BIN Tegaskan Tidak Mengintervensi Pemilihan Kwarnas Pramuka
Selasa, 02 Oktober 2018 - 14:26 WIB
BIN Tegaskan Tidak Mengintervensi Pemilihan Kwarnas Pramuka
A
A
A
JAKARTA - Pemilihan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Indonesia berlangsung di Kendari Sulawesi Tenggara, Jumat, 28 September 2018. Hasilnya menyisakan tiga kandidat dari 11 orang yang diusulkan. Ketiganya adalah Adhyaksa Dault, Budi Waseso dan Jana Anggadiredja.
Dari 35 suara, Budi Waseso memperoleh 19 suara, Adhyaksa (14), dan Jana (2). Dari hasil itu muncul tudingan bahwa intelijen mengintervensi pemilihan ketua Kwarnas Gerakan Pramuka yang berujung pada keterpilihan Budi Waseso.
Menanggapi hal itu, Badan Intelijen Negara (BIN) membantah keras dan menyatakan tudingan tersebut tidak benar (hoaks). “Pemilihan berlangsung secara Luber (langsung, umum, bebas dan rahasia) serta Jurdil (jujur dan adil). Tidak ada yang tahu ketika terjadi pencoblosan di bilik suara,” kata Juru Bicara Kepala BIN, Wawan Hari Purwanto dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Selasa (2/10/2018).
Menurut Wawan, BIN tidak memiliki kepentingan dalam pemilihan tersebut. Siapapun yang terpilih harus mampu mengemban amanat mendidik kader pandu Indonesia ke depan.
“Soal regenerasi kepemimpinan di Kwarnas bukan hal baru, dari waktu ke waktu kepemimpinan silih berganti. Tiap orang ada masanya, dan tiap masa ada orangnya. Semua saling mengisi dan saling berkontribusi satu sama lain,” ujarnya.
Wawan mengatakan, mengenai siapa yang terpilih diupayakan ada musyawarah mufakat. Namun karena musyawarah mufakat tidak dapat diperoleh maka dilakukan voting.
“Siapapun yang terpilih dalam voting harus dihormati. Hal ini menjadi pembelajaran demokrasi yang baik bagi adik-adik pandu Indonesia. Tidak perlu mencari kambing hitam dalam sebuah proses pemilihan,” lanjutnya.
Dari 35 suara, Budi Waseso memperoleh 19 suara, Adhyaksa (14), dan Jana (2). Dari hasil itu muncul tudingan bahwa intelijen mengintervensi pemilihan ketua Kwarnas Gerakan Pramuka yang berujung pada keterpilihan Budi Waseso.
Menanggapi hal itu, Badan Intelijen Negara (BIN) membantah keras dan menyatakan tudingan tersebut tidak benar (hoaks). “Pemilihan berlangsung secara Luber (langsung, umum, bebas dan rahasia) serta Jurdil (jujur dan adil). Tidak ada yang tahu ketika terjadi pencoblosan di bilik suara,” kata Juru Bicara Kepala BIN, Wawan Hari Purwanto dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Selasa (2/10/2018).
Menurut Wawan, BIN tidak memiliki kepentingan dalam pemilihan tersebut. Siapapun yang terpilih harus mampu mengemban amanat mendidik kader pandu Indonesia ke depan.
“Soal regenerasi kepemimpinan di Kwarnas bukan hal baru, dari waktu ke waktu kepemimpinan silih berganti. Tiap orang ada masanya, dan tiap masa ada orangnya. Semua saling mengisi dan saling berkontribusi satu sama lain,” ujarnya.
Wawan mengatakan, mengenai siapa yang terpilih diupayakan ada musyawarah mufakat. Namun karena musyawarah mufakat tidak dapat diperoleh maka dilakukan voting.
“Siapapun yang terpilih dalam voting harus dihormati. Hal ini menjadi pembelajaran demokrasi yang baik bagi adik-adik pandu Indonesia. Tidak perlu mencari kambing hitam dalam sebuah proses pemilihan,” lanjutnya.
(poe)