Kabinet Jokowi-Ma'ruf Berpotensi Gendut Jika Gunakan Politik Akomodasi

Jum'at, 05 Juli 2019 - 14:16 WIB
Kabinet Jokowi-Maruf...
Kabinet Jokowi-Ma'ruf Berpotensi Gendut Jika Gunakan Politik Akomodasi
A A A
JAKARTA - Kabinet pemerintahan Jokowi - KH Ma'ruf Amin diprediksi akan gendut jika menggunakan politik akomodasi. Jika hal itu dilakukan maka susunan menteri dalam kabinet selanjutnya tidak berbeda dengan komposisi kabinet Jokowi-Jusuf Kalla.

Analisis Politik dan Direktur IndoStrategi, Arif Nurul Imam mengatakan, ada tiga model yang bakal digunakan dalam penyusunan kabinet Jokowi-Ma'ruf. Pertama, kabinet disusun berbasis kompetensi. "Dengan demikian kabinet akan diisi oleh para profesional untuk duduk di jabatan kementerian," ujarnya, Jumat (5/7/2019).

Kedua, politik akomodatif atau bagi-bagi kekuasaan. Arif mengatakan, dalam model penyusunan kabinet ini maka yang masuk di kabinet adalah mereka yang disorong atau diajukan oleh partai politik pendukung Koalisi Indonesia Kerja. "Akibatnya, kompetensi bukan prioritas melainkan pertimbangan politik sebagai penentu masuk di kabinet atau tidak," katanya.

Ketiga, kombinasi antara profesional dan politik akomodasi. Artinya, akan ada menteri yang datang dari profesional, tetapi juga akan banyak pula menteri yang berasal dari pertimbangan politik bagi-bagi kekuasaan.

"Jika melihat gejala penyusunan kabinet Jokowi, misalnya pihak istana berkehendak memiliki dukungan parlemen 80%, maka kemungkinan politik akomodasi akan menjadi kental," ujarnya.

Artinya, penyusunan kabinet nanti lebih banyak pertimbangan bagi-bagi kekuasaan. Apalagi, parpol pengusung Jokowi - Ma'ruf Amin sudah bersaing menyodorkan para kandidat menterinya, misalnya PKB dan Nasdem. "Kemungkinan lainnya, melakukan kombinasi dalam penyusunan kabinet sehingga akan ada profesional dan politisi yang duduk di kabinet," ungkapnya.

Dia menambahkan, kemungkinan itu ada karena Jokowi sudah tidak memiliki pertimbangan politik untuk kepentingan maju lagi di 2024. "Artinya, sesungguhnya ketergantungan dari parpol semakin kecil, kecuali hanya untuk mengamankan di parlemen. Jika politik akomodasi yang digunakan maka potensi kabinet gendut akan terbuka lebar, atau setidaknya seperti kabinet periode pertama," ucapnya.
(cip)
Berita Terkait
Refly Harun: Putusan...
Refly Harun: Putusan MA Sama Sekali Tak Pengaruhi Hasil Pilpres 2019
Survei Poltracking:...
Survei Poltracking: Mayoritas Pemilih Jokowi di Pilpres 2019 Dukung Ganjar-Mahfud
Ganjar Cerita Kedekatan...
Ganjar Cerita Kedekatan dengan Mahfud MD, Diskusi Cawapres Jokowi di Pilpres 2019
Kantor TPN Ganjar Pakai...
Kantor TPN Ganjar Pakai Markas Pemenangan Jokowi di Pilpres 2019
KAMI Tak Ambil Pusing...
KAMI Tak Ambil Pusing Dengar Nyinyiran Pendukung Pemerintah
Survei LSJ: 40,6 Persen...
Survei LSJ: 40,6 Persen Pendukung Jokowi di Pilpres 2019 Merapat ke Prabowo
Berita Terkini
KPK Dalami Pertemuan...
KPK Dalami Pertemuan Bupati Kuansing Suhardiman Amby dengan Menhut Raja Juli
KPK Sita Catatan Keuangan...
KPK Sita Catatan Keuangan usai Geledah Rumah Dinas hingga Kantor Bupati Lombok Barat
7 Kasus Pencucian Uang...
7 Kasus Pencucian Uang Terbesar di Indonesia, Nilainya Tembus Belasan Triliun hingga Penjara Seumur Hidup
Gugatan terhadap Waketum...
Gugatan terhadap Waketum dan Sekjen PPP Dicabut, Kader Pilih Fokus Konsolidasi Partai
Hari Bhayangkara ke-80,...
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Hadiahi Istri Arist Merdeka Sirait Ziarah Holyland
Hotman Paris Ungkap...
Hotman Paris Ungkap Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Belum Ditahan
Infografis
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved