Video Kampanye Prabowo Dinilai Tanamkan Pesimisme Pada Generasi Muda
Selasa, 18 Desember 2018 - 11:16 WIB
Video Kampanye Prabowo Dinilai Tanamkan Pesimisme Pada Generasi Muda
A
A
A
JAKARTA - Pengamat Komunikasi dari Univeritas Bung Karno, Cecep Handoko menilai video kampanye terbaru pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menyindir profesi arsitek, juga profesi mandiri yang sudah banyak digeluti generasi milenial, terkesan menakut-nakuti para pemuda yang baru lulus atau pun belum lulus kuliah.
Itu terlihat dalam konten video dari pasangan Prabowo-Sandi yang teruang dalam iklan 'kerja, kerja, kerja' Gerindra, yang diunggah akun Twitter resmi Partai Gerindra.
"Secara keseluruhan konsep kampanye tim Prabowo cenderung menakuti dan menanamkan pesimisme masyarakat," ujar pria yang akrab disapa Ceko ini ketika dihubungi wartawan, Senin (17/12/2018).
Dia menilai, tim dari kubu Prabowo-Sandi terus-menerus menebar pesan yang cenderung mengajak publik untuk pesimis. Terlebih, dalam video tersebut terkesan 'merendahkan' profesi tertentu.
"Menanamkan jiwa pesimis pada generasi muda, tim Prabowo enggak tahu kalau sekarang para konglomerat dunia didominasi oleh orang-orang yang mampu memanfaatkan teknologi sebut saja Ali Baba, Mark Zuckerberg dan sederet nama lainnya," tegas dia.
Dalam video itu juga, kata dia, ada bagian lain yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa itu karekter Prabowo yang sebenarnya. Yakni gagal berkali-kali jadi presiden juga tidak mau bergerak maju melihat dunia profesi dan pekerjaan yang berubah.
"Sama seperti isi iklan itu, seorang sarjana arsitek yang belum mendapat kerjaan dan menganggap kerjaan lain tidak pantas karena tidak sesuai dengan cita-cita bapaknya. Belum lagi di situ kok kayak ada kesan menghina pekerjaan sebagai fotografer," kata dia.
Di era digital seperti saat ini, kata dia, peluang usaha dari berbagai sektor terbuka lebar. Baik itu dari menempatkan posisi pekerja ataupun wirausaha. "Pertama era digital berpengaruh pada besaran modal usaha kalau anak muda kreatif dia punya peluang untuk berwirausaha meski tidak mempunyai modal besar," tuturnya.
Misal, lanjutnya seperti menjadi reseller sebuah produk, generasi milenal memanfaatkan media sosial untuk berjualan dengan tidak perlu mengeluarkan modal. Asal ada kemauan dan kesungguhan berusaha.
Bila ini ditarik ke arah politik, dia melihat selama ini pasangan capres yang punya konsep jelas terhadap perkembangan industri kreatif ataupun digital ekonomi baru pasangan Jokowi-Ma'ruf. "Hal itu jelas dari progran revolusi digital 4.0 yang mereka dengungkan," ucap Ceko.
Dihubungi terpisah, Aktivis 98 Aan Rudianto menilai apa yang disampaikan dalam iklan itu tidak akan terealiasikan oleh pasangan Prabowo-Sandi perihal lapangan pekerjaan. "Konten di video itu omong doang, cenderung tidak realistis, menebar pesimis ke generasi muda, padahal sudah banyak dukungan dari pemerintah terhadap generasi muda," kata Aan.
Hal lain yang disoroti dalam video itu, seperti tak punya konsep lain dan menjiplak. Bahkan dari sisi konten juga berputar-putar. Ini seperti hendak menegaskan soal Prabowo sendiri yang dikesankan tegas namun sejatinya selalu berputar-putar.
Misal seperti yang disampaikan Prabowo soal perpanjangan kontrak raksasa tambang berbasis Amerika Serikat, PT Freeport Indonesia di Hotel Sahid 2013 silam. Ketika Prabowo diwawancarai media menjawab dengan kalimat yang berputar-putar.
"Saya jadi saksi konferensi pers 2013 di Hotel Sahid, selepas acara Gerindra. Seorang wartawan bertanya pada Prabowo: "Bagaimana sikap Anda pada Freeport?" Jawabannya tidak jelas, muter-muter. Sementara Jokowi tidak banyak omong, lalu justru mampu ambil alih 51 persen saham Freeport," katanya.
Menurut dia, slogan nasionalis Prabowo jauh dengan kata kenyataan. Ibarat, kata dia, jauh panggang dari api. "Termasuk iklan tersebut, itu bagian dari kebohongan Prabowo membangun citra seolah-olah dirinya hebat, juru selamat. Faktanya ditanya wartawan saja ngejelimet," sindir dia.
Itu terlihat dalam konten video dari pasangan Prabowo-Sandi yang teruang dalam iklan 'kerja, kerja, kerja' Gerindra, yang diunggah akun Twitter resmi Partai Gerindra.
"Secara keseluruhan konsep kampanye tim Prabowo cenderung menakuti dan menanamkan pesimisme masyarakat," ujar pria yang akrab disapa Ceko ini ketika dihubungi wartawan, Senin (17/12/2018).
Dia menilai, tim dari kubu Prabowo-Sandi terus-menerus menebar pesan yang cenderung mengajak publik untuk pesimis. Terlebih, dalam video tersebut terkesan 'merendahkan' profesi tertentu.
"Menanamkan jiwa pesimis pada generasi muda, tim Prabowo enggak tahu kalau sekarang para konglomerat dunia didominasi oleh orang-orang yang mampu memanfaatkan teknologi sebut saja Ali Baba, Mark Zuckerberg dan sederet nama lainnya," tegas dia.
Dalam video itu juga, kata dia, ada bagian lain yang secara tidak langsung menjelaskan bahwa itu karekter Prabowo yang sebenarnya. Yakni gagal berkali-kali jadi presiden juga tidak mau bergerak maju melihat dunia profesi dan pekerjaan yang berubah.
"Sama seperti isi iklan itu, seorang sarjana arsitek yang belum mendapat kerjaan dan menganggap kerjaan lain tidak pantas karena tidak sesuai dengan cita-cita bapaknya. Belum lagi di situ kok kayak ada kesan menghina pekerjaan sebagai fotografer," kata dia.
Di era digital seperti saat ini, kata dia, peluang usaha dari berbagai sektor terbuka lebar. Baik itu dari menempatkan posisi pekerja ataupun wirausaha. "Pertama era digital berpengaruh pada besaran modal usaha kalau anak muda kreatif dia punya peluang untuk berwirausaha meski tidak mempunyai modal besar," tuturnya.
Misal, lanjutnya seperti menjadi reseller sebuah produk, generasi milenal memanfaatkan media sosial untuk berjualan dengan tidak perlu mengeluarkan modal. Asal ada kemauan dan kesungguhan berusaha.
Bila ini ditarik ke arah politik, dia melihat selama ini pasangan capres yang punya konsep jelas terhadap perkembangan industri kreatif ataupun digital ekonomi baru pasangan Jokowi-Ma'ruf. "Hal itu jelas dari progran revolusi digital 4.0 yang mereka dengungkan," ucap Ceko.
Dihubungi terpisah, Aktivis 98 Aan Rudianto menilai apa yang disampaikan dalam iklan itu tidak akan terealiasikan oleh pasangan Prabowo-Sandi perihal lapangan pekerjaan. "Konten di video itu omong doang, cenderung tidak realistis, menebar pesimis ke generasi muda, padahal sudah banyak dukungan dari pemerintah terhadap generasi muda," kata Aan.
Hal lain yang disoroti dalam video itu, seperti tak punya konsep lain dan menjiplak. Bahkan dari sisi konten juga berputar-putar. Ini seperti hendak menegaskan soal Prabowo sendiri yang dikesankan tegas namun sejatinya selalu berputar-putar.
Misal seperti yang disampaikan Prabowo soal perpanjangan kontrak raksasa tambang berbasis Amerika Serikat, PT Freeport Indonesia di Hotel Sahid 2013 silam. Ketika Prabowo diwawancarai media menjawab dengan kalimat yang berputar-putar.
"Saya jadi saksi konferensi pers 2013 di Hotel Sahid, selepas acara Gerindra. Seorang wartawan bertanya pada Prabowo: "Bagaimana sikap Anda pada Freeport?" Jawabannya tidak jelas, muter-muter. Sementara Jokowi tidak banyak omong, lalu justru mampu ambil alih 51 persen saham Freeport," katanya.
Menurut dia, slogan nasionalis Prabowo jauh dengan kata kenyataan. Ibarat, kata dia, jauh panggang dari api. "Termasuk iklan tersebut, itu bagian dari kebohongan Prabowo membangun citra seolah-olah dirinya hebat, juru selamat. Faktanya ditanya wartawan saja ngejelimet," sindir dia.
(kri)