Lewat Medsos, Para Tokoh Diminta Juga Aktif Tenteramkan Masyarakat
Jum'at, 05 Juli 2019 - 16:54 WIB
Lewat Medsos, Para Tokoh Diminta Juga Aktif Tenteramkan Masyarakat
A
A
A
JAKARTA -
Pemilihan Legislatif dan Pilpres 2019 telah usai. Perhelatan tersebut telah menciptakan ruang perbedaan dan perselisihan di antara kontestan dan para pendukungnya.
Ekspresi perbedaan dan perselisihan tidak hanya terlihat di dunia nyata, tetapi secara masif menyeruak di dunia maya dengan sengit.
Setelah pilpres usai, sudah saatnya semua untuk pihak membangun gerakan rekonsiliasi, baik di dunia maya menjadi sama pentingnya dengan rekonsiliasi di dunia nyata.
Peran para tokoh dianggap penting untuk dapat menwujudkan rekonsiliasi, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.
Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Prof Dr Oman Fathurrahman mengimbau para tokoh bangsa bisa bersama-sama menciptakan rasa tenteram saat beraktivitas di media sosial demi mewujudkan rekonsiliasi kebangsaan demi menjaga persatuan bangsa.
"Para tokoh semangatnya harus bisa menciptakan rasa tentram. Di media sosial, juga jangan terbawa perasaan (baper) juga saat dikritik atau di-bully. Jangan terlalu diambil hati atau emosional jika ada masyarakat yang mengomentari dengan kata-kata agak sinis," tutur Oman Fathurrahman, di Jakarta, Kamis 4 Juli 2019.
Menurut dia, harus diakui tidak jarang muncul komentar di medsos yang menyakitkan hati dan perasaan. Yang terpenting adalah cara tokoh menerima kritikan atau masukan, baik di dunia maya atau di dunia nyata harus direspons dengan baik sesuai kapasitasnya.
“Sangat penting bagi para tokoh bisa mendinginkan dan menentramkan suasana yang kemarin sempat membuat masyarakat kita terpecah,” tuturnya.
Dalam menyampaikan kebenaran, kata dia, bisa dilakukan banyak cara. Bisa dengan cara keras, bisa dengan tidak bijak, dan bisa dengan cara bijak.
Menurut dia, ada tiga kunci pokok yang harus dipahami para tokoh untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap benar, yakni berilmu, berbudi dan berhati-hati
Pertama, berilmu. Sampaikan sesuatu itu dengan berilmu, dengan pengetahuan sesuai kapasitasnya, sehingga tidak miss-leading. Kedua, berbudi. Ketika menyampaikannya juga dengan arif, santun dan bijaksana, tidak dengan provokatif.
"Ketiga, berhati-hati. Siapa tahu ketika sampai suatu informasi ke kita, ternyata setelah buru-buru kita posting, karena kita tidak hati-hati dan ternyata itu keliru bisa membuat suasana menjadi tidak baik dan memanas,” tuturnya.
Saat pilpres lalu, kata dia, masyarakat banyak juga dipengaruhi cara pandang keagamaan. Oleh karena itu, saat ini warga negara perlu mengembalikan lagi cara pandang yang substantif dalam hal keagamaan.
"Sebagai umat beragama, saya ingin mengatakan taat beragama itu sama artinya dengan taat bernegara. Sama halnya taat bernegara itu sebetulnya kita sudah mengimplementasikan dari ajaran agama itu sendiri,” tuturnya .
Menurut dia, ketika negara sudah memutuskan dalam konteks pilpres, yakni MK juga sudah memutuskan hasilnya maka hal tersebut sudah merupakan instrumen negara.
“Maka taat terhadap putusan MK itu adalah bagian dari cara beragama kita juga. Oleh karenanya hal tersebut harus kita taati juga. Masalahnya di media sosial itu masih banyak cara pandang yang ekstrem dengan mengabaikan nilai substantif itu sendiri,” tuturnya.
Untuk itu, sambung dia, masyarakat jangan hanya terpaku pada keadaan yang ada di dunia maya saja yang dapat membuat situasi menjadi panas, namun juga harus melihat perkembangan di dunia nyata.
“Sebetulnya di media sosial itu juga sama di alam yang menyatakan bahwa kita ini satu kesatuan bangsa Indonesia. Saya kira itu yang harus kita junjung bersama,” ucap Oman.
Menurut dia, kendati sudah ada putusan dari MK terkait sengketa pilpres dan ketetapan pemenang pilpres namun di media sosial masih saja timbul ujaran-ujaran kebencian dan provokasi, meski tidak sebanyak saat sebelum siding putusan MK tersebut.
Untuk itu usai penetapan pemenang pilpres oleh KPU, dia meminta pengguna media sosial untuk bisa lebih bijak dalam menyampaikan ucapannya di media sosial terkait perbedaan pandangan dan pilihan tersebut.
“Dalam konteks pilpres, musuh bersama kita itu bukan lagi 01 atau 02. Musuh bersama kita sekarang adalah intoleransi, hate speech (ujaran kebencian) dan juga sikap fanatik yang berlebihan. Tentunya itu yang harus kita lawan bersama guna membangun kebersamaan dan persatuan,” tuturnya.
Menurut dia, hal tersebut terjadi akibat informasi berita yang tidak benar (hoaks). Hal itulah yang kemudian menjadi Trigger untuk munculnya persengketaan. Oleh karena itu dirinya ingin menitipkan hal penting bagi para pengguna media sosial.
Pertama, ketika menerima informasi apa pun itu tentunya harus dicari sumber yang paling otoritatifnya atau cari sumber primer.
“Termasuk dalam konteks pilpres yang sekarang ini ataupun isu-isu keagamaan yang mutakhir lah yang banyak. Itu harus dicari sumber informasi atau sumber primernya yang otoritatif . Jangan hanya mengandalkan forward misalnya dari pesan WhatsApp grup dan sebagainya,” tandasnya.
Kedua, setelah mengetahui sumber otoritatif atau sumber primernya, masyarakat harus mencari konteks dari informasi atau berita yang diterima.
“Kalau dua hal itu kita praktikkan dalam bermedia sosial, sebetulnya aman itu isu tentang Cina, isu tentang mobilisasi akan orang asing, isu tentang utang-hutang dan segala macamnya. Itu tentu ada konteksnya, bukan berarti faktanya tidak ada. Contonya, iya ada hutangnya. tapi konteksnya apa sih sebetulnya? Ini yang harus kita pahami,” ucapnya.
“Termasuk dalam konteks pilpres yang sekarang ini ataupun isu-isu keagamaan yang mutakhir lah yang banyak. Itu harus dicari sumber informasi atau sumber primernya yang otoritatif . Jangan hanya mengandalkan forward misalnya dari pesan WhatsApp grup dan sebagainya,” tandasnya.
Kedua, setelah mengetahui sumber otoritatif atau sumber primernya, masyarakat harus mencari konteks dari informasi atau berita yang diterima.
“Kalau dua hal itu kita praktikkan dalam bermedia sosial, sebetulnya aman itu isu tentang Cina, isu tentang mobilisasi akan orang asing, isu tentang utang-hutang dan segala macamnya. Itu tentu ada konteksnya, bukan berarti faktanya tidak ada. Contonya, iya ada hutangnya. tapi konteksnya apa sih sebetulnya? Ini yang harus kita pahami,” ucapnya.
Pemilihan Legislatif dan Pilpres 2019 telah usai. Perhelatan tersebut telah menciptakan ruang perbedaan dan perselisihan di antara kontestan dan para pendukungnya.
Ekspresi perbedaan dan perselisihan tidak hanya terlihat di dunia nyata, tetapi secara masif menyeruak di dunia maya dengan sengit.
Setelah pilpres usai, sudah saatnya semua untuk pihak membangun gerakan rekonsiliasi, baik di dunia maya menjadi sama pentingnya dengan rekonsiliasi di dunia nyata.
Peran para tokoh dianggap penting untuk dapat menwujudkan rekonsiliasi, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.
Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Prof Dr Oman Fathurrahman mengimbau para tokoh bangsa bisa bersama-sama menciptakan rasa tenteram saat beraktivitas di media sosial demi mewujudkan rekonsiliasi kebangsaan demi menjaga persatuan bangsa.
"Para tokoh semangatnya harus bisa menciptakan rasa tentram. Di media sosial, juga jangan terbawa perasaan (baper) juga saat dikritik atau di-bully. Jangan terlalu diambil hati atau emosional jika ada masyarakat yang mengomentari dengan kata-kata agak sinis," tutur Oman Fathurrahman, di Jakarta, Kamis 4 Juli 2019.
Menurut dia, harus diakui tidak jarang muncul komentar di medsos yang menyakitkan hati dan perasaan. Yang terpenting adalah cara tokoh menerima kritikan atau masukan, baik di dunia maya atau di dunia nyata harus direspons dengan baik sesuai kapasitasnya.
“Sangat penting bagi para tokoh bisa mendinginkan dan menentramkan suasana yang kemarin sempat membuat masyarakat kita terpecah,” tuturnya.
Dalam menyampaikan kebenaran, kata dia, bisa dilakukan banyak cara. Bisa dengan cara keras, bisa dengan tidak bijak, dan bisa dengan cara bijak.
Menurut dia, ada tiga kunci pokok yang harus dipahami para tokoh untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap benar, yakni berilmu, berbudi dan berhati-hati
Pertama, berilmu. Sampaikan sesuatu itu dengan berilmu, dengan pengetahuan sesuai kapasitasnya, sehingga tidak miss-leading. Kedua, berbudi. Ketika menyampaikannya juga dengan arif, santun dan bijaksana, tidak dengan provokatif.
"Ketiga, berhati-hati. Siapa tahu ketika sampai suatu informasi ke kita, ternyata setelah buru-buru kita posting, karena kita tidak hati-hati dan ternyata itu keliru bisa membuat suasana menjadi tidak baik dan memanas,” tuturnya.
Saat pilpres lalu, kata dia, masyarakat banyak juga dipengaruhi cara pandang keagamaan. Oleh karena itu, saat ini warga negara perlu mengembalikan lagi cara pandang yang substantif dalam hal keagamaan.
"Sebagai umat beragama, saya ingin mengatakan taat beragama itu sama artinya dengan taat bernegara. Sama halnya taat bernegara itu sebetulnya kita sudah mengimplementasikan dari ajaran agama itu sendiri,” tuturnya .
Menurut dia, ketika negara sudah memutuskan dalam konteks pilpres, yakni MK juga sudah memutuskan hasilnya maka hal tersebut sudah merupakan instrumen negara.
“Maka taat terhadap putusan MK itu adalah bagian dari cara beragama kita juga. Oleh karenanya hal tersebut harus kita taati juga. Masalahnya di media sosial itu masih banyak cara pandang yang ekstrem dengan mengabaikan nilai substantif itu sendiri,” tuturnya.
Untuk itu, sambung dia, masyarakat jangan hanya terpaku pada keadaan yang ada di dunia maya saja yang dapat membuat situasi menjadi panas, namun juga harus melihat perkembangan di dunia nyata.
“Sebetulnya di media sosial itu juga sama di alam yang menyatakan bahwa kita ini satu kesatuan bangsa Indonesia. Saya kira itu yang harus kita junjung bersama,” ucap Oman.
Menurut dia, kendati sudah ada putusan dari MK terkait sengketa pilpres dan ketetapan pemenang pilpres namun di media sosial masih saja timbul ujaran-ujaran kebencian dan provokasi, meski tidak sebanyak saat sebelum siding putusan MK tersebut.
Untuk itu usai penetapan pemenang pilpres oleh KPU, dia meminta pengguna media sosial untuk bisa lebih bijak dalam menyampaikan ucapannya di media sosial terkait perbedaan pandangan dan pilihan tersebut.
“Dalam konteks pilpres, musuh bersama kita itu bukan lagi 01 atau 02. Musuh bersama kita sekarang adalah intoleransi, hate speech (ujaran kebencian) dan juga sikap fanatik yang berlebihan. Tentunya itu yang harus kita lawan bersama guna membangun kebersamaan dan persatuan,” tuturnya.
Menurut dia, hal tersebut terjadi akibat informasi berita yang tidak benar (hoaks). Hal itulah yang kemudian menjadi Trigger untuk munculnya persengketaan. Oleh karena itu dirinya ingin menitipkan hal penting bagi para pengguna media sosial.
Pertama, ketika menerima informasi apa pun itu tentunya harus dicari sumber yang paling otoritatifnya atau cari sumber primer.
“Termasuk dalam konteks pilpres yang sekarang ini ataupun isu-isu keagamaan yang mutakhir lah yang banyak. Itu harus dicari sumber informasi atau sumber primernya yang otoritatif . Jangan hanya mengandalkan forward misalnya dari pesan WhatsApp grup dan sebagainya,” tandasnya.
Kedua, setelah mengetahui sumber otoritatif atau sumber primernya, masyarakat harus mencari konteks dari informasi atau berita yang diterima.
“Kalau dua hal itu kita praktikkan dalam bermedia sosial, sebetulnya aman itu isu tentang Cina, isu tentang mobilisasi akan orang asing, isu tentang utang-hutang dan segala macamnya. Itu tentu ada konteksnya, bukan berarti faktanya tidak ada. Contonya, iya ada hutangnya. tapi konteksnya apa sih sebetulnya? Ini yang harus kita pahami,” ucapnya.
“Termasuk dalam konteks pilpres yang sekarang ini ataupun isu-isu keagamaan yang mutakhir lah yang banyak. Itu harus dicari sumber informasi atau sumber primernya yang otoritatif . Jangan hanya mengandalkan forward misalnya dari pesan WhatsApp grup dan sebagainya,” tandasnya.
Kedua, setelah mengetahui sumber otoritatif atau sumber primernya, masyarakat harus mencari konteks dari informasi atau berita yang diterima.
“Kalau dua hal itu kita praktikkan dalam bermedia sosial, sebetulnya aman itu isu tentang Cina, isu tentang mobilisasi akan orang asing, isu tentang utang-hutang dan segala macamnya. Itu tentu ada konteksnya, bukan berarti faktanya tidak ada. Contonya, iya ada hutangnya. tapi konteksnya apa sih sebetulnya? Ini yang harus kita pahami,” ucapnya.
(dam)