Hasto Terpukau Militansi Pendukung 01 di Banyumas, Tegal dan Brebes
Sabtu, 06 April 2019 - 10:58 WIB
Hasto Terpukau Militansi Pendukung 01 di Banyumas, Tegal dan Brebes
A
A
A
JAKARTA - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin, Hasto Kristiyanto mengaku terpukau dengan militansi para pendukung Jokowi-Ma'ruf di Banyumas, Tegal dan Brebes yang rela kehujanan bersama Jokowi untuk kampanye bersama.
Menurut Hasto, masyarakat di sana tampak setia bersama Jokowi meski diguyur hujan. Hal ini membuktikan penetrasi yang dilakukan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno di Jawa Tengah 'gagal'.
Hasto menganggap, masuk Jawa Tengah dan langsung menusuk basis pertahanan Jokowi di Solo Raya adalah kesalahan terbesar Prabowo-Sandi. Mereka dianggap tidak paham kultur Jawa, maka dengan prinsip becik ketitik olo ketoro dan menang tanpa ngasorake, akhirnya arus bawah Jokowi-Ma'ruf Amin bergerak masif dan militan sebagaimana terlihat di Banyumas, Tegal, dan Brebes.
"Dalam momentum politik yang pas, militansi pendukung Paslon 01 sangat mengejutkan Paslon 02. Apalagi dalam strategi Sandi sendiri begitu banyak politik sandiwara. #SandiwaraUno," ujar Hasto, Sabtu (6/4/2019).
Dalam perspektif nasional, lanjut Hasto, survei internal paslon 01 menunjukkan bahwa daya penetrasi Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat dengan dukungan PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem, Hanura, Perindo, PKPI, PBB dan PSI bersama para tokoh dan relawan, jauh lebih besar hasilnya dibandingkan gerak Prabowo-Sandi di Jawa Tengah.
"Strategi Prabowo di Jateng dengan menampillan sosok Rustriningsih, yang kemaruk di politik, dimana adiknya pun sudah banyak mendapat kehormatan posisi strategis di partai, dan tetap merasa tidak puas diri, kini menjadi arus balik perlawanan dari pendukung Jokowi. Hal ini bisa dilihat bagaimana di Jateng bagian Barat yang selama ini di klaim berkiblat ke Sudirman Said ternyata hanyalah klaim di udara tanpa dukungan kekuatan darat," ungkapnya.
Selain itu, dukungan diberikan kepada Kiai Ma'ruf Amin melalui MUI dan NU ternyata juga sangat signifikan, bersama PKB dan PPP. Kata Hasto, rakyat Brebes juga mencatat bahwa ketika Sudirman Said menjadi orang penting di Pertamina, dan kemudian menjadi Menteri ESDM praktis tidak pernah menyentuh desanya sendiri agar berkemajuan. Sehingga investasi politik Sudirman Said murni ambisinya sebagai calon gubernur atau sekarang sebagai barisan sakit hati karena diganti Jokowi.
Maka menurut Sekjen DPP PDIP itu, kontestasi akhir Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan ditentukan oleh investasi politik jangka panjang, dan bukan instant. "Pada akhirnya, karakter pemimpinlah yang menyebabkan mengapa elektoral Pak Jokowi-KH Ma'ruf Amin terus meningkat. Terlebih setelah deklarasi Putih adalah Kita, cermin tidak hanya baju Pak Jokowi-KH Ma'ruf Amin yang berwarna putih, namun juga cermin bahwa politik itu diisi hal-hal baik. Semakin mereka menebar hoax dan fitnah, semakin besar prosentase kemenangan Paslon 01," pungkasnya.
Menurut Hasto, masyarakat di sana tampak setia bersama Jokowi meski diguyur hujan. Hal ini membuktikan penetrasi yang dilakukan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno di Jawa Tengah 'gagal'.
Hasto menganggap, masuk Jawa Tengah dan langsung menusuk basis pertahanan Jokowi di Solo Raya adalah kesalahan terbesar Prabowo-Sandi. Mereka dianggap tidak paham kultur Jawa, maka dengan prinsip becik ketitik olo ketoro dan menang tanpa ngasorake, akhirnya arus bawah Jokowi-Ma'ruf Amin bergerak masif dan militan sebagaimana terlihat di Banyumas, Tegal, dan Brebes.
"Dalam momentum politik yang pas, militansi pendukung Paslon 01 sangat mengejutkan Paslon 02. Apalagi dalam strategi Sandi sendiri begitu banyak politik sandiwara. #SandiwaraUno," ujar Hasto, Sabtu (6/4/2019).
Dalam perspektif nasional, lanjut Hasto, survei internal paslon 01 menunjukkan bahwa daya penetrasi Jokowi-Ma'ruf di Jawa Barat dengan dukungan PDIP, Golkar, PKB, PPP, Nasdem, Hanura, Perindo, PKPI, PBB dan PSI bersama para tokoh dan relawan, jauh lebih besar hasilnya dibandingkan gerak Prabowo-Sandi di Jawa Tengah.
"Strategi Prabowo di Jateng dengan menampillan sosok Rustriningsih, yang kemaruk di politik, dimana adiknya pun sudah banyak mendapat kehormatan posisi strategis di partai, dan tetap merasa tidak puas diri, kini menjadi arus balik perlawanan dari pendukung Jokowi. Hal ini bisa dilihat bagaimana di Jateng bagian Barat yang selama ini di klaim berkiblat ke Sudirman Said ternyata hanyalah klaim di udara tanpa dukungan kekuatan darat," ungkapnya.
Selain itu, dukungan diberikan kepada Kiai Ma'ruf Amin melalui MUI dan NU ternyata juga sangat signifikan, bersama PKB dan PPP. Kata Hasto, rakyat Brebes juga mencatat bahwa ketika Sudirman Said menjadi orang penting di Pertamina, dan kemudian menjadi Menteri ESDM praktis tidak pernah menyentuh desanya sendiri agar berkemajuan. Sehingga investasi politik Sudirman Said murni ambisinya sebagai calon gubernur atau sekarang sebagai barisan sakit hati karena diganti Jokowi.
Maka menurut Sekjen DPP PDIP itu, kontestasi akhir Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan ditentukan oleh investasi politik jangka panjang, dan bukan instant. "Pada akhirnya, karakter pemimpinlah yang menyebabkan mengapa elektoral Pak Jokowi-KH Ma'ruf Amin terus meningkat. Terlebih setelah deklarasi Putih adalah Kita, cermin tidak hanya baju Pak Jokowi-KH Ma'ruf Amin yang berwarna putih, namun juga cermin bahwa politik itu diisi hal-hal baik. Semakin mereka menebar hoax dan fitnah, semakin besar prosentase kemenangan Paslon 01," pungkasnya.
(kri)