Hoaks Dianggap Bisa Ganggu Stabilitas Nasional

Senin, 15 Oktober 2018 - 22:18 WIB
Hoaks Dianggap Bisa...
Hoaks Dianggap Bisa Ganggu Stabilitas Nasional
A A A
JAKARTA - Berita bohong alias hoaks dianggap bisa mengganggu stabilitas nasional. Contohnya, kasus hoaks Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya beberapa orang laki-laki di Bandung, Jawa Barat.

"Kasus hoaks ini dalam konteks politik bisa mengganggu stabilitas nasional dan bisa menganggu ketertiban membuat situasi yang krusial seperti kasusnya Ratna Sarumpaet," ujar Ketua Umum DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi dalam diskusi bertajuk Menangkal Hoaks Menjelang Pilpres 2019 di Jakarta, Senin (15/10/2018).

Selain itu kata dia, hoaks juga bisa menimbulkan saling curiga, saling hasut dan saling menjatuhkan di antara masyarakat. Akibatnya, sesama anak bangsa tidak saling percaya.

Dirinya pun menyinggung kasus hoaks yang menimpa Jenderal Pol Tito Karnavian yang digunakan untuk menjatuhkan kredibilitas Kapolri. "Kapolri sudah susah payah membangun stabilitas hingga Indonesia kondusif, baik itu menghadapi demonstrasi bela Islam dengan pendekatan yang lembut, lalu pilkada serentak dan Asian Games aman terkendali," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, Pilpres 2019 merupakan pertarungan yang bakal sarat permainan-permainan politik. Dia menambahkan, Pilpres adalah pesta demokrasi dan seharusnya pesta demokrasi disambut dengan gembira oleh orang-orang.

"Pilpres ini harus berjalan mulus agar adanya siapapun presiden yang dipilih berdasarkan pilihan rakyat," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto mengaku sangat bersedih ketika mendengar seorang pimpinan Parpol yang mempersilahkan kadernya melakukan kampanye positif sebanyak 80 persen dan kampanye negatif 20 persen asalkan berdasarkan fakta dan data.

"Saya terus terang sedih dengan pernyataan politisi yang mengatakan boleh negative campaign 20 persen dan positive campaign 80 persen," ujarnya dalam kesempatan sama.

Dia menambahkan, kampanye negatif memang tidak dilarang namun harus dilengkapi dengan data yang valid. Jika tidak dilengkapi dengan data yang cukup, maka kampanye negatif itu seperti hoaks. Kemudian, orang yang menyebarluaskannya pun bisa dijerat hukum. Maka itu, dia mengimbau semua pihak untuk menahan diri.
(maf)
Berita Terkait
Instagram Rio Dewanto...
Instagram Rio Dewanto Digeruduk Netizen usai Ratna Sarumpaet Kedapatan Keluar Berkendara saat Nyepi di Bali
Warganet Sandingkan...
Warganet Sandingkan Mensos Risma dengan Ratna Sarumpaet
Atiqah Hasiholan Tepis...
Atiqah Hasiholan Tepis Ratna Sarumpaet Gelapkan Warisan: Hartanya Masih Ada
Atiqah Hasiholan Diperiksa...
Atiqah Hasiholan Diperiksa 8,5 Jam Kasus Dugaan Penggelapan Warisan Ratna Sarumpaet
Ratna Sarumpaet Dilaporkan...
Ratna Sarumpaet Dilaporkan Cucu Atas Dugaan Penggelapan Harta Warisan
Ratna Sarumpaet Diduga...
Ratna Sarumpaet Diduga Usir Cucu saat Minta Dana Pendidikan
Berita Terkini
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
Ajakan Tobat Ekologis...
Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
KPK Sebut Penerimaan...
KPK Sebut Penerimaan Murid Baru Masih Dibayangi Pungli
Ditetapkan Tersangka...
Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Bupati Cilacap Syamsul Ajukan Praperadilan
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Infografis
Profil 10 Pahlawan Nasional...
Profil 10 Pahlawan Nasional Tahun 2025 dan Jasanya bagi Negara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved