PDIP Minta Prabowo Lakukan Kampanye Mendidik, Bukan Hoaks
Rabu, 02 Januari 2019 - 20:16 WIB
PDIP Minta Prabowo Lakukan Kampanye Mendidik, Bukan Hoaks
A
A
A
JAKARTA - Anggota DPR dari Fraksi PDIP Charles Honoris meminta calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto menggunakan cara-cara kampanye baru yang mendidik publik, yakni dengan adu ide, adu program dan adu rekam jejak. Bukan dengan terus menerus menakut-nakuti rakyat dengan hoaks seperti yang sudah-sudah, dan ketika sudah muncul gelombang protes, baru minta maaf.
"Hoaks itu bisa dicegah dengan tertib klarifikasi, bukan diselesaikan dengan minta maaf berkali-kali," kata Charles dalam siaran tertulis yang diterima SINDOnews pada Rabu (2/1/2019).
Charles menilai, ucapan Prabowo yang mengaku mendapat laporan bahwa selang cuci darah di RSCM dipakai 40 orang, polanya sama dengan hoaks yang pernah disebarkan dalam kasus Ratna Sarumpaet.
"Prabowo mengaku dapat laporan dan belum diklarifikasi kebenarannya, tapi sudah disebarkan ke publik bahwa seolah-olah itu fakta," ujarnya. Memasuki Tahun Baru 2019, lanjut Charles, sebaiknya Prabowo menggunakan cara-cara kampanye baru yang mendidik publik, yakni dengan adu ide, adu program dan adu rekam jejak.
"Bukan dengan terus menerus menakut-nakuti rakyat dengan hoaks seperti yang sudah-sudah, dan ketika sudah muncul gelombang protes, baru minta maaf," ucapnya.
"Hoaks itu bisa dicegah dengan tertib klarifikasi, bukan diselesaikan dengan minta maaf berkali-kali," kata Charles dalam siaran tertulis yang diterima SINDOnews pada Rabu (2/1/2019).
Charles menilai, ucapan Prabowo yang mengaku mendapat laporan bahwa selang cuci darah di RSCM dipakai 40 orang, polanya sama dengan hoaks yang pernah disebarkan dalam kasus Ratna Sarumpaet.
"Prabowo mengaku dapat laporan dan belum diklarifikasi kebenarannya, tapi sudah disebarkan ke publik bahwa seolah-olah itu fakta," ujarnya. Memasuki Tahun Baru 2019, lanjut Charles, sebaiknya Prabowo menggunakan cara-cara kampanye baru yang mendidik publik, yakni dengan adu ide, adu program dan adu rekam jejak.
"Bukan dengan terus menerus menakut-nakuti rakyat dengan hoaks seperti yang sudah-sudah, dan ketika sudah muncul gelombang protes, baru minta maaf," ucapnya.
(pur)