Pengamat: Narasi Politik Seakan Kubu Islam-Nasionalis Saling Berhadapan

Selasa, 31 Juli 2018 - 09:13 WIB
Pengamat: Narasi Politik...
Pengamat: Narasi Politik Seakan Kubu Islam-Nasionalis Saling Berhadapan
A A A
JAKARTA - Rekomendasi Ijtima Ulama yang digagas alumni 212 masuk dalam pertimbangan partai politik (parpol) koalisi kubu Prabowo Subianto. Bahkan rekomendasi Ijtima ulama tersebut jadi pembahasan dalam pertemuan antara elit Gerindra, Demokrat dan PKS yang intens dilakukan kemarin.

Kendati begitu, rekomendasi yang memunculkan nama Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri dan Ustaz Abdul Somad sebagai pendamping Prabowo belum final dan masih dikaji oleh kubu calon lawan petahana Jokowi.

Direktur Politik dan Hukum Wain Advisory Indonesia, Sulthan Muhammad Yus menilai, Salim Segaf tak bisa disebut sebagai representasi Islam, meski klaim tersebut kuat dilancarkan oleh mereka.

"Posisi Salim tergolong lemah untuk mendongkrak perolehan suara Prabowo, hal ini dikarenakan Salim merupakan kader partai politik," ujar Sulthan saat dihubungi SINDOnews, Selasa (31/7/2018).

Menurut Sulthan, Salim hanya mampu menyedot masa PKS, belum tentu dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Disisi lain PKS sudah pasti bersama Prabowo. Sementara Ustaz Somad menarik, namun sayang Ia lebih memilih menjadi suluh di tengah kelam.

Pengamat Politik asal UIN Jakarta ini menganggap, narasi politik hari ini seolah-olah kubu Islam dengan nasionalis sedang berhadap-hadapan. Namun di sisi lain hal itu tidak berpengaruh pada peningkatan elektabilitas partai Islam. Artinya, kata dia, umat butuh figure Islam yang non partisan.

"Saya pikir ijtima’ ulama berani secara tegas mendorong Habib Rizik sebagai Capres/Cawapres. Hemat saya, Prabowo perlu mempertimbangkan tokoh muda sebagai alternative untuk melawan Jokowi," katanya.

Menurutnya, nama Ketua Ketua Kogasma Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) perlu dipertimbangkan secara matang. Jangan lupa Presiden keenam yang juga Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pengaruhnya masih cukup kuat di level bawah. "Jika tidak kemungkinan besar Jokowi melenggang ke Istana dengan mudah untuk kedua kalinya," tambah lulusan UGM ini.
(pur)
Berita Terkait
Survei LSJ: 40,6 Persen...
Survei LSJ: 40,6 Persen Pendukung Jokowi di Pilpres 2019 Merapat ke Prabowo
Soal Reshuffle Kabinet,...
Soal Reshuffle Kabinet, Pengamat: Jokowi Menang 2-0 Atas Prabowo-Sandi
Bersedia Masuk Kabinet...
Bersedia Masuk Kabinet Jokowi, Prabowo: Kita Sama-sama Mengabdi untuk Merah Putih
Kepada Deddy Corbuzier,...
Kepada Deddy Corbuzier, Prabowo Blak-blakan Ungkap Alasan Mau Jadi Menteri Jokowi
Survei: 62,2% Pendukung...
Survei: 62,2% Pendukung di 2019 Tetap Loyal Pilih Prabowo di Pilpres 2024
Refly Harun: Putusan...
Refly Harun: Putusan MA Sama Sekali Tak Pengaruhi Hasil Pilpres 2019
Berita Terkini
Polri Gelar Nobar Piala...
Polri Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Pakar Hukum: Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat
Ditahan KPK, Asrul Azis...
Ditahan KPK, Asrul Azis Tersangka Baru Kasus Kuota Haji Ajukan Praperadilan ke PN Jaksel
Tepis Ada Pembagian...
Tepis Ada Pembagian Keuntungan Program MBG ke Presiden, Kepala BGN: Hoaks
PP Himmah: Waspada Aksi...
PP Himmah: Waspada Aksi Reformasi Jilid II Dimanfaatkan Hambat Program Pemerintah
Kejagung: Sony Sanjaya...
Kejagung: Sony Sanjaya Tak Bisa Jadi Justice Collaborator Jika Menjadi Pelaku Utama
Forum ILC Jenewa, Delegasi...
Forum ILC Jenewa, Delegasi Indonesia Dorong Payung Hukum Global bagi Pekerja Digital
Infografis
7 Universitas Islam...
7 Universitas Islam Negeri Terbaik Masuk Top 100 Nasional Webometrics 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved