Hari ini kita tentukan arah Jakarta
Rabu, 11 Juli 2012 - 09:29 WIB
Hari ini kita tentukan arah Jakarta
A
A
A
Sindonews.com - Hari ini penduduk Jakarta akan berbondong-bondong ke 15.059 tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di antero Provinsi DKI Jakarta. Ada 6.983.692 pemilik hak pilih yang akan menentukan pemimpin macam apa yang dipercaya memimpin Ibu Kota lima tahun ke depan hingga tahun 2017.
Semangat pemilih jelas dirasakan belakangan ini.Keinginan untuk berubah tecermin pada wajah-wajah penduduk Ibu Kota saat diwawancarai media massa.Umumnya masyarakat sudah muak dengan kemacetan, kekumuhan, ketidakteraturan,dan banyak hal negatif lainnya. Mereka berharap pemilihan kepala daerah(pilkada) kali ini membawa perbaikan yang diharapkan banyak orang. Tak jarang orang mengatakan pilkada di DKI Jakarta ini menjadi barometer seperti apa kiranya Pemilu 2014 dan juga wajah masa depan Indonesia.
Pandangan tersebut tak salah karena memang DKI Jakarta adalah kota yang dari banyak sisi unggul dibandingkan provinsi-provinsi dan kota-kota lain. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakatnya tinggi, rata-rata pendapatan per kapitanya lebih tinggi, juga akses terhadap informasi lebih maju, serta beberapa kelebihan lainnya.
Wajar saja pemilih di Jakarta diharapkan menjadi role model pemilih rasional yang mengedepankan kepentingan bersama yang sudah barang tentu akan memberikan keuntungan pribadi jika semua hal berjalan dengan baik di Kota Jakarta. Pemilih di Ibu Kota sangat diharapkan untuk lepas dari berbagai jebakan stigma irasional yang pada ujung-ujungnya hanya akan menguntungkan segelintir elite,sementara pelayanan publik akan kembali buruk seperti biasanya, business as usual.
Dalam pilkada ini semua calon saling klaim keberhasilan. Namun agaknya warga kota metropolitan ini sudah memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk menilai apakah klaim-klaim keberhasilan dan janji-janji surga yang dilayangkan benar sudah dan akan mereka lakukan. Jangan pula menggadaikan masa depan kota ini hanya untuk seratus dua ratus ribu rupiah money politic.
Para calon yang menggunakan politik uang sudah barang tentu adalah calon-calon yang menghalalkan segala cara dan saat terpilih tak akan memedulikan nasib rakyatnya. Pemilih juga sebaiknya tidak ambil pusing mengenai pelaksanaan pilkada ini dalam satu atau dua putaran. Satu putaran dua putaran itu tidak penting. Yang penting adalah mendapatkan yang terbaik. Masyarakat tak perlu memikirkan sekian miliar tambahan yang harus dikeluarkan pemerintah andaikata terjadi dua putaran.
Pilih saja sesuai dengan pilihan hati yang dirasa akan membawa perubahan untuk Jakarta yang sudah stagnan ini. Jangan sampai kampanye satu putaran yang digaungkan beberapa kandidat memengaruhi preferensi memilih kita. Tambahan dana sebesar Rp59,8 miliar lagi untuk putaran kedua masih layak jika warga Jakarta mendapatkan gubernur yang memang kapabel dan bisa membawa Jakarta menjadi lebih tertata, makmur, dan nyaman untuk ditinggali.
Satu atau dua putaran itu hanya masalah hasil.Sekarang yang penting adalah memilih sesuai hati nurani demi majunya kota ini. Majunya DKI Jakarta juga berarti majunya bangsa ini. Pemimpin yang berhasil di DKI Jakarta akan menjadi anutan bagi semua daerah lain bahwa tak ada yang tak mungkin untuk diperbaiki. Pemimpin itu merupakan gambaran rakyatnya.
Kalau akhirnya yang muncul adalah pemimpin yang hanya hebat di pencitraan dan memutarbalikkan fakta, berarti hal itu menggambarkan seperti itulah yang diinginkan rakyatnya. Kalau rakyatnya adalah orang-orang cerdas dan rasional, maka akan tergambar dari pemimpin yang muncul adalah yang cerdas dan rasional juga. Mari kita berkontribusi menentukan arah perubahan itu hari ini dengan menggunakan satu hak suara kita sesuai hati nurani.
Semangat pemilih jelas dirasakan belakangan ini.Keinginan untuk berubah tecermin pada wajah-wajah penduduk Ibu Kota saat diwawancarai media massa.Umumnya masyarakat sudah muak dengan kemacetan, kekumuhan, ketidakteraturan,dan banyak hal negatif lainnya. Mereka berharap pemilihan kepala daerah(pilkada) kali ini membawa perbaikan yang diharapkan banyak orang. Tak jarang orang mengatakan pilkada di DKI Jakarta ini menjadi barometer seperti apa kiranya Pemilu 2014 dan juga wajah masa depan Indonesia.
Pandangan tersebut tak salah karena memang DKI Jakarta adalah kota yang dari banyak sisi unggul dibandingkan provinsi-provinsi dan kota-kota lain. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakatnya tinggi, rata-rata pendapatan per kapitanya lebih tinggi, juga akses terhadap informasi lebih maju, serta beberapa kelebihan lainnya.
Wajar saja pemilih di Jakarta diharapkan menjadi role model pemilih rasional yang mengedepankan kepentingan bersama yang sudah barang tentu akan memberikan keuntungan pribadi jika semua hal berjalan dengan baik di Kota Jakarta. Pemilih di Ibu Kota sangat diharapkan untuk lepas dari berbagai jebakan stigma irasional yang pada ujung-ujungnya hanya akan menguntungkan segelintir elite,sementara pelayanan publik akan kembali buruk seperti biasanya, business as usual.
Dalam pilkada ini semua calon saling klaim keberhasilan. Namun agaknya warga kota metropolitan ini sudah memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk menilai apakah klaim-klaim keberhasilan dan janji-janji surga yang dilayangkan benar sudah dan akan mereka lakukan. Jangan pula menggadaikan masa depan kota ini hanya untuk seratus dua ratus ribu rupiah money politic.
Para calon yang menggunakan politik uang sudah barang tentu adalah calon-calon yang menghalalkan segala cara dan saat terpilih tak akan memedulikan nasib rakyatnya. Pemilih juga sebaiknya tidak ambil pusing mengenai pelaksanaan pilkada ini dalam satu atau dua putaran. Satu putaran dua putaran itu tidak penting. Yang penting adalah mendapatkan yang terbaik. Masyarakat tak perlu memikirkan sekian miliar tambahan yang harus dikeluarkan pemerintah andaikata terjadi dua putaran.
Pilih saja sesuai dengan pilihan hati yang dirasa akan membawa perubahan untuk Jakarta yang sudah stagnan ini. Jangan sampai kampanye satu putaran yang digaungkan beberapa kandidat memengaruhi preferensi memilih kita. Tambahan dana sebesar Rp59,8 miliar lagi untuk putaran kedua masih layak jika warga Jakarta mendapatkan gubernur yang memang kapabel dan bisa membawa Jakarta menjadi lebih tertata, makmur, dan nyaman untuk ditinggali.
Satu atau dua putaran itu hanya masalah hasil.Sekarang yang penting adalah memilih sesuai hati nurani demi majunya kota ini. Majunya DKI Jakarta juga berarti majunya bangsa ini. Pemimpin yang berhasil di DKI Jakarta akan menjadi anutan bagi semua daerah lain bahwa tak ada yang tak mungkin untuk diperbaiki. Pemimpin itu merupakan gambaran rakyatnya.
Kalau akhirnya yang muncul adalah pemimpin yang hanya hebat di pencitraan dan memutarbalikkan fakta, berarti hal itu menggambarkan seperti itulah yang diinginkan rakyatnya. Kalau rakyatnya adalah orang-orang cerdas dan rasional, maka akan tergambar dari pemimpin yang muncul adalah yang cerdas dan rasional juga. Mari kita berkontribusi menentukan arah perubahan itu hari ini dengan menggunakan satu hak suara kita sesuai hati nurani.
(azh)