Melonggok Pyramide di Tengah Atlantik (13)

Senin, 27 Januari 2020 - 06:35 WIB
Melonggok Pyramide di...
Melonggok Pyramide di Tengah Atlantik (13)
A A A
Selain terkenal dengan pisang raja yang ranum, rupanya pulau Tenerife, kepulauan Canary juga menyimpan jejak peninggalan sejarah berupa Pyramide. Tumpukan batu berbentuk trapesium tersebut berada di desa Gumiar.

Taman dan Museum Pyramide menjadi salah satu ikon wisata Tenerife. Berdasarkan pembicaraan kami dengan Alicia Barroso Martín, Personel & Operational Manager Pirámides de Güímar, bahwa saban tahun kunjungan wisatawan di tempat tersebut mencapai 100 ribu orang. Masih menurut dia, manajemen Taman Pyramide Guimar terus berusaha untuk meningkatkan layanan dan luas kawasan Pyramide.

“Setiap tahun kami selalu menambah jenis taman, misalnya tahun ini ( 2019 ) kami membuka taman Tropicarium,” jelas dia.

Uniknya, oleh pemerintrah Spanyol Pyramide itu dibiarkan begitu saja. Tapi, oleh Antropolog asal Norwegia, Thor Heyerdall peninggalan bersejarah itu menjadi perhatiannya. Dalam video berdurasi 15 menit di auditorium museum tersebut, Thor menjelaskan bahwa tumpukan batu berbentuk travesium itu bukanlah pematang ladang karya petani yang banyak ditemukan di seantero pulau. Tapi itu adalah Pyramide tempat bagi pemujaan matahari bagi bangsa Mesir.

Thor berpendapat begitu berdasarkan susunan batu granit berbeda dengan batuan pematang ladang petani Tenerife. Sebab, batuan Pyramide Guimar terdapat sudut dan lekukan serupa dengan hasil pahatan bangsa Mesir. Pendapat itu bak gayung persambut. Temannya berkantung tebal, Fred Olsen menjadikan Pyramide tersebut sebagai taman, musuem antropologi, museum Thor Heyerdall dikeliling taman tanaman beracun.

Mengunjungi Pyramide Guimar dapat menggunakan bus Titsa nomor 111 dari bandara selatan atau dari Santa Cruz, Ibu Kota Tenerife, dengan nomor bus yang sama. Bus tersebut akan berhenti halte di jalan bebas hambatan dan dilanjutkan dengan bus nomor 270 menuju terminal desa Guimar. Dari terminal, pengunjung tinggal berjalan kaki mengikuti rambu jalan menuju Pyramide, sejauh 800 meter.

Pemerintah Tenerife melengkapi dengan membuat patung separuh badan di pertigaan jalan samping taman museum seluas 20 hektare tersebut. Ini juga sekaligus menjadi tanda, bahwa pengunjung telah sampai di lokasi Pyramide, yang ditemukan oleh peneliti lokal bernama Emiliano Bethencourt pada 1990. Penemuan inilah yang kemudian ia laporkan dalam bentuk tulisan kepada Thor.

Thor, sang antropolog itu menanggapi serius temuan tersebut, dan meminta temannya Fred Olsen untuk membeli areal temuan tersebut. Tujuannya agar enam Pyramide yang ada di sana tidak tergerus oleh pemukiman penduduk. Butuh delapan tahun untuk mereka ulang enam Pyramide yang tersisa di areal tersebut. Pada 1998, taman Pyramide tersebut akhirnya dibuka untuk umum.

Tentunya, pengunjung dipungut biaya untuk menyaksikan satu dari 34 Pyramide yang tersebar di lima benua tersebut. Bagi pengunjung yang ingin mengitari enam Pyramide, taman tanaman beracun, taman bebatuan, museum Thor Herdeyall, museum Tiki, dan menonton film dokumenter di audiotorium dikenakan karcis premium seharga 18 Euro. Jika hanya mengitari Pyramide hanya dikenakan karcis seharga 11 Euro.

Puas menyaksikan tumpukan batu tersebut, ada baiknya mengunjungi museum Pyramide. Dalam museum kita seakan membaca buku pengetahuan tentang Pyramide. Misalnya tujuan pembangunan Pyramide, hingga awal mulanya Pyramide dibangun oleh di Mesopotamia 5.000 tahun lalu untuk menyembah matahari.

Setelah kenyang dengan pengetahuan Pyramide, pengunjung bisa belajar botani di taman beracun. Di taman tersebut terbagi tiga kelas tanaman, dengan empat warna tanda pelat berbeda-berbeda. Jika tanda anda menemukan tanaman dengan pelat bertanda tengkorak warna merah, berarti tanaman tersebut mengandung racun mematikan. Contohnya Luarel Toxita atau bernama latin Acokhantara Spectabilis. Tanaman semak itu banyak ditemukan di Afrika.

Bila ditemukan tanaman pelat bertanda tengkorak berwarna kuning, maka tanaman tersebut mengandung zat berpotensi beracun. Contohnya Almendro atau dengan nama latin Prunus Dulcis. Tanaman keras tersebut banyak ditemukan di Asia. Sedangkan warna warna hijau hanya menbuat iritasi pada kulit atau mata. Terakhir warna hijau, tanda tanaman tersebut bebas dari racun. Lengkap bukan. Setelah melihat batu, kita akan disajikan rimbunan tanaman. Tapi hati-hati dengan yang beracun.
(kri)
Berita Terkait
Warga Gresik Temukan...
Warga Gresik Temukan Peninggalan Sejarah Era Majapahit
Seonggok Kayu Hitam...
Seonggok Kayu Hitam Ini Ternyata Pondasi Bangunan Manusia Purba Berusia 500.000 Tahun
Batu Tapak Kaki Raksasa...
Batu Tapak Kaki Raksasa Ditemukan di Situs Dampu Awang Indramayu, Peninggalan Purbakala?
20 Negara yang Pernah...
20 Negara yang Pernah Dijajah Alexander Agung, dari Pakistan hingga Palestina
Tangan Palsu Berusia...
Tangan Palsu Berusia 3.500 Tahun, Akan di Pamerkan di Inggris
10 Peninggalan Kerajaan...
10 Peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang Berbentuk Prasasti Beserta Lokasinya
Berita Terkini
Kejagung Ungkap Tersangka...
Kejagung Ungkap Tersangka Dadan Hindayana dan 2 Eks Waka BGN Bekerja Sama dan Saling Mengetahui
Tersangka Korupsi, Silmy...
Tersangka Korupsi, Silmy Karim dan Pejabat Imigrasi Dinonaktifkan dari Jabatan
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Menteri Imipas Dukung Proses Penegakan Hukum
Harta Kekayaan Silmy...
Harta Kekayaan Silmy Karim Rp234,5 Miliar, Kini Jadi Tersangka Dugaan Pemerasan
Saiful Mujani Diperiksa...
Saiful Mujani Diperiksa soal Penghasutan, Todung Mulya Lubis: Ini Absurd
Sony Sanjaya Tulis Pesan...
Sony Sanjaya Tulis Pesan untuk Kepala BGN Nanik S Deyang Sebelum Ditahan, Apa Isinya?
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved