tidak selalu bisa dibeli dengan uang.
Integritas yang tinggi sangat penting untuk membentuk karakter generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa.
Negara ini memerlukan generasi muda yang tidak saja cerdas dan terampil, tapi juga memiliki komitmen untuk terus berjuang bagi masa depan kemajuan bangsa ini.
Kaum muda yang dari awal dididik jujur dan memiliki etos kerja yang tinggi akan menghindarkan munculnya generasi penerus yang koruptif.(*)
(lns)