Pidato Jokowi Sulit Dicapai dengan Kabinet Akomodatif

Selasa, 22 Oktober 2019 - 12:41 WIB
Pidato Jokowi Sulit...
Pidato Jokowi Sulit Dicapai dengan Kabinet Akomodatif
A A A
JAKARTA - Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Muradi melihat ada situasi yang agak anomali di mana dalam pidato perdana Jokowi sebagai Presiden di periode kedua, ingin agar birokrasi dipangkas, SDM unggul, infrastruktur baik, ekonomi kuat, efisiensi regulasi dan kemudahan investasi. Di sisi lain, banyak kepentingan parpol dan pendukungnya yang ada di sekitar Jokowi.

“Dan itu hanya bisa dicapai oleh kabinet yang progresif, efektif dan tidak terlalu mengakomodir kepentingan politik. Harus zaken kabinet, kabinet yang fokus pada pencapaian 5 hal tadi. Kalau sekarang kan kelihatan ada mengakomodir, mengakomodasi dan sebagainya,” kata Muradi kepada Sindonews di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Menurut Muradi, kalau yang terjadi kabinet akomodatif yang mana, Jokowi mengakomodir 9 partai pengusung dan pendukungnya ditambah parpol yang baru bergabung, bisa dibayangkan begitu ramainya isi kabinet Jokowi di periode kedua ini karena begitu banyaknya kepentingan yang harus diakomodir. Dan besarnya gerbong kabinet Jokowi ini akan menjadi beban tersendiri bagi Jokowi.

“Pertanyaannya, ini memanggil, mengundang itu apakah bagian dari suatu tradisi atau bagian dari perencanaan yang serius, kalau serius itu kontradiksi dengan 5 hal yang mau dicapai dalam 5 tahun ke depan,” ujarnya.

Melihat nama-nama yang dipanggil pada Senin (21/10) kemarin, Muradi melanjutkan, nampak ada politik akomodatif dalam kabinet Jokowi. Seperti diketahui ada Erick Thohir, Prabowo Subianto dan tokoh lainnya yang menjadi bagian dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf dan juga parpol yang akan masuk koalisi pemerintah. Jika memang demikian, itu jelas kontradiktif dengan visi yang disampaikan dalam pidato perdananya kemarin.

“Itu saya nggak tahu sampai mana tapi kelihatannya akan ada upaya mengakomodir banyak kepentingan, baik partai internal koalisi maupun partai yang baru bergabung. Saya kira itu menjadi satu kontradiksi, saya nggak tahu apakah itu bagian dari strategi memperkuat kabinet tadi atau kemudian malah sebaliknya,” tuturnya.
(pur)
Berita Terkait
Pemerintah Diimbau Antisipasi...
Pemerintah Diimbau Antisipasi Gimik Politik Terkait Dana Stimulus UMKM
Selain Wapres, Jokowi...
Selain Wapres, Jokowi Disarankan Aktifkan Ma'ruf Amin Jadi Penasihat
Survei: 67,8% Publik...
Survei: 67,8% Publik Puas terhadap Kinerja Jokowi-Maruf
Jejak Reshuffle Kabinet...
Jejak Reshuffle Kabinet Era Jokowi-Ma'ruf Amin
Staf Khusus Presiden...
Staf Khusus Presiden Surati Camat, Natalius Pigai: Ada Vandalisme Moral
Jokowi Harus Respons...
Jokowi Harus Respons Soal Perombakan Kabinet di Tengah Pandemi Corona
Berita Terkini
Ditetapkan Tersangka...
Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Bupati Cilacap Syamsul Ajukan Praperadilan
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Cegah Kasus Korupsi...
Cegah Kasus Korupsi di BGN Terulang, Saut Situmorang Beri Saran Ini ke Nanik Deyang
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Infografis
10 Negara dengan Tingkat...
10 Negara dengan Tingkat Pendidikan Tertinggi di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved