Fahri Hamzah Nilai Koalisi Parpol Jelang Pilpres Didasarkan Pertimbangan Uang

Kamis, 09 Agustus 2018 - 02:11 WIB
Fahri Hamzah Nilai Koalisi...
Fahri Hamzah Nilai Koalisi Parpol Jelang Pilpres Didasarkan Pertimbangan Uang
A A A
LOMBOK - Koalisi sejumlah partai politik (parpol) menjelang pendaftaran calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang terjadi sekarang dinilai banyak didasarkan atas pertimbangan uang. Penilaian itu disampaikan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

"Koalisi yang dibangun saat ini sifatnya lebih didasarkan pada deal-deal materialistik. Deal uang ini,” ungkap Fahri Hamzah di sela mengunjungi korban gempa di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (8/8/2018).

Fahri mengatakan, hal ini terjadi karena koalisi sejumlah parpol baik di kubu Joko Widodo (Jokowi) maupun Prabowo Subianto tidak dilandasi dengan ideologi yang kuat. "Ini politik uang tingkat tinggi. Semua fulus. Karena enggak ada ide. Kalau enggak ada ide kan akhirnya 'wani piro?" katanya.

Kondisi ini, lanjut politikus PKS ini, juga terjadi karena syarat presidentsial threshold 20% sehingga hal ini menyulitkan parpol-parpol untuk bertarung. "Jadi dosa Pak Jokowi ini tiket (maju dalam pilpres) menjadi mahal. Enggak semua orang bisa, jadi siapa yang punya duit yang bisa beli," ujarnya.

Ketika ditanya siapa yang bermain uang? Fahri mengatakan, "Ya semuanya siapa yang punya." Fahri mengatakan, tarik ulur kedua kubu sebelum pendaftaran, baik kubu Jokowi maupu Prabowo masih akan terus berlangsung hingga last minute.

Karena itu, dia menduga pendaftaran capres-cawapres akan diundur sampai 14 hari atau 2 x 7 hari lagi setelah deadline waktu pendaftaran pada 10 Agustus 2018. ”Tarik-menariknya sangat kencang. Karena dari awal metode koalisinya tidak dibangun pada prinsip- prinsip dasar yang idealis. Tapi lebih pada hitung-hitungan elektabilitas yang debatable,” ujatnya, kemarin.

Fahri mencontohkan, di kubu Jokowi, pihak Muhaimin Iskandar sekalu ketua umum PKB, memprotes jika Jokowi memasang Mahfud MD sebagai cawapres. ”Ini soal elektabilitas kan debatable. Siapa bilang si a yang bagus. Bagaimana kalau salah naruh? Artinya ini kayak judi sehingga sampai akhir belum ada yang buka kartu. Akhirnya rakyat disuruh bengong saja,” katanya.

Hal yang hampir sama juga terjadi di kubu Prabowo.”Bedanya Prabowo kan ketua umum partai. Dia cuma perlu dua tanda tangan lagi dari satu partai. Kalau Jokowi kan bukan ketua partai. Jadi dugaan saya orang bisa kabur semua karena tidak ada yang sependapat. Kecuali kalau tukang bayarnya kuat,” ucapnya.
(whb)
Berita Terkait
Sejarah Pemilu di Indonesia...
Sejarah Pemilu di Indonesia dari Masa ke Masa, Info Penting untuk Tugas Sekolah
Haikal Hassan: Hentikan...
Haikal Hassan: Hentikan Sebut Cebong-Kadrun, Enggak Malu Sama Orang Tua Kita Dulu
Anies Blak-blakan 2...
Anies Blak-blakan 2 Kali Tolak Tawaran Jadi Capres di Pilpres 2019
Refly Harun: Putusan...
Refly Harun: Putusan MA Sama Sekali Tak Pengaruhi Hasil Pilpres 2019
Gelar Konser Rakyat,...
Gelar Konser Rakyat, Warga Pacitan Deklarasi Dukung Cak Imin Presiden 2024
Kilas Balik Nomor Urut...
Kilas Balik Nomor Urut Capres-Cawapres, dari Pilpres 2004 hingga Pilpres 2019
Berita Terkini
Mengapa Pendonor Darah...
Mengapa Pendonor Darah Kita Tidak Kembali?
Evita: Ekspor Satu Pintu...
Evita: Ekspor Satu Pintu Harus Jadi Instrumen Hilirisasi, Bukan Ubah Jalur Penjualan
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo Ardianto
Dari SPBU ke Meja Makan:...
Dari SPBU ke Meja Makan: Rantai Dampak Kenaikan BBM terhadap Kesejahteraan
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Infografis
Head to Head Indonesia...
Head to Head Indonesia vs Vietnam Jelang Final AFF U-23 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved