Politik Dinasti Dinilai Merusak Kualitas Demokrasi

Minggu, 03 November 2019 - 12:18 WIB
Politik Dinasti Dinilai...
Politik Dinasti Dinilai Merusak Kualitas Demokrasi
A A A
JAKARTA - Analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun mengatakan, dinasti politik turut berkontribusi merusak kualitas demokrasi. Sebab, kata dia, dinasti politik seringkali merusak rasionalitas pemilih.

Hal ini dikatakan Ubedilah soal fenomena Gibran Rakabuming Raka, Boby Nasution dan Siti Nur Azizah jika dicermati secara politik dapat dinilai sebagai fenomena dinasti politik generasi keempat di Indonesia.

Adapun Gibran yang merupakan Putra Sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin maju di Pilwalkot Solo. Sedangkan menantu Jokowi, Boby Nasution berniat maju sebagai wali kota Medan. Sementara Anak Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Siti Nur Azizah ingin maju di Pilwalkot Tangerang Selatan.

Menurutnya, cara berpikir pemilih lebih mempertimbangkan faktor pengaruh keluarga besar, sehingga seringkali mengabaikan sisi kualitas sekaligus menutup peluang kompetitor rakyat biasa memenangi kontestasi Pilkada.

"Lebih dari itu kesan memanfaatkan kekuasaan sang Ayah yang masih berkuasa akan lebih dominan terlihat. Atau dalam bahasa lain disebut politik Aji Mumpung," ujar Ubedilah Badrun, Minggu (3/11/2019).

Direktur Eksekutif Center for Social Political Economic and Law Studies (CESPELS)
ini menjelaskan, tentu politik Aji Mumpung ini bisa jadi bukan kehendak Gibran, Boby atau Siti, tapi bisa jadi didorong oleh keinginan pemilik modal atau para pemburu rente yang berjejaring dengan mereka yang mengklaim diri para konsultan politik lokal.

"Terkait kemungkinan elektabilitasnya? Mungkin Gibran memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan kontestasi jika didukung PDIP dibanding Boby dan Siti," tuturnya.

Sebab ujar dia, faktornya Gibran putra Jokowi yang sudah cukup lama membangun popularitas, sementara Boby posisinya menantu dan belum cukup lama bangun popularitas atau belum cukup modal sosialnya.

Sementara Siti di Tangsel, kata dia, belum cukup punya modal sosial juga jika mengandalkan ketokohan Ma'ruf Amin. "Sebab Ma'ruf Amin basis masanya bukan di Tangerang Selatan tapi lebih kuat di Jawa Timur. Jadi PR terberat Boby dan Siti NA
adalah kurangnya modal sosial, karenanya tidak mudah untuk menang," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Mimbar Demokrasi Melawan...
Mimbar Demokrasi Melawan Politik Dinasti
Dinasti Politik Dinilai...
Dinasti Politik Dinilai Tak Melanggar Konstitusi
Matinya Etika Politik...
Matinya Etika Politik di Era Post Democracy
Hasil Pilkada 2020,...
Hasil Pilkada 2020, Dinasti Politik Langgengkan Kekuasaan di Daerah
Politik Dinasti Jangan...
Politik Dinasti Jangan Sampai Reduksi Kualitas Calon
Politik Dinasti Dinilai...
Politik Dinasti Dinilai Cenderung Destruktif, Ini Sejumlah Faktornya
Berita Terkini
Cegah Korupsi, Mendagri...
Cegah Korupsi, Mendagri Usul Kepala Daerah Dapat Persenan dari PAD
Duit Rp200 Juta hingga...
Duit Rp200 Juta hingga Mobil Disita KPK dalam OTT BPK
ADIGSI dan Crest Kerja...
ADIGSI dan Crest Kerja Sama Pengembangan Keamanan Siber Nasional
Bertemu Prabowo, JK...
Bertemu Prabowo, JK Siap Partisipasi Bangun Energi Hijau
Respons Hukum Kejagung...
Respons Hukum Kejagung Dinilai Kunci Benahi Tata Kelola MBG
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan...
OTT BPK, KPK: Ada Permintaan Fee Rp1,6 Miliar untuk Ubah Hasil Audit di Muara Enim
Infografis
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved