Tiga Kriteria Calon Menteri yang Dinilai Diinginkan Jokowi
Kamis, 01 Agustus 2019 - 08:21 WIB
Tiga Kriteria Calon Menteri yang Dinilai Diinginkan Jokowi
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku nama-nama calon menteri di kabinet pemerintahan untuk periode kedua nanti, sudah mulai masuk. Meski begitu, Jokowi belum merinci komposisi calon kabinetnya tersebut.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menganggap, secara umum ada tiga kriteria calon anggota Kabinet yang dinilai sesuai keinginan Jokowi.
"Pertama Berusia muda. Kedua mampu menerjemahkan visi dan misi Pak Jokowi. Ketiga terampil dan cekatan dalam menajemen dan melaksanakan program," kata Ray saat dihubungi SINDOnews, Kamis (1/8/2019).
Ray menjelaskan, tiga kriteria tersebut setidaknya terbaca dari pidato Jokowi yang disampaikan pada saat kegiatan 'Visi Indonesia' beberapa waktu lalu.
Menurut Ray, jika diterjemahkan tiga syarat itu, dan dipadukan dengan kondisi nyata politik yang dihadapi Jokowi maka, ada tiga fakta yang tergambar, yaitu faktanya Jokowi didukung dan diusung oleh banyak partai.
(Baca juga: Semua Parpol Koalisi Jokowi Dinilai Layak Dapat Kursi Kabinet)
Karena itu kata dia, partai-partai ini memiliki keinginan yang kuat agar kader partai mereka juga dilibatkan dalam kursi kabinet. Kemudian lanjut Ray, umumnya kader partai yang didorong adalah mereka yang usianya di atas 40 tahun.
"Maka makna pernyataan Pak Jokowi itu bisa dibaca dalam beberapa bacaan berikut, pertama usia yang muda tidak berarti mereka yang hanya berkutat di usia 40 tahun ke bawah, tapi juga bisa bermakna mereka yang berusia 55 tahun ke bawah," ungkap dia.
Ray menganggap, bicara regenerasi kepemimpinan tak lepas dari efek gagalnya pembangunan politik orde baru, yang membuat 'kemandegan' regenerasi politik. Sehingga kematangan dalam politik selalu terlihat di atas 50 tahun.
Dengan demikian kata Ray, secara realistis usia muda yang disebutkan oleh Presiden Jokowi itu berbatas pada usia 55 tahun. Namun, usia muda 40 tahun, masih dapat diwujudkan Jokowi jika berasal dari kabinet yang di isi oleh wakil profesional murni.
"Makna terampil dan cekatan dalam mengeksekusi program dan visi dapat berarti mereka yang memang memiliki rekam jejak pekerja yang brilian," ujarnya.
Ray menambahkan, Jokowi dapat melihat regenerasi politik dari kaum profesional yang secara langsung atau tidak dapat ditilik rekam jejaknya dari karya-karya sebelumnya.
(Baca juga: AHY Jadi Mediator Komunikasi Antara SBY dengan Jokowi)
Sementara bila dikaitkan dengan wakil partai, kriteria seperti ini dengan cepat dapat ditandai oleh Jokowi dengan merujuk pada kader partai yang sukses di pemerintahan sebelumnya.
"Khususnya mereka yang sudah terlibat dalam kabinet 2014-2019 serta mantan kepala daerah yang sukses sebelumnya," ucap pengamat politik asal UIN Jakarta ini.
Di samping itu Ray mengatakan, sukses kepemimpinan kepala daerah ini tidak bisa dilepaskan dari fakta, bahwa mereka memiliki perpaduan kemampuan manajerial dan eksekutorial.
Sementara sarat ketiga yakni kemampuan menerjemahkan visi-misi Jokowi tak bisa dilepaskan dari sarat pertama dan kedua. Ia menganggap, mereka yang memang memiliki sensitivitas bacaan terhadap kemauan dan arahan Jokowi.
"Dengan begitu, tiga sarat dimaksudkan di atas dapat disinkronkan dengan kondisi nyata antara keinginan pribadi pak Jokowi dan fakta bahwa beliau didukung oleh banyak partai dalam koalisi 01," pungkasnya.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti menganggap, secara umum ada tiga kriteria calon anggota Kabinet yang dinilai sesuai keinginan Jokowi.
"Pertama Berusia muda. Kedua mampu menerjemahkan visi dan misi Pak Jokowi. Ketiga terampil dan cekatan dalam menajemen dan melaksanakan program," kata Ray saat dihubungi SINDOnews, Kamis (1/8/2019).
Ray menjelaskan, tiga kriteria tersebut setidaknya terbaca dari pidato Jokowi yang disampaikan pada saat kegiatan 'Visi Indonesia' beberapa waktu lalu.
Menurut Ray, jika diterjemahkan tiga syarat itu, dan dipadukan dengan kondisi nyata politik yang dihadapi Jokowi maka, ada tiga fakta yang tergambar, yaitu faktanya Jokowi didukung dan diusung oleh banyak partai.
(Baca juga: Semua Parpol Koalisi Jokowi Dinilai Layak Dapat Kursi Kabinet)
Karena itu kata dia, partai-partai ini memiliki keinginan yang kuat agar kader partai mereka juga dilibatkan dalam kursi kabinet. Kemudian lanjut Ray, umumnya kader partai yang didorong adalah mereka yang usianya di atas 40 tahun.
"Maka makna pernyataan Pak Jokowi itu bisa dibaca dalam beberapa bacaan berikut, pertama usia yang muda tidak berarti mereka yang hanya berkutat di usia 40 tahun ke bawah, tapi juga bisa bermakna mereka yang berusia 55 tahun ke bawah," ungkap dia.
Ray menganggap, bicara regenerasi kepemimpinan tak lepas dari efek gagalnya pembangunan politik orde baru, yang membuat 'kemandegan' regenerasi politik. Sehingga kematangan dalam politik selalu terlihat di atas 50 tahun.
Dengan demikian kata Ray, secara realistis usia muda yang disebutkan oleh Presiden Jokowi itu berbatas pada usia 55 tahun. Namun, usia muda 40 tahun, masih dapat diwujudkan Jokowi jika berasal dari kabinet yang di isi oleh wakil profesional murni.
"Makna terampil dan cekatan dalam mengeksekusi program dan visi dapat berarti mereka yang memang memiliki rekam jejak pekerja yang brilian," ujarnya.
Ray menambahkan, Jokowi dapat melihat regenerasi politik dari kaum profesional yang secara langsung atau tidak dapat ditilik rekam jejaknya dari karya-karya sebelumnya.
(Baca juga: AHY Jadi Mediator Komunikasi Antara SBY dengan Jokowi)
Sementara bila dikaitkan dengan wakil partai, kriteria seperti ini dengan cepat dapat ditandai oleh Jokowi dengan merujuk pada kader partai yang sukses di pemerintahan sebelumnya.
"Khususnya mereka yang sudah terlibat dalam kabinet 2014-2019 serta mantan kepala daerah yang sukses sebelumnya," ucap pengamat politik asal UIN Jakarta ini.
Di samping itu Ray mengatakan, sukses kepemimpinan kepala daerah ini tidak bisa dilepaskan dari fakta, bahwa mereka memiliki perpaduan kemampuan manajerial dan eksekutorial.
Sementara sarat ketiga yakni kemampuan menerjemahkan visi-misi Jokowi tak bisa dilepaskan dari sarat pertama dan kedua. Ia menganggap, mereka yang memang memiliki sensitivitas bacaan terhadap kemauan dan arahan Jokowi.
"Dengan begitu, tiga sarat dimaksudkan di atas dapat disinkronkan dengan kondisi nyata antara keinginan pribadi pak Jokowi dan fakta bahwa beliau didukung oleh banyak partai dalam koalisi 01," pungkasnya.
(maf)