Tidak Lapor Harta Kekayaan, Pejabat Terancam Sanksi

Jum'at, 12 April 2019 - 06:01 WIB
Tidak Lapor Harta Kekayaan,...
Tidak Lapor Harta Kekayaan, Pejabat Terancam Sanksi
A A A
JAKARTA - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan memberikan sanksi bagi aparatur pemerintah yang tidak melaporkan laporan harta kekayan pejabat negara (LHKPN) dan laporan harta kekayaan aparatur sipil negara (LHKASN). Sanksi yang diberikan mulai dari penundaan gaji sampai penurunan pangkat. Hal ini dimaksudkan agar semua pejabat dan aparatur pemerintah secara tertib melaporkan LHKPN dan LHKASN.

“Setiap pejabat yang tidak melaporkan LHPKN dan LHKSN dalam satu tahun akan dikenakan sanksi penundaan gaji berkala. Dan tidak menyampaikan LHKPN dalam dua tahun berturut-turut akan dikenakan sanksi berupa penurunan pangkat satu tahun lebih rendah,” tandas Sekretrais Jenderal (Sekjen) Kemendagri Hadi Prabowo di Kantor Kemendagri, Jakarta, kemarin.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, untuk saat ini masih ada 9% pejabat Kemendagri yang belum menyerahkan LHKPN. Dia pun meminta agar dalam waktu satu minggu 9% pejabat tersebut harus segera menyerahkan LHKPN.

“Kalau tidak (segera melaporkan LHKPN) di-Plt-kan (diganti pelaksana tugas) saja. Tidak masalah. Digantilah. Bagaimana mau menggerakkan daerah kalau internal tidak memberikan contoh. Tinggal 9% gampang kok, tinggal melalui online. Paling 2 sampai 3 jam selesai,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, bagi pejabat-pejabat tersebut tidak akan diberikan sertifikat pendidikan dan pelatihan (diklat) yang sudah dijalankan. Dia pun mengaku sempat menunda pelantikan eselon I dan II karena belum menyerahkan LHKPN. “Saya minta Pak Teguh (Kepala BPSDM Kemndagri), pejabat Kemendagri yang ikut diklat yang 9% dicek. Kalau belum menyerahkan LHKPN, jangan diberikan sertifikatnya,” katanya.

Deputi Bidang Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Pahala Nainggolan mengungkapkan, dalam hal laporan LHKPN memang harus ada unsur paksaan. Sebab, jika hanya mengimbau saja, maka seringkali hanya diabaikan saja. “Memang harus dipaksa. Kalau masih imbau-mengimbau, sudah susah. Orang tidak akan peduli,” tandasnya. Pahala mengatakan, paksaan dengan sanksi cukup efektif. Hal serupa juga dilakukan di internal KPK.

Di mana jika tidak segera melaporkan LHK elektronik, maka tidak akan diberikan akses. “Internal KPK tahun lalu akhir Maret baru 23%. Itu mengimbaunya sudah segala macam. Lalu di Juni 90%. Alasannya banyak benar. Tapi ketika kita peringatkan agar segera mengisi dengan ancaman pemberhentian akses, baru bisa 100%. Kalau akses diberhentikan, maka tidak akan dibayar,” ujarnya.
(don)
Berita Terkait
Wujudkan ASN Unggul,...
Wujudkan ASN Unggul, Kemendagri Gelar Rakornas
Pegawai Kantor Pajak...
Pegawai Kantor Pajak di Bekasi Dipukul Atasannya, Ternyata Ini Motifnyasin
Tok! Seluruh Fraksi...
Tok! Seluruh Fraksi di DPR Setuju RUU ASN Jadi UU
Kerap Dipolitisasi,...
Kerap Dipolitisasi, Korpri Usul Urusan PNS Wewenang Sekda Bukan Kepala Daerah
Anggota DPR Misbakhun...
Anggota DPR Misbakhun Ajak ASN Kedepankan Transparansi dan Akuntabilitas
Bangun Budaya Kerja,...
Bangun Budaya Kerja, Wamenkeu Perkuat Fondasi Jajaran ASN
Berita Terkini
Jaga Kredibilitas Negara,...
Jaga Kredibilitas Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Korupsi MBG
PDIP: UU Polri Harus...
PDIP: UU Polri Harus Mampu Cegah Intervensi Politik dan Kepentingan Oligarki
Penampakan Bupati Muara...
Penampakan Bupati Muara Enim Edison Pakai Rompi Oranye usai Ditetapkan Tersangka
Tiyo Ardianto Tolak...
Tiyo Ardianto Tolak Tawaran Bertemu Petinggi Lembaga Berbintang yang akan Berikan Apa pun yang Dia Mau
Semangat Otsus Harus...
Semangat Otsus Harus Tercermin dalam Desain Politik Papua
Meritokrasi di TNI,...
Meritokrasi di TNI, Kapuspen: Jabatan Tak Ditentukan seperti Urut Kacang Tapi Kompetensi
Infografis
Marwah Piala Dunia 2026...
Marwah Piala Dunia 2026 Terancam, 5 Negara Berpotensi Absen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved