Ekonomi Umat Saat Lemah, Ini yang Harus Kita Kuatkan

Kamis, 16 Agustus 2018 - 20:45 WIB
Ekonomi Umat Saat Lemah,...
Ekonomi Umat Saat Lemah, Ini yang Harus Kita Kuatkan
A A A
MEKKAH - Ketika memutuskan mau menerima menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin sudah memiliki sejumlah konsep untuk diperkenalkan ke masyarakat. (Baca juga: Tawaran Cawapres Ini Bentuk Penghargaan bagi Ulama, Harus Kita Respons )

Apa saja itu? Berikut wawancara eksklusif SINDOnews dengan KH Ma’ruf Amin di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Ketika terpilih sebagai cawapres, apa visi misi Pak Kyai?
Pertama, konsep menjaga keutuhan NKRI ini. Sebab ini kalau tidak dijaga, NKRI bubar. NKRI komitmen bersama para pendahulu.

Maka saya menyebutnya negara ini negara kesepakatan. Karena dibangun oleh semua elemen seluruh bangsa. Ditemukan konsep dasar negara Pancasila. Istilah itu bagi kelompok kebangsaan adalah kebangsaan yang religius. Bagi kelompok Islam, kebangsaan yang bertauhid. Di sini kebangsaan dan islam bertemu. Kalau itu tercapai, negara akan aman. Negara ini akan terjaga dari perpecahan.

Untuk menjaga NKRI utuh ini harus kita jaga dengan paradigma yang ada di Indonesia, yang di negara lain tidak muncul yaitu ukhuwah. Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah.

Prinsip ini yang ingin terus kita dengungkan. Bahwa jangan ada yang tidak memiliki komitmen kebangsaan. Dan juga kita harus punya kesepakatan, mekanisme dalam menyampaikan aspirasi, yaitu melalui mekanisme yang diatur dalam UUD 1945. Itu kesepakatan. Oleh karena itu boleh ada radikalisme, apalagi terorisme.

Kedua, yang harus kita ciptakan adalah keamanan dan kedamaian. Negara kalau tidak aman tidak bisa membangun. Contoh Afghanistan. Dia adalah negara paling kaya di dunia. Gasnya, minyaknya, emasnya, terbesar. Tapi tidak bisa, kenapa? Karena tidak damai. Perang terus.

Karena itu ketika kita bicara dalam konsep Islam pentingnya kemaslahatan, ada lima prinsip yaitu, terjaganya agama, terjaganya jiwa, terjaganya akal, terjaganya keturunan, terjaganya harta. Itu lima prinsip.

Saya bilang ini nggak cukup. Harus ditambah ini. Yaitu terjaganya keamanan dan keselamatan. Kalau tanpa dua ini tidak bisa. Jadi ada tujuh prinsip.

Bagaimana dengan membangun ekonomi?
Setelah yang saya sampaikan tadi, baru kemudian kita masuk pada pembangunan ekonomi. Ekonomi seperti apa? Yaitu ekonomi yang semua komponennya itu sesuai dengan sila kelima Pancasila yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Bagian yang lemah dari rakyat Indonesia itu adalah bagian umat (Islam). Umat ini bagian terbesar dari bangsa ini. Kalau umat lemah, negara lemah. Kalau umat ini kuat, negara ini kuat.

Umat ini yang saat ini dalam posisi lemah. Makanya ini harus kita kuatkan. Bukan melemahkan yang kuat, tapi menguatkan yang lemah. Caranya gimana? Bukan membenturkan, tapi bermitra. Memitrakan, saling kolaborasi, saling menguatkan dan saling menjaga sehingga terjadi harmonisasi kehidupan.

Kehidupan ekonominya naik. Itu ekonomi berkeadilan, sesuai dengan sila kelima Pancasila. Ini yang coba saya ingin bangun.

Juga memberikan nilai tambah, bagi terutama di daerah sentra pertanian. Misalnya coklat di Sulawesi. Harga di Sulawesi itu cuma Rp1.000 per kilogram. Ketika masuk ke Singapura, diolah sedikit, dipoles sedikit menjadi Rp20.000. Nilai tambahnya Rp19.000.

Terkait pembangunan ekonomi ini, kita ini ingin para pengusaha meneteskan, yang selama ini tidak menetes. Trickle down effect. Yang semula dikonsepkan, ternyata nggak menetes kan? Nah ini yang kita tarik. Anda harus ikut bersama dan saya sudah dengar tidak ada yang keberatan. Dan Pak Jokowi sudah setuju.

Tentu saja yang perlu diatur itu adalah tahapan-tahapannya seperti apa. Ini supaya tidak ada pihak-pihak yang dirugikan. Semua diuntungkan. Menguntungkan semua pihak.

Yang menjadi keraguan publik sekarang adalah masalah kesehatan karena usia Pak Kyai yang sudah lanjut. Bagaimana Pak Kyai menjawab isu ini?
Selama ini saya menjalankan tugas saya sebagai Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI. Tanya saja ke PBNU, tanya saja ke MUI. Saya tiap minggu keliling daerah.
(poe)
Berita Terkait
Survei Indikator Politik:...
Survei Indikator Politik: Pemilih Jokowi-Maruf Cenderung ke Ganjar Pranowo
Sempat Jadi Rival di...
Sempat Jadi Rival di Pilpres, Prabowo Ungkap Alasannya Mau Jadi Menteri Jokowi
Pilpres 2024, Perindo...
Pilpres 2024, Perindo Jamin Lanjutkan Gagasan Jokowi-Ma'ruf Amin
Maruf Amin Harap Kepemimpinannya...
Ma'ruf Amin Harap Kepemimpinannya dengan Jokowi Berakhir Husnulkhatimah
Prabowo Ungkap Alasan...
Prabowo Ungkap Alasan Mau Gabung Kabinet Jokowi: Saya Tidak Ingin Bangsa Ini Pecah
Buruh Puji Kabinet Jokowi...
Buruh Puji Kabinet Jokowi Tak Terpengaruh Kasak-kusuk Pilpres 2024
Berita Terkini
Yusril Berkunjung ke...
Yusril Berkunjung ke MUI Malam Ini, Jelaskan Penangkapan WNA Palestina Abdul Karim Raeq Miqdad
KPK Panggil 4 Tersangka...
KPK Panggil 4 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Jatim
Pakar Minta Polisi Objektif...
Pakar Minta Polisi Objektif Usut Dugaan Penghinaan Terhadap Jurnalis
Penanganan Dugaan Kasus...
Penanganan Dugaan Kasus Febrie Adriansyah Jadi Ujian Independensi Penegak Hukum
Anak Ferdy Sambo Ikut...
Anak Ferdy Sambo Ikut Dilantik Presiden Prabowo Jadi Perwira Polri di Istana
Prabowo Lantik Donny...
Prabowo Lantik Donny Ermawan Jadi Gubernur Universitas Republik Indonesia dan Yos Sunitiyoso Wagub URI
Infografis
Waspada! Ini Gejala...
Waspada! Ini Gejala Super Flu yang Masuk ke Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved