LSI: Semua partai buruk di mata masyarakat
Minggu, 19 Februari 2012 - 17:32 WIB
LSI: Semua partai buruk di mata masyarakat
A
A
A
Sindonews.com - Pengamat Politik dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi mengatakan, semua partai dinilai buruk oleh masyarakat. Hal itu merupakan imbas dari terbongkarnya kasus korupsi yang dilakukan kader Partai Demokrat.
"Partai lain juga mengalami isu tak sedap. Seperti kasus cek pelawat, kasus Banggar, kemudian kasus-kasus lain yang menunjukkan persoalan terkait dengan masalah korupsi," ujarnya di kantor LSI, Jalan Terusan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (19/2/2012).
Menurutnya, sangat terkait juga dengan sikap publik untuk menunggu. "Jadi selesai ini sikap yang cukup jauh lebih fair karena bagaimanapun mereka (Publik) melihat ada persoalan yang dihadapi oleh Partai Demokrat, ini luar biasa," ungkapnya.
Bayangkan, tambah dia, Partai Demokrat mengalami penurunan sampai tujuh persen. Tetapi, sekitar tujuh persennya publik menyatakan tidak memilih Partai Demokrat kemudian publik masih menunggu proses apa yang terjadi kedepan.
"Ini bukan berarti mereka (Publik) Golput. Bisa golput, bisa aja mereka memilih partai lain sampai dirasa ada partai yang memiliki komitmen, terutama dalam sistem pendanaan partai yang klir, perjuangan melawan korupsi," pungkasnya. (san)
"Partai lain juga mengalami isu tak sedap. Seperti kasus cek pelawat, kasus Banggar, kemudian kasus-kasus lain yang menunjukkan persoalan terkait dengan masalah korupsi," ujarnya di kantor LSI, Jalan Terusan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (19/2/2012).
Menurutnya, sangat terkait juga dengan sikap publik untuk menunggu. "Jadi selesai ini sikap yang cukup jauh lebih fair karena bagaimanapun mereka (Publik) melihat ada persoalan yang dihadapi oleh Partai Demokrat, ini luar biasa," ungkapnya.
Bayangkan, tambah dia, Partai Demokrat mengalami penurunan sampai tujuh persen. Tetapi, sekitar tujuh persennya publik menyatakan tidak memilih Partai Demokrat kemudian publik masih menunggu proses apa yang terjadi kedepan.
"Ini bukan berarti mereka (Publik) Golput. Bisa golput, bisa aja mereka memilih partai lain sampai dirasa ada partai yang memiliki komitmen, terutama dalam sistem pendanaan partai yang klir, perjuangan melawan korupsi," pungkasnya. (san)
()