Pengamat: Duet Prabowo-AHY Linear dengan Gejala Politik Global

Jum'at, 20 Juli 2018 - 10:03 WIB
Pengamat: Duet Prabowo-AHY...
Pengamat: Duet Prabowo-AHY Linear dengan Gejala Politik Global
A A A
JAKARTA - Kunjungan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke RSPAD untuk menjenguk Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapat respons positif dari masyarakat. Kedua tokoh menunjukkan keakraban yang menguatkan spekulasi bergabungnya Partai Demokrat ke Prabowo. Pertemuan lanjutan akan diagendakan untuk mengkerucutkan kesepakatan.

Pengamat Politik Al-Azhar, Zaenal A Budiyono mengatakan salah satu isu yang menguat adalah peluang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi cawapres Prabowo pasca pertemuan tersebut. Sejak beberapa bulan lalu nama AHY memang beredar di deretan atas sebagai cawapres, baik Prabowo maupun Jokowi.

"Selain sisi elektabilitas sebagai politisi muda, AHY memiliki momentum dengan maraknya pemimpin muda dunia akhir-akhir ini. Terbaru Sebastian Kurz yang terpilih sebagai Kanselir Austria di usia 31 tahun. Sebelumnya ada nama Macron di Prancis dan Truedue di Kanada," ujarnya lewat rilis yang diterima SINDOnews, Jumat (20/7/2018).

Menurut Zainal, peremajaan politik juga terjadi di negara tetangga Malaysia, yang meskipun Mahathir Mohamad terpilih di usia 93 tahun, tapi ia berani mengangkat dua menteri di bawah 30 tahun. Dengan fakta ini, maka Prabowo-AHY menggambarkan pasangan tua–muda yang linear dengan gejala politik global.

"Namun tidak mudah tentu bagi Prabowo untuk memilih AHY, mengingat ada koalisi seperti PKS dan PAN yang juga memiliki nama calon. PKS terus mendorong Anies dan Aher, sementara PAN cenderung mendukung Zulhas," jelasnya.

Direktur DCSC ini menilai Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga memiliki peluang yang sama dengan AHY. Akan tetapi bila melihat kinerjanya di Jakarta, lanjut Zainal, tidak atau belum ada legacy fenomenal yang bisa dijadikan alasan untuk maju ke Pilpres 2019.

"Kalau misalnya Anies sudah melakukan banyak hal di Jakarta yang dirasakan rakyat, posisi cawapres tidak akan menimbulkan perdebatan. Hanya saja faktanya tidak demikian," pungkasnya.
(kri)
Berita Terkait
Resmi, Partai Demokrat...
Resmi, Partai Demokrat Dukung Prabowo Subianto di Pilpres 2024
Gerindra Masih Berusaha...
Gerindra Masih Berusaha Rayu PAN, Ingatkan Pilpres 2014 dan 2019
Alasan Gerindra Pecat...
Alasan Gerindra Pecat M Taufik karena Prabowo Kalah di Jakarta saat Pilpres 2019
Momen Prabowo Peluk...
Momen Prabowo Peluk Erat Otto Hasibuan, Kenang Perjuangan Bersama di Pilpres 2019
Sandiaga Uno Berikan...
Sandiaga Uno Berikan Buku Perjalanan Pilpres 2019 ke Prabowo
Prabowo Subianto Hadiri...
Prabowo Subianto Hadiri Penutupan Kongres VI Partai Demokrat, AHY Terpilih sebagai Ketum Periode 2025-2030
Berita Terkini
Edukasi Holistik Nikotin...
Edukasi Holistik Nikotin Ungkap Fakta Ini
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Tegaskan Buruh Tetap Bisa Demo Sesuai Aturan
KPK Tahan 2 Tersangka...
KPK Tahan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Delegasi Indonesia Soroti...
Delegasi Indonesia Soroti Kerja Paksa Myanmar dan Krisis Rohingya di Sidang ILO Jenewa
Demi Framing, Pengamat...
Demi Framing, Pengamat Menilai Jusuf Hamka Catut Nama Mbak Tutut dan TPI ke Polemik CMNP dengan MNC Asia
Infografis
10 Atlet Dengan Bayaran...
10 Atlet Dengan Bayaran Tertinggi 2026: Messi Dikalahkan Petinju Canelo Alvarez
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved