Penuntasan Kasus Novel Bisa Jadi Catatan Buruk Jokowi di Pilpres
Rabu, 11 April 2018 - 09:38 WIB
Penuntasan Kasus Novel Bisa Jadi Catatan Buruk Jokowi di Pilpres
A
A
A
JAKARTA - Hari ini tepat setahun kasus penyerangan dan penyiraman air keras yang menimpa Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan. Namun pengusutan kasus ini belum menemui titik terang.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki perhatian penuh terhadap kasus ini.
"Kalau dalam setahun ini tidak ada progres memang sebaiknya Pak Jokowi mendorong untuk dibuatkannya TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) itu," ujar Ray saat dihubungi SINDOnews, Rabu (11/4/2018).
Menurut Ray, kesediaan Jokowi mau mendorong pembentukan tim ini akan membantu pemerintah dalam mengungkap pelaku sekaligus dalang di balik penyerangan terhadap Novel ini.
Ray menambahkan, TGPF sangat dibutuhkan mengingat hampir setahun kasus ini berlalu, namun kepolisian belum berhasil menangkap pelakunya. Terlebih, melalui TGPF ini nantinya pemerintah akan dibantu oleh kelompok-kelompok yang independen.
"Kalau Pak Jokowi itu mengabaikannya itu bisa menjadi catatan agak buruk buat Pak Jokowi khususnya menjelang pilpres ini," tegas mantan aktivis 98 asal UIN Jakarta ini.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki perhatian penuh terhadap kasus ini.
"Kalau dalam setahun ini tidak ada progres memang sebaiknya Pak Jokowi mendorong untuk dibuatkannya TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) itu," ujar Ray saat dihubungi SINDOnews, Rabu (11/4/2018).
Menurut Ray, kesediaan Jokowi mau mendorong pembentukan tim ini akan membantu pemerintah dalam mengungkap pelaku sekaligus dalang di balik penyerangan terhadap Novel ini.
Ray menambahkan, TGPF sangat dibutuhkan mengingat hampir setahun kasus ini berlalu, namun kepolisian belum berhasil menangkap pelakunya. Terlebih, melalui TGPF ini nantinya pemerintah akan dibantu oleh kelompok-kelompok yang independen.
"Kalau Pak Jokowi itu mengabaikannya itu bisa menjadi catatan agak buruk buat Pak Jokowi khususnya menjelang pilpres ini," tegas mantan aktivis 98 asal UIN Jakarta ini.
(kri)