Bersatu Padu Membantu Palu-Donggala

Senin, 01 Oktober 2018 - 08:00 WIB
Bersatu Padu Membantu...
Bersatu Padu Membantu Palu-Donggala
A A A
KONDISI Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, hingga hari ketiga pascagempa dahsyat dan tsunami kemarin masih tidak menentu. Gempa susulan masih sering terjadi. Jumlah korban tewas hingga kemarin terus bertambah. Berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal mencapai 832 jiwa. Bukan tidak mungkin jumlah korban bertambah hingga mencapai ribuan lantaran masih banyak daerah terdampak yang belum terjangkau. Ratusan korban yang menderita luka saat ini butuh perawatan medis, sedangkan belasan ribu jiwa lainnya terpaksa mengungsi ke posko darurat.

Tiga hari setelah kejadian, diduga korban masih banyak yang terjebak di reruntuhan bangunan dan membutuhkan evakuasi segera. Para pengungsi membutuhkan bahan makanan dan aneka peralatan seperti tenda, terpal, dan selimut. Salah satu kebutuhan lain warga yang sangat mendesak adalah BBM. Alat penerangan juga sangat dibutuhkan karena pada sebagian daerah listrik masih padam.

Kemarin Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah berkunjung ke Palu dan mendatangi beberapa titik terdampak gempa. Jokowi juga memimpin rapat terbatas dan memerintahkan agar memprioritaskan evakuasi korban. Langkah cepat pemerintah turun tangan membantu warga Sulawesi Tengah layak diapresiasi. Kemarin Gubernur Sulawesi Tengah telah menerapkan masa tanggap darurat selama 14 hari, berlaku mulai Jumat (28/9) hingga Kamis (11/10). Total ada 4 kabupaten/kota terdampak gempa dan tsunami, yakni Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.

Penetapan status tanggap darurat ini sudah sangat tepat karena akan membuat pemerintah daerah dan pemerintah pusat mudah dalam mengerahkan personel, logistik, dan peralatan, termasuk alat berat. Penggunaan anggaran untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam penanganan darurat warga juga lebih mudah.

Hari ini dan beberapa hari ke depan Tim SAR akan berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan korban selamat yang kemungkinan masih tertimbun bangunan runtuh. Tim SAR perlu memprioritaskan menemukan korban yang selamat untuk dievakuasi dan mendapatkan perawatan. Evakuasi terhadap korban meninggal juga perlu dilakukan cepat agar jenazah bisa segera dikebumikan dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi warga. Memang bukan pekerjaan mudah untuk melakukan evakuasi korban lantaran terbatasnya alat berat. Diharapkan bantuan alat berat dari beberapa daerah tetangga bisa segera didatangkan dalam satu dua hari ini.

Tentu saja bukan pekerjaan mudah untuk mendistribusikan bantuan kepada warga palu dan Donggala. Apalagi saat ini akses melalui darat sangat sulit akibat banyak jalan terputus dan lereng pegunungan longsor dan materialnya menutup jalan sehingga yang efektif digunakan saat ini adalah pengiriman bantuan menggunakan kapal laut. Daerah yang memiliki jarak terdekat untuk pengiriman logistik adalah Kalimantan. Dari Balikpapan, Kalimantan Timur, ke Palu bisa ditempuh menggunakan kapal laut dalam waktu sekitar 24 jam sehingga bisa mempercepat pendistribusian bantuan.

Selain bantuan makanan dan peralatan untuk pengungsi, dokter dan tenaga medis lain sangat dibutuhkan saat ini. Organisasi atau lembaga di berbagai wilayah Tanah Air diharapkan bisa segera mengirimkan relawan tenaga medis untuk menangani korban, terutama yang saat ini menderita luka.

Pemulihan terhadap Palu dan Donggala diharapkan bisa berlangsung cepat. Dalam hal anggaran, diharapkan tidak ada hambatan. Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut masih ada Rp560 miliar dana untuk tanggap darurat yang siap digunakan untuk bantuan penanganan darurat di Sulawesi Tengah. Semoga dana ini bukan sekadar angka-angka saja, melainkan bisa segera disalurkan untuk meringankan penderitaan warga. Juga sangat penting diingatkan bahwa dalam situasi bencana seperti ini kekompakan anak bangsa sangat diperlukan. Perlu persatuan dan kerja sama dalam membantu para korban tanpa perlu melihat latar belakang, warna politik, dan identitas lainnya. Juga sangat penting menghindari sikap saling menyalahkan.
(wib)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Inggris, Italia, Jepang...
Inggris, Italia, Jepang Bersatu Ciptakan Jet Tempur Generasi Ke-6
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved