Rekrutmen Anak sebagai Milisi di Papua Melanggar HAM

Rabu, 11 Desember 2019 - 20:28 WIB
Rekrutmen Anak sebagai...
Rekrutmen Anak sebagai Milisi di Papua Melanggar HAM
A A A
JAKARTA - Pelibatan anak dalam gerakan kemerdekaan Papua adalah pelanggaran atas hak anak. Sebab, anak tidak boleh dilibatkan dalam konflik apapun.

"Siapapun yang memanfaatkan anak untuk menjadi milisi atau kurir dalam konflik bersenjata itu dilarang," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, kepada wartawan, Rabu (11/12/2019).

Menurut Arist, ada konvensi PBB yang mengatur hak anak dan itu juga sudah diratifikasi oleh Indonesia. "Itu kesepakatan internasional. Semua negara meratifikasi itu," kata Arist lagi.

Penggunaan tentara anak di Papua kembali mengemuka awal Desember kemarin, saat masyarakat global mengritik peringatan hari ulang tahun OPM di Oxford Inggris yang seolah mengabaikan kondisi anak-anak yang jadi milisi di Papua. Warganet ramai-ramai menyerang aksi peringatan di Inggris itu yang dimotori oleh pentolan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda. "Anak tidak pernah masuk dan terlibat dalam konflik. Sehingga mereka hanya jadi korban untuk dimanfaatkan oleh kelompok OPM tersebut," kata Arist lagi.

Sementara itu, pengamat keamanan dari Universitas Parahyangan (Unpar), I Nyoman Sudira, menilai pelibatan anak-anak dalam konflik adalah bentuk pelanggaran HAM. Meski begitu, dia mengaku yang dilakukan OPM itu bukan lah hal yang baru. "Banyak di beberapa tempat terjadi. Di Timur Tengah terjadi," ujarnya.

Nyoman merasa khawatir dengan pelibatan anak-anak dalam konflik Papua. Pasalnya, menurut dia, anak-anak sangat berbahaya bila pegang senjata. "Persoalannya itu ini kalau senjata digunakan anak-anak kan nanti dipakai mainan. Ini nanti main perang-perangan jadi masalah nanti," kata dia.

Pelibatan anak sebagai milisi di Papua, memang kerap tertutupi oleh kampanye kelompok pro kemerdekaan Papua yang selalu menitikberatkan kesalahan pada pemerintah Indonesia. Nyoman sendiri mengakui selama ini pemerintah Indonesia selalu disalahkan dalam penyelesaian masalah Papua.

Dia menyarankan agar pemerintah mengambil langkah baru untuk Papua, yang bukan lagi pendekatan keamanan. "Kita ganti ke kemanusiaan. Siapa tahu itu akan mengubah stigma di Papua. Tapi ya jangan disalahkan lagi kalau pemerintah sudah berupaya seperti itu," kata Nyoman.

Nyoman menyarankan kepada pemerintah untuk membangun sekolah berbasis kearifan di Papua. Dengan begitu, anak-anak tidak lagi menjadi korban konflik. "Satu-satunya jalan kita ubah dulu sekarang. Papua harus kita bangun sekolah untuk kearifan Papua. Buatlah sekolah yang menjadi kiblat anak-anak Papua. Di sana dunianya anak-anak. Bukan di dunia konflik. Dunia mereka belajar," tandasnya.
(cip)
Berita Terkait
Kebijakan Terhadap Papua...
Kebijakan Terhadap Papua Harus Dievaluasi Total
Situasi Konflik di Tanah...
Situasi Konflik di Tanah Papua Belum Ada Tanda-tanda Berakhir
Keluar dari Situasi...
Keluar dari Situasi Konflik di Papua
Polri Ajak Mahasiswa...
Polri Ajak Mahasiswa dan Pemuda Bantu Selesaikan Masalah Papua
Ketua KNPB Wilayah Maybrat...
Ketua KNPB Wilayah Maybrat Papua Barat Dibekuk, Polisi: Lakukan Pembunuhan Keji 2 Warga
Menanti Jaminan Keamanan...
Menanti Jaminan Keamanan di Papua
Berita Terkini
Profesor Ahli Gizi dan...
Profesor Ahli Gizi dan Dokter Anak Bakal Direkrut sebagai Dewan Pengarah BGN
10 Orang Termasuk Bupati...
10 Orang Termasuk Bupati Edison Kena OTT KPK, Uang Ratusan Juta Disita
5 Jenderal dengan Karier...
5 Jenderal dengan Karier Paling Moncer hingga Menjadi Panglima TNI
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved