Temuan Bawaslu, Politik Uang Masuk Indeks Kerawanan Pemilu 2019

Selasa, 25 September 2018 - 14:46 WIB
Temuan Bawaslu, Politik...
Temuan Bawaslu, Politik Uang Masuk Indeks Kerawanan Pemilu 2019
A A A
JAKARTA - Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin menyebut bahwa politik uang menjadi salah satu indeks kerawanan yang terjadi di Pemilu 2019. Ada 513 daerah rawan politik uang yang terbagi dalam kategori tinggi dan sedang.

“Politik yang terpantau masif, pada indeks rawan tinggi praktik politik uang terdapat 176 (34,2%) kabupaten/kota dan indeks rawan sedang berjumlah 338 (65,8%) kabupaten/kota," ujar Afif di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (25/9/2018).

Dimensi praktik politik uang didasarkan pada subdimensi kampanye, partisipasi pemilih, relasi kuasa tingkat lokal, pelaksanaan pemungutan suara, pengawasan pemilu, dan partisipasi publik. Artinya, praktik politik uang dapat terjadi pada tahapan-tahapan tersebut.

Isu startegis lain yang dapat menjadi perhatian pemangku kepentingan pemilu adalah aspek keamanan yang juga menjadi Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) 2019 mendatang.

“Subdimensi keamanan dan relasi kuasa di tingkat lokal terdapat di 94 (18,3 persen) kabupaten/kota yang rawan tinggi dan 420 (81,7 persen) yang rawan sedang,” katanya.

Selanjutnya, dalam IKP 2019 oleh Bawaslu ditemukan kerawanan pada netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN). Dimana terdapat 94 kabupaten/kota yang memiliki tingga rawan tinggi.

"Pada indeks rawan tinggi netralitas ASN terdapat 94 (18,3%) Kabupaten/Kota dan indeks rawan sedang berjumlah 420 (81,7%) Kabupaten/Kota," jelas dia.

Bahkan pada IKP 2019 Bawaslu menyebutkan isu politisasi Suku Agama Ras Antar Golongan (SARA) turut mempunyai tingkat kerawanan yang tinggi. "Penggunaan ujaran kebencian dan politisasi SARA pada indeks rawan tinggi terdapat 90 kabupaten/kota dan indeks rawan sedang berjumlah 424 kabupaten/kota," jelas Afif.

Maka dari itu Afif dan pihaknya dalam hal ini Bawaslu berharap bagi semua pemangku kepentingan pemilu masih agar menghindari politisasi SARA, politik uang dan menghindari pelibatan ASN, TNI dan Polri untuk dapat melakukan pemilu yang bersih.

"Penyelenggara pemilu akan mengoptimalkan supervisi di bawahnya dan memastikan integritas dan profesionalitas dalam terselenggaranya Pileg dan Pilpres 2019," tutupnya.
(kri)
Berita Terkait
Sejarah Pemilu di Indonesia...
Sejarah Pemilu di Indonesia dari Masa ke Masa, Info Penting untuk Tugas Sekolah
Penelitian: Partai Perindo...
Penelitian: Partai Perindo Sukses Curi Perhatian Masyarakat pada Pemilu 2019
Megawati Usul Tak Diubah,...
Megawati Usul Tak Diubah, Inilah Nomor Urut Parpol Peserta Pemilu 2019
Penyerahan Data Pemilu...
Penyerahan Data Pemilu 2019
Kontroversi RUU Pemilu,...
Kontroversi RUU Pemilu, PT 20% Ulang Polarisasi Tajam di Pilpres 2019
Lumbung Suara PDIP di...
Lumbung Suara PDIP di Jakarta pada Pemilu 2019, Paling Banyak di Dapil 10
Berita Terkini
Imparsial Desak Prabowo...
Imparsial Desak Prabowo Cabut Perpres Pengamanan Jaksa oleh TNI
Sambut Baik Kebijakan...
Sambut Baik Kebijakan BKN, Amos Simanjuntak: Kenaikan Pangkat ASN Berbasis Merit Perkuat Reformasi Birokrasi
Putusan Praperadilan...
Putusan Praperadilan Roy Suryo Jilid II Dibacakan 20 Juli
IUCN Lihat Menhut Paham...
IUCN Lihat Menhut Paham Akar Masalah Konservasi Gajah
UGM Dinilai Keliru Ajukan...
UGM Dinilai Keliru Ajukan Keberatan ke PTUN Jakarta, Bonjowi Hadirkan Saksi Ahli untuk Meluruskan
Menko PM: SDM Unggul...
Menko PM: SDM Unggul dan Teknologi Kunci Kemajuan Bangsa
Infografis
8 PTS Terbaik Indonesia...
8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved