Kampanye yang Bisa Memecah Bangsa Harus Dihentikan

Selasa, 25 September 2018 - 13:16 WIB
Kampanye yang Bisa Memecah...
Kampanye yang Bisa Memecah Bangsa Harus Dihentikan
A A A
JAKARTA - Kampanye yang bisa memecah belah bangsa harus dihentikan karena bisa merusak kerukunan antara warga negara. Salah satunya #2019GantiPresiden.

Apalagi masa kampanye Pilpres sudah mulai sehingga seharusnya menggunakan tagar resmi. "Baik Prabowo maupun Jokowi, keduanya adalah tokoh bangsa yang seharusnya sama-sama kita hormati, keduanya adalah putra terbaik bangsa yang tidak patut untuk dicela dan diumbar keburukannya," kata pengamat politik dari Universitas Riau Erdianto Effendi, dalam rilis yang diterima SINDOnews, Selasa (25/9/2018).

Ia menekankan, berbagai kekurangan dan prestasi kedua capres sudah disebarluaskan. Sehingga sesungguhnya masyarakat sudah mengetahui dan mendapat informasi yang cukup untuk menentukan dan memastikan siapa yang akan menjadi pilihan masyarakat pada pada 2019. “Seluruh pihak perlu menjaga kedamaian dan kesejukan menyongsong Pemilu dan Pilres 2019,” tegasnya.

Apalagi sudah hampir lima tahun masyarakat kita terbelah dalam dua kubu yang berseberangan terkait perbedaan pilihan presiden. Berbagai kampanye hitam, penghinaan, ujaran kebencian dan persekusi dilakukan kedua belah pihak, hingga penyebutan istilah yang menistakan begitu meluas di media massa.

Dalam konteks demokrasi dan hak asasi manusia, penyampaian pendapat dalam bentuk apa pun adalah sah dan dijamin konstitusi. Namun jika hal tersebut membuat masyarakat terbelah maka dibutuhkan tokoh yang mempersatukan masyarakat untuk saling menghargai, saling menghormati kedua belah pihak.

Pngamat politik Boni Hargens menilai gerakan #2019GantiPresiden yang terus dihembuskan bisa merusak iklim persaudaraan antara masyarakat. Terlebih ada dugaan, kelompok radikal yang ikut memboncengi gerakan #2019GantiPresiden.

"Jadi, letak masalahnya pada motif dan pelaku gerakan #2019GantiPresiden, salah satunya dijadikan kuda Troya untuk kepentingan yang membahayakan ketahanan ideologi negara. Diduga ada kelompok radikal ikut di dalamnya untuk memperoleh jalan kekuasaan dalam rangka mendirikan khilafah sebagai cita-cita politik mereka," katanya.
(poe)
Berita Terkait
Sejarah Pemilu di Indonesia...
Sejarah Pemilu di Indonesia dari Masa ke Masa, Info Penting untuk Tugas Sekolah
Penelitian: Partai Perindo...
Penelitian: Partai Perindo Sukses Curi Perhatian Masyarakat pada Pemilu 2019
Megawati Usul Tak Diubah,...
Megawati Usul Tak Diubah, Inilah Nomor Urut Parpol Peserta Pemilu 2019
Survei: 62,2% Pendukung...
Survei: 62,2% Pendukung di 2019 Tetap Loyal Pilih Prabowo di Pilpres 2024
Penyerahan Data Pemilu...
Penyerahan Data Pemilu 2019
Haikal Hassan: Hentikan...
Haikal Hassan: Hentikan Sebut Cebong-Kadrun, Enggak Malu Sama Orang Tua Kita Dulu
Berita Terkini
Jelang Pelimpahan Don...
Jelang Pelimpahan Don Ritto, Penyidik Polri Bawa Boks ke Kejagung
TNI AD Bentuk Tim Investigasi...
TNI AD Bentuk Tim Investigasi Usut Ledakan Gudang Amunisi di Madiun
1 Prajurit Tewas dan...
1 Prajurit Tewas dan 6 Orang Terluka Akibat Ledakan Gudang Amunisi TNI AD di Madiun
Refly Harun Optimistis...
Refly Harun Optimistis Hakim Kabulkan Praperadilan Roy Suryo Jilid II
Tok! SK PPP Jabar Sah...
Tok! SK PPP Jabar Sah meski Penggugat Hadirkan Taj Yasin sebagai Saksi Kunci
Ungkap Banyak Kejanggalan,...
Ungkap Banyak Kejanggalan, Munarman Minta KY dan MA Awasi Sidang Banding MNC Asia Vs CMNP
Infografis
34 PTS yang Masuk THE...
34 PTS yang Masuk THE Sustainability Impact Ratings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved