300 Mahasiswa Kerja Paksa di Taiwan Gunakan Jasa Calo

Jum'at, 04 Januari 2019 - 04:17 WIB
300 Mahasiswa Kerja...
300 Mahasiswa Kerja Paksa di Taiwan Gunakan Jasa Calo
A A A
SEMARANG - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir memastikan ratusan mahasiswa Indonesia yang kerja paksa di Taiwan tidak melalui program dari Kemenristekdikti. Mereka menggunakan jasa calo atau agensi.

“Dengan kata lain, mereka melalui jalur calo itu. Dari calo itu, mereka berangkat ke sana sendiri, ditawari bisa masuk perguruan tinggi sana. Ternyata tidak bisa diterima. Akhirnya dia bekerja di perusahaan. Akhirnya (jadi korban) penipuan kan,” kata Nasir di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2019 Kemenristekdikti, di Universitas Diponegoro, Semarang, Kamis (3/1/2019).

Dia pun mengatakan, hingga saat ini masih menyelidiki kasus ratusan mahasiswa yang menjalani kerja paksa tersebut. Di antaranya berkoordinasi dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Taiwan.

“Oleh karena itu kami akan bekerjasama dengan TETO (Taipei Economic and Trade Office), KDEI yang ada di Taiwan maupun yang ada di Jakarta. Saya sudah minta pada Dirjen Kelembagaan nanti berkoordinasi dengan TETO yang ada di Jakarta,” terangnya.

Untuk itu, dia mengimbau masyarakat tak mudah percaya dengan janji dan iming-iming yang disampaikan calo maupun agensi. Setiap warga Negara Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri bisa berkoordinasi dengan Kemenristekdikti agar tak menjadi korban penipuan.

“Saya berharap seluruh rakyat Indonesia yang akan studi lanjut ke Taiwan, tolong dicek betul. Apakah proses pembelajarannya benar atau tidak? Karena di Taiwan perguruan tinggi baik, kelas dunia juga banyak. Jangan sampai kita men-generaliasi itu bermasalah semua di Taiwan,” tukasnya.

Kabar kasus kerja paksa ratusan mahasiswa asal Indonesia itu berawal dari informasi politikus Kuomintang Ko Chih-en. Para pelajar itu berusia di bawah 20 tahun dan masuk kelas hanya dua hari dalam sepekan.

Selama empat hari menjadi buruh di pabrik menjadi buruh dari pagi hingga malam. Mereka bekerja mengemas 30.000 lensa kontak selama 10 jam per sif. Sementara waktu yang disediakan untuk istirahat hanya dua jam. Meski mayoritas Muslim, namun mereka hanya mendapatkan makanan dari babi.
(pur)
Berita Terkait
Huawei Kemendikbud Percepat...
Huawei Kemendikbud Percepat Transformasi SDM Digital di Perguruan Tinggi
Wamendikti Ajak Perguruan...
Wamendikti Ajak Perguruan Tinggi untuk Inovatif dan Adaptif Hadapi Perubahan Zaman
Kemendikti Bangun Sistem...
Kemendikti Bangun Sistem Mentorship Antarkampus, Dorong Kolaborasi Riset dan Inovasi
Kemendikbud Tegaskan...
Kemendikbud Tegaskan Uang Kuliah Tidak Naik di Masa Pandemi Covid-19
Lindungi Institusi Pendidikan,...
Lindungi Institusi Pendidikan, Teknologi Bantu Wujudukan Integritas Riset
Paradoks Pendidikan...
Paradoks Pendidikan Tinggi
Berita Terkini
4 Prajurit TNI Penyiraman...
4 Prajurit TNI Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Divonis 1,5-3 Tahun Penjara, 2 Dipecat
Banding, Ariyanto Bakri...
Banding, Ariyanto Bakri Tetap Dihukum 16 Tahun di Kasus Suap CPO dan Bayar Uang Pengganti Rp21 Miliar
Sari Yuliati Minta Kasus...
Sari Yuliati Minta Kasus Pembakaran Santri di Lombok Diusut Tuntas
Prabowo Bertolak ke...
Prabowo Bertolak ke Lampung, Resmikan RSUD dan Buka Munas HIPMI
Masa Penahanan Gus Yaqut...
Masa Penahanan Gus Yaqut Diperpanjang selama 30 Hari
Prabowo Minta Menkes...
Prabowo Minta Menkes Perluas CKG-Perkuat Penanggulangan TBC
Infografis
Tegaskan Status Negara...
Tegaskan Status Negara Berdaulat, Taiwan Lawan China di PBB
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved