Di Depan Kader Ulama, Jokowi Cerita Jadi Korban Isu PKI
Rabu, 08 Agustus 2018 - 16:23 WIB
Di Depan Kader Ulama, Jokowi Cerita Jadi Korban Isu PKI
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak para kader ulama untuk menyebarkan kebaikan melalui dakwah Islam. Konten saling menjelekkan dan saling curiga hendaknya tak disampaikan dalam dakwah.
Hal itu seperti disampaikan Jokowi saat membuka acara Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8/2018).
Jokowi mengatakan, sikap gampang curiga, berprasangka buruk berefek negatif pada perkembangan demokrasi di Indonesia. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini titip kepada kader ulama agar selalu mengembangkan sikap berprasangka baik dan berfikir penuh kecintaan.
"Ini yang harus dikembangkan, jangan sampai saling mencela, sampai memfitnah dan menjelekkan," kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, kerap melihat kabar bohong dan ujaran kebencian di media sosial. Jokowi mengaku menjadi salah satu korban berita bohong melalui media sosial.
Salah satu kabar bohong tersebut menuding Jokowi sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam beberapa postingan, Jokowi melihat gambarnya disandingkan dengan Ketua Umum PKI tahun 1955, DN Aidit. Jokowi membantah isu tersebut.
"Saya lahir tahun 1961. Pidatonya (Audit) tahun 1955. PKI dibubarkan tahun 1965. Apa ada PKI balita?" ucap Jokowi.
Tak hanya di media sosial, isu PKI juga merembet ke dunia nyata. Jokowi menuturkan, suatu ketika pernah mengunjungi sebuah pesantren untuk menyampaikan kuliah tentang kebangsaan. Dalam kesempatan itu, tutur Jokowi, ia pernah ditanya seorang kiai ihwal isu PKI.
Jokowi mengatakan, isu dan kabar bohong seperti ini harus dihentikan. Kader ulama memiliki tanggung jawab sosial untuk turut ambil bagian dalam upaya tersebut.
"Tugas kader-kader ulama nanti untuk menyampaikan jangan sampai kita berburuk sangka apalagi menyebarkan fitnah," kata Jokowi.
Hal itu seperti disampaikan Jokowi saat membuka acara Pendidikan Kader Ulama (PKU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (8/8/2018).
Jokowi mengatakan, sikap gampang curiga, berprasangka buruk berefek negatif pada perkembangan demokrasi di Indonesia. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini titip kepada kader ulama agar selalu mengembangkan sikap berprasangka baik dan berfikir penuh kecintaan.
"Ini yang harus dikembangkan, jangan sampai saling mencela, sampai memfitnah dan menjelekkan," kata Jokowi.
Jokowi mengatakan, kerap melihat kabar bohong dan ujaran kebencian di media sosial. Jokowi mengaku menjadi salah satu korban berita bohong melalui media sosial.
Salah satu kabar bohong tersebut menuding Jokowi sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam beberapa postingan, Jokowi melihat gambarnya disandingkan dengan Ketua Umum PKI tahun 1955, DN Aidit. Jokowi membantah isu tersebut.
"Saya lahir tahun 1961. Pidatonya (Audit) tahun 1955. PKI dibubarkan tahun 1965. Apa ada PKI balita?" ucap Jokowi.
Tak hanya di media sosial, isu PKI juga merembet ke dunia nyata. Jokowi menuturkan, suatu ketika pernah mengunjungi sebuah pesantren untuk menyampaikan kuliah tentang kebangsaan. Dalam kesempatan itu, tutur Jokowi, ia pernah ditanya seorang kiai ihwal isu PKI.
Jokowi mengatakan, isu dan kabar bohong seperti ini harus dihentikan. Kader ulama memiliki tanggung jawab sosial untuk turut ambil bagian dalam upaya tersebut.
"Tugas kader-kader ulama nanti untuk menyampaikan jangan sampai kita berburuk sangka apalagi menyebarkan fitnah," kata Jokowi.
(pur)