Fokus dan Ojo Rumongso Biso

Selasa, 17 Maret 2020 - 03:20 WIB
Fokus dan Ojo Rumongso...
Fokus dan Ojo Rumongso Biso
A A A
HINGGA menginjak pekan ketiga setelah Covid-19 positif masuk ke Indonesia, belum ada tanda-tanda ancaman virus ini mereda. Bahkan melihat tren yang terjadi, sebaran virus kian melebar. Ada delapan provinsi yang terpapar. Bahkan di Pulau Jawa, hingga kemarin hanya Jawa Timur yang masih dinyatakan aman. Tidak tahu, wilayah mana lagi yang selanjutnya ganti terpapar. Di tengah ketikdapastian itu, kita juga tidak bisa mendapat kepastian sampai kapan sebaran ini benar-benar akan berakhir. Semua menjadi misteri Tuhan.

Terus berkembangnya Covid-19 memang memprihatinkan. Rasa waswas kian meningkat. Sekolah libur, kerja dilarang di kantor, transportasi kacau, ekonomi kian melambat, adalah di antara sekelumit efek dari makin meningkatnya dampak korona. Semua juga menyadari bahwa penanganan wabah ini sejak awal tidak maksimal. Pemerintah tampak lambat, mitigasi tumpang tindih, komunikasi pun kacau. Tampak juga pemerintah kelabakan karena seolah tak ada standar pengelolaan krisis dari sebelum muncul(before), saat merebak kuat(during),hingga penyelesaian(after)yangdisiapkan dengan matang.

Namun seiring waktu dan eskalasi jumlah warga yang terpapar, pemerintah kita akui juga tidak tinggal diam. Meski sangat terlambat, pembuatan satuan tugas (satgas) khusus apa pun patut diapresiasi. Dengan satgas yang melibatkan orang-orang pilihan, penanganan krisis, sebagaimana menurut John Darling (1994), diharapkan lebih terarah karena kebijakan atau informasi menjadi kian mengerucut. Pemerintah baik pusat maupun beberapa daerah juga tampak sigap merespons perkembangan yang terjadi, seperti memutuskan kejadian luar biasa, meliburkan sekolah, hingga membatasi aktivitas di luar rumah.

Terlepas dari progres ini, bolong-bolong masih tampak ada di sana sini. Apalagi melihat begitu luasnya wilayah Indonesia, bukan hal mudah mengendalikan arus pergerakan maupun sikap seseorang. Dalam serbaketerbatasan ini, melangkah bersama dan bergandengan tangan adalah sebuah keniscayaan. Sekuat apa pun pemerintah atau aparat, tentu sangat berat menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini.

Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah bertindak cermat, cepat, dan tepat. Agar lebih fokus dibutuhkan kesadaran bersama dalam membangun semangat dan langkah-langkah taktis. Tak elok rasanya, di tengah upaya ini, ada sebagian kelompok yang justru melemahkan penguatan manifestasi semangat-semangat kebersamaan itu. Seperti menyatakan pemerintah lepas tangan sebagaimana disampaikan politikus PKS Mardani Ali Sera.

Kritik dari mana pun itu baik berasal lembaga suprastruktur politik, infrastruktur politik, dan rakyat adalah hal yang tak dilarang. Demikian pula hujatan yang diluapkan melalui beragamplatformmedia sosial adalah sebuah pilihan seseorang untuk menyampaikan perasaannya di tengah kekacauan ini. Namun, kritik yang disampaikan itu jangan sampai membuat situasi atau langkah-langkah penanganan ini justru menjadi kendur atau bahkan mundur. Dengan keseriusan pemerintah, sudah selayaknya kita mengambil satu barisan di belakangnya.

Mendorong dan berbuat sebisa mungkin demi membuat langkah kebaikan. Kalaupun tak mampu,tohlebih baik diam dan tidak membuat situasi kian runyam. Nasihat Jawa,ojo rumongso biso, nanging bisoho rumongso(jangan merasa serbabisa, tapi usahakan kita bisa memahami atas tindakan orang lain), tepat kiranya menggambarkan dan memosisikan peran warga saat ini.

Indonesia saat ini ibarat tubuh kita seutuhnya. Ketika bagian tubuh kita ada yang sakit, tentu seluruh bagian akan terdampak. Dalam kondisi itu, rasanya tak elok terus-terusan menyalahkan pemerintah. Justru yang terpenting adalah fokus agar sakit yang sementara diderita ini segera pulih. Ketika ada orang sekarat atau mati pun, tak pantas membicarakan atau menyalahkan atas penyebab-penyebabnya. Yang terpenting justru bagaimana upaya penyelamatan yang bisa dilakukan atau pengurusan jenazah sebaik mungkin.

Pada saat krisis seperti saat ini, menghindari kerusakan (mafsadat) yang lebih besar lebih utama sesuai kaidah fikihdar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashaalih. Persoalan kritik atau lainnya adalah tetap penting. Namun setelah semua terlewati, rasanya lebih tepat jika masukan-masukan itu kemudian dibahas bersama. Semua juga sepakat bahwa wabah korona ini adalah pelajaran sangat berharga. Tak hanya bagi pemerintah, tapi bagi kita semua.
(pur)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
ART asal Indonesia Dianiaya...
ART asal Indonesia Dianiaya di Malaysia, DPR Minta Kemlu Lobi agar Pelaku Dihukum Berat
Said Didu: Jangan Juga...
Said Didu: Jangan Juga Semua Orang Kritis Ditakut-takuti
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved