Analisa Beredarnya Tabloid Indonesia Barokah

Rabu, 30 Januari 2019 - 12:51 WIB
Analisa Beredarnya Tabloid...
Analisa Beredarnya Tabloid Indonesia Barokah
A A A
JAKARTA - Munculnya tabloid Indonesia Barokah memunculkan berbagai polemik di seluruh kalangan baik masyarakat dan pemerintahan. Tabloid Indonesia Barokah beredar di tengah-tengah masyarakat menampilkan halaman depan berjudul 'Reuni 212: Kepentingan Umat Atau Kepentingan Politik?'.

Selain itu ada juga judul-judul kecil yang menyebut soal Hizbut Tahrir juga radikalisme. Menanggapi itu, Direktur new media watch Agus Sudibyo menyebut hadirnya dua anomali saat beredarnya tabloid Indonesia Barokah tersebut.

Anomali yang pertama adalah kembalinya pada print media, padahal telah muncul media baru (new media). "Ini justru kembali pada print dan tabloid lagi. Mestinya yang diintensifkan kampanye melalui new media, yakni sosila media dan lainnya," ujar Agus dalam diskusi di kawasan Slipi, Jakarta Barat, Rabu (30/1/2019).

(Baca juga: Tim Prabowo-Sandi Tak Akan Buang Waktu Cari Dalang Tabloid Barokah)

Anomali yang kedua, kata Agus, tabloid Indonesia Barokah disebarkan pada masjid-masjid dan majelis taklim di beberapa daerah. Padahal, dari hasil berbagai lembaga survei, kelompok atau majelis pada Islam sendiri sudah mempunyai pilihannya masing-masing baik memilih pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

"Kenapa kampanye masuk ke dalam kelompok yang sulit diubah. Seharusnya bukan pemilih yang loyal, harusnya menggaet pemilih galau, harusnya menggunakan media berbasis digital, sesuai dengan ekspektasi milenial," jelasnya.

Agus menilai, munculnya tabloid Indonesia Barokah hanya untuk mengecoh pada kelompok yang sudah memiliki pilihan paslon yang akan dilpilihnya pada pemilu 2019 nanti, baik paslon nomor urut 01 maupun paslon nomor urut 02.

"Saya menduga sebenarnya ini hanya merupakan untuk mengecoh agar kita hanya fokus pada strong supporter dan hanya menggaet soft supporter, dan ini hanya mengecoh kelompok pemilih tertentu untuk menahan kelompok loyal," tuturnya.
(maf)
Berita Terkait
Sempat Jadi Rival di...
Sempat Jadi Rival di Pilpres, Prabowo Ungkap Alasannya Mau Jadi Menteri Jokowi
Soal Reshuffle Kabinet,...
Soal Reshuffle Kabinet, Pengamat: Jokowi Menang 2-0 Atas Prabowo-Sandi
Survei Indikator Politik:...
Survei Indikator Politik: Pemilih Jokowi-Maruf Cenderung ke Ganjar Pranowo
Prabowo Ungkap Alasan...
Prabowo Ungkap Alasan Mau Gabung Kabinet Jokowi: Saya Tidak Ingin Bangsa Ini Pecah
Sejarah Pemilu di Indonesia...
Sejarah Pemilu di Indonesia dari Masa ke Masa, Info Penting untuk Tugas Sekolah
Kepada Deddy Corbuzier,...
Kepada Deddy Corbuzier, Prabowo Blak-blakan Ungkap Alasan Mau Jadi Menteri Jokowi
Berita Terkini
Harta Kekayaan Silmy...
Harta Kekayaan Silmy Karim Rp234,5 Miliar, Kini Jadi Tersangka Dugaan Pemerasan
Saiful Mujani Diperiksa...
Saiful Mujani Diperiksa soal Penghasutan, Todung Mulya Lubis: Ini Absurd
Sony Sanjaya Tulis Pesan...
Sony Sanjaya Tulis Pesan untuk Kepala BGN Nanik S Deyang Sebelum Ditahan, Apa Isinya?
KPK Segel Rumah Wamen...
KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim
Dadan Hindayana Cs Tersangka...
Dadan Hindayana Cs Tersangka Korupsi, Politikus PDIP Sebut Bolak-balik Singgung Kelemahan Tata Kelola MBG
Wamen Imipas Silmy Karim...
Wamen Imipas Silmy Karim Tersangka Kasus Pemerasan Ratusan Miliar
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved