Nama Calon Menteri Sudah Masuk, Pengamat: Idealnya Jokowi Sounding ke Publik
Senin, 29 Juli 2019 - 07:46 WIB
Nama Calon Menteri Sudah Masuk, Pengamat: Idealnya Jokowi Sounding ke Publik
A
A
A
JAKARTA - Presiden terpilih, Joko Widodo (Jokowi) menyatakan, saat ini nama-nama calon Menteri yang akan menghuni deretan kabinet periode kedua sudah mulai masuk. Nama menteri tersebut akan diwarnai oleh orang-orang muda.
Pengamat Politik asal UIN Jakarta, Adi Prayitno menganggap, idealnya nama-nama calon menteri Jokowi mulai disounding ke publik untuk mendapatkan feed back, saran, masukan, dan hal konstruktif lainnya.
"Meski menteri hak prerogatif Presiden, yang jelas publik berhak tau rekam jejak calon menteri itu biar 'tak beli kucing dalam karung," kata Adi saat dihubungi SINDOnews, Senin (29/7/2019).
Adi menganggap, salah satu kekuatan Jokowi adalah dukungan publik yang berlimpah. Artinya, kata Adi, setiap keputusan penting Jokowi sebaiknya melibatkan partisipasi publik.
Problemnya, kata Adi, ada kendala secara psikologis ketika calon menteri dipublish di awal, maka dikhawatirkan nama-nama yang beredar itu justeru bisa gagal menjadi menteri.
"Intinya, di periode kedua Jokowi tak terbebani dalam mememilih pembantunya. Ada publik yang siap-siap mendukung," ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu menandaskan.
Pengamat Politik asal UIN Jakarta, Adi Prayitno menganggap, idealnya nama-nama calon menteri Jokowi mulai disounding ke publik untuk mendapatkan feed back, saran, masukan, dan hal konstruktif lainnya.
"Meski menteri hak prerogatif Presiden, yang jelas publik berhak tau rekam jejak calon menteri itu biar 'tak beli kucing dalam karung," kata Adi saat dihubungi SINDOnews, Senin (29/7/2019).
Adi menganggap, salah satu kekuatan Jokowi adalah dukungan publik yang berlimpah. Artinya, kata Adi, setiap keputusan penting Jokowi sebaiknya melibatkan partisipasi publik.
Problemnya, kata Adi, ada kendala secara psikologis ketika calon menteri dipublish di awal, maka dikhawatirkan nama-nama yang beredar itu justeru bisa gagal menjadi menteri.
"Intinya, di periode kedua Jokowi tak terbebani dalam mememilih pembantunya. Ada publik yang siap-siap mendukung," ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia itu menandaskan.
(pur)