Reaksi Berlebihan dalam Sikapi Isu Bisa Rugikan Capres
Jum'at, 04 Januari 2019 - 09:36 WIB
Reaksi Berlebihan dalam Sikapi Isu Bisa Rugikan Capres
A
A
A
JAKARTA - Hiruk-pikuk panggung politik nasional dua bulan terahir dinilai belum memberikan efek yang signifikan terhadap elektabilitas kedua pasangan calon presiden (capres).
Kedua pasangan kandidat capres-cawapres diingatkan lebih berhati-hati dalam mengelola komunikasi politik yang benar, membenahi manajemen kampanye dan manajemen isu agar tidak kontraproduktif, blunder terhadap elektabilitas masing-masing kandidat.
Jokowi sebagai capres petahanan atau incumbent fokus saja pada "prasasti" dan "monumen" yang sudah dicapainya.
"Enggak usah terlalu baper (bawa perasaan-red) dan reaksioner merespons genderang perang yang dimainkan sang penantang," kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan tertulis kepada SINDOnews, Kamis 3 Januari 2019.
Menurut dia, petahana memiliki banyak keuntungan. Oleh karena itu, fokus saja pada capaian dan target kerja yang sudah tercapai, sehingga prestasi dan kinerja keberhasilan pemerintah tersampaikan dengan baik ke publik.
"Apabila masyarakat puas dengan kinerja incumbent (approval rating) maka rakyat akan kembali memberi kepercayaan berupa mandat legitimasi periode kedua dan lahir pemilih yang mantap betul (strong voter) memilih petahana," tuturnya.
Namun, Pangi heran dengan tim pendukung Jokowi-Ma'ruf yang belakangan sangat gandrung menyerang dengan isu identitas ketimbang membuka kotak pandora prestasi atau capaian kinerja petahana.
"Ini jelas wilayah pertempuran yang berbahaya bagi incumbent," tuturnya.
Menurut dia, kesalahan dalam menentukan tema kampanye, reaksi berlebihan terhadap sebuah isu bahkan pemilihan kata dan diksi yang salah bisa berdampak buruk pada citra kandidat secara langsung.
Pangi mencontohkan citra Prabowo misalnya dalam kasus Hoax Ratna Sarumpaet. Prabowo dinilainya harus menelan pil pahit mendapat sentimen negatif dari publik sebagai akibat salah dalam menentukan sikap.
"Artinya, sentimen negatif publik terhadap isu sangat tinggi dan dapat dipastikan akan merugikan Prabowo. Begitu juga dalam isu-isu lain seperti Tampang Boyolali yang sentimen negatif terhadap citra Prabowo, bahkan bisa mengerus elektabilitas sang penantang," tuturnya.
Sementara untuk kubu Jokowi, kata dia, sikap reaktif dan reaksioner terhadap sebuah isu dan kritik oposisi juga berdampak negatif. Politik Sontoloyo misalnya diresposn negatif dengan tingkat ketidak-sukaan hasil riset Voxpol Center mencapai 65%.
Namun di sisi lain, ketika pemerintah fokus pada kinerja, memakai kaca mata kuda dan tak terpancing, justru publik memberikan respons positif.
"Hal ini bisa dilihat dalam baberapa isu utama seperti penyelenggaraan Asian Games, kunjungan ke korban gempa dan tsunami Palu, kunjungan ke korban gempa Lombok dan kunjungan ke lokasi bencana tsunami Selat Sunda," katanya.
Menurut dia, kubu Prabowo juga mendapat keuntungan secara tidak langsung dari beberapa isu yang dianggap sebagai kelemahan pemerintah, isu tersebut di antaranya kurs rupiah yang sempat menyentuh angka Rp15.000, kasus pembakaran bendera HTI sampai aksi Reuni 212.
Dari pemaparan kasus di atas, kata dia, dapat diambil pelajaran penting bahwa probalitas incumbent memenangi kontestasi elektoral Pilpres 2019 masih sangat besar.
"Dengan catatan tetap fokus pada kinerja dan kerja nyata dan tidak terpancing untuk memberikan respons dan bersikap reaktif berlebihan merespons isu yang sengaja didesain dan digoreng tim lawan politik," tuturnya.
Menurut dia, sikap reaktif berlebihan justru akan mengalihkan fokus pemerintah yang pada akhirnya membuat performa pemerintah menurun.
"Saya tidak tahu, apakah tim Jokowi sadar atau tidak? Jika situasi ini terus dibiarkan terjadi akan menjadi keuntungan bagi sang penantang di tengah miskinnya narasi kampanye sebagai alternatif yang ditawarkan kepada publik," tuturnya.
Kedua pasangan kandidat capres-cawapres diingatkan lebih berhati-hati dalam mengelola komunikasi politik yang benar, membenahi manajemen kampanye dan manajemen isu agar tidak kontraproduktif, blunder terhadap elektabilitas masing-masing kandidat.
Jokowi sebagai capres petahanan atau incumbent fokus saja pada "prasasti" dan "monumen" yang sudah dicapainya.
"Enggak usah terlalu baper (bawa perasaan-red) dan reaksioner merespons genderang perang yang dimainkan sang penantang," kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan tertulis kepada SINDOnews, Kamis 3 Januari 2019.
Menurut dia, petahana memiliki banyak keuntungan. Oleh karena itu, fokus saja pada capaian dan target kerja yang sudah tercapai, sehingga prestasi dan kinerja keberhasilan pemerintah tersampaikan dengan baik ke publik.
"Apabila masyarakat puas dengan kinerja incumbent (approval rating) maka rakyat akan kembali memberi kepercayaan berupa mandat legitimasi periode kedua dan lahir pemilih yang mantap betul (strong voter) memilih petahana," tuturnya.
Namun, Pangi heran dengan tim pendukung Jokowi-Ma'ruf yang belakangan sangat gandrung menyerang dengan isu identitas ketimbang membuka kotak pandora prestasi atau capaian kinerja petahana.
"Ini jelas wilayah pertempuran yang berbahaya bagi incumbent," tuturnya.
Menurut dia, kesalahan dalam menentukan tema kampanye, reaksi berlebihan terhadap sebuah isu bahkan pemilihan kata dan diksi yang salah bisa berdampak buruk pada citra kandidat secara langsung.
Pangi mencontohkan citra Prabowo misalnya dalam kasus Hoax Ratna Sarumpaet. Prabowo dinilainya harus menelan pil pahit mendapat sentimen negatif dari publik sebagai akibat salah dalam menentukan sikap.
"Artinya, sentimen negatif publik terhadap isu sangat tinggi dan dapat dipastikan akan merugikan Prabowo. Begitu juga dalam isu-isu lain seperti Tampang Boyolali yang sentimen negatif terhadap citra Prabowo, bahkan bisa mengerus elektabilitas sang penantang," tuturnya.
Sementara untuk kubu Jokowi, kata dia, sikap reaktif dan reaksioner terhadap sebuah isu dan kritik oposisi juga berdampak negatif. Politik Sontoloyo misalnya diresposn negatif dengan tingkat ketidak-sukaan hasil riset Voxpol Center mencapai 65%.
Namun di sisi lain, ketika pemerintah fokus pada kinerja, memakai kaca mata kuda dan tak terpancing, justru publik memberikan respons positif.
"Hal ini bisa dilihat dalam baberapa isu utama seperti penyelenggaraan Asian Games, kunjungan ke korban gempa dan tsunami Palu, kunjungan ke korban gempa Lombok dan kunjungan ke lokasi bencana tsunami Selat Sunda," katanya.
Menurut dia, kubu Prabowo juga mendapat keuntungan secara tidak langsung dari beberapa isu yang dianggap sebagai kelemahan pemerintah, isu tersebut di antaranya kurs rupiah yang sempat menyentuh angka Rp15.000, kasus pembakaran bendera HTI sampai aksi Reuni 212.
Dari pemaparan kasus di atas, kata dia, dapat diambil pelajaran penting bahwa probalitas incumbent memenangi kontestasi elektoral Pilpres 2019 masih sangat besar.
"Dengan catatan tetap fokus pada kinerja dan kerja nyata dan tidak terpancing untuk memberikan respons dan bersikap reaktif berlebihan merespons isu yang sengaja didesain dan digoreng tim lawan politik," tuturnya.
Menurut dia, sikap reaktif berlebihan justru akan mengalihkan fokus pemerintah yang pada akhirnya membuat performa pemerintah menurun.
"Saya tidak tahu, apakah tim Jokowi sadar atau tidak? Jika situasi ini terus dibiarkan terjadi akan menjadi keuntungan bagi sang penantang di tengah miskinnya narasi kampanye sebagai alternatif yang ditawarkan kepada publik," tuturnya.
(dam)