Amien Rais Dituntut Mundur, PAN: Jangan Ditanggapi Serius
Rabu, 26 Desember 2018 - 20:38 WIB
Amien Rais Dituntut Mundur, PAN: Jangan Ditanggapi Serius
A
A
A
JAKARTA - Amien Rais disarankan tidak perlu menganggap serius tuntutan sejumlah pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) yang memintanya mundur dari partai berlambang matahari terbit itu.
Surat terbuka untuk Amien Rais itu dari Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad, Toeti Heraty dan Zumrotin itu dinilai memiliki banyak keanehan dan keganjilan.
"Amien Rais dan PAN tentu tidak perlu menganggap serius terhadap surat tersebut," ujar Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN Saleh Partaonan Daulay ketika dihubungi wartawan, Rabu (26/12/2018). (Baca juga: Para Pendiri PAN Ini Minta Amien Rais Mundur )
Salah satu contoh keanehan dan keganjilan yang dimaksud Saleh adalah surat tersebut ditulis dan ditandatangani oleh mereka yang sudah lama sekali tidak aktif dan tidak mengikuti isu dan arah perjuangan politik PAN.
"Karena itu tidak jelas landasan dan pijakan mereka dalam menulis surat tersebut," ujarnya.
Selain itu, kata dia, fakta menunjukkan Amien Rais masih tetap konsisten dalam memperjuangkan reformasi dan berupaya membawa perbaikan bagi bangsa Indonesia.
"Kalaupun ada perbedaan dengan pemerintah yang berkuasa, itu harus dimaknai sebagai bagian dari semangat untuk memperbaiki kehidupan sosial politik yang dinilainya belum berpihak sepenuhnya bagi kesejahteraan rakyat," ujarnya.
Dia menilai permintaan agar Amien Rais mundur dari kehidupan organisasi sosial dan politik menciderai demokrasi dan potensial melanggar UUD 1945, khususnya pasal tentang kebebasan bersyarikat dan berkumpul.
sebagai warga negara, kata dia, Amien dijamin hak-haknya untuk berkiprah di organisasi mana pun, termasuk organisasi politik.
"Secara kepartaian, Amien Rais tidak terlibat langsung dalam mengurus dan mengambil keputusan di PAN. Malah justru sebagai Ketua Dewan Kehormatan PAN, para pengurus lah yang sering meminta pendapat dan nasihat beliau," paparnya.
Mengenai aktivitas Amien Rais di luar PAN, lanjut dia, tidak terkait dengan kiprah dan garis politik PAN secara langsung. "Itu adalah hak dan kewajiban Amien Rais yang justru dapat dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga moral dan keadaban bangsa," katanya.
Keganjilan lainnya, sambung dia, surat terbuka itu ditandatangani oleh salah seorang yang sudah mengundurkan diri dari PAN sejak beberapa tahun lalu, tepatnya 15 Mei 2014.
"Sebagai orang yang sudah mengundurkan diri, tentu sangat tidak tepat jika ikut campur lagi urusan PAN," ungkapnya.
Untuk itu dia meminta Amien tetap konsisten dalam melanjutkan perjuangannya. "Ada banyak pekerjaan lain yang belum dituntaskan," ujarnya.
Kemudian, kata Saleh, banyak elemen masyarakat yang perlu diperhatikan dan diperjuangkan.
"Kepada seluruh kader dan simpatisan diminta untuk tidak terpengaruh. Kerja keras dan cerdas harus terus dilakukan. Bahkan, kejadian seperti ini haruslah dijadikan sebagai motivasi untuk meraih kemenangan," tuturnya.
Surat terbuka untuk Amien Rais itu dari Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad, Toeti Heraty dan Zumrotin itu dinilai memiliki banyak keanehan dan keganjilan.
"Amien Rais dan PAN tentu tidak perlu menganggap serius terhadap surat tersebut," ujar Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN Saleh Partaonan Daulay ketika dihubungi wartawan, Rabu (26/12/2018). (Baca juga: Para Pendiri PAN Ini Minta Amien Rais Mundur )
Salah satu contoh keanehan dan keganjilan yang dimaksud Saleh adalah surat tersebut ditulis dan ditandatangani oleh mereka yang sudah lama sekali tidak aktif dan tidak mengikuti isu dan arah perjuangan politik PAN.
"Karena itu tidak jelas landasan dan pijakan mereka dalam menulis surat tersebut," ujarnya.
Selain itu, kata dia, fakta menunjukkan Amien Rais masih tetap konsisten dalam memperjuangkan reformasi dan berupaya membawa perbaikan bagi bangsa Indonesia.
"Kalaupun ada perbedaan dengan pemerintah yang berkuasa, itu harus dimaknai sebagai bagian dari semangat untuk memperbaiki kehidupan sosial politik yang dinilainya belum berpihak sepenuhnya bagi kesejahteraan rakyat," ujarnya.
Dia menilai permintaan agar Amien Rais mundur dari kehidupan organisasi sosial dan politik menciderai demokrasi dan potensial melanggar UUD 1945, khususnya pasal tentang kebebasan bersyarikat dan berkumpul.
sebagai warga negara, kata dia, Amien dijamin hak-haknya untuk berkiprah di organisasi mana pun, termasuk organisasi politik.
"Secara kepartaian, Amien Rais tidak terlibat langsung dalam mengurus dan mengambil keputusan di PAN. Malah justru sebagai Ketua Dewan Kehormatan PAN, para pengurus lah yang sering meminta pendapat dan nasihat beliau," paparnya.
Mengenai aktivitas Amien Rais di luar PAN, lanjut dia, tidak terkait dengan kiprah dan garis politik PAN secara langsung. "Itu adalah hak dan kewajiban Amien Rais yang justru dapat dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga moral dan keadaban bangsa," katanya.
Keganjilan lainnya, sambung dia, surat terbuka itu ditandatangani oleh salah seorang yang sudah mengundurkan diri dari PAN sejak beberapa tahun lalu, tepatnya 15 Mei 2014.
"Sebagai orang yang sudah mengundurkan diri, tentu sangat tidak tepat jika ikut campur lagi urusan PAN," ungkapnya.
Untuk itu dia meminta Amien tetap konsisten dalam melanjutkan perjuangannya. "Ada banyak pekerjaan lain yang belum dituntaskan," ujarnya.
Kemudian, kata Saleh, banyak elemen masyarakat yang perlu diperhatikan dan diperjuangkan.
"Kepada seluruh kader dan simpatisan diminta untuk tidak terpengaruh. Kerja keras dan cerdas harus terus dilakukan. Bahkan, kejadian seperti ini haruslah dijadikan sebagai motivasi untuk meraih kemenangan," tuturnya.
(dam)