Peluang Gerindra Jadi Partai Pemenang Pileg Dinilai Terbuka Lebar
Selasa, 03 April 2018 - 14:27 WIB
Peluang Gerindra Jadi Partai Pemenang Pileg Dinilai Terbuka Lebar
A
A
A
JAKARTA - Institute for Transformation Studies (Intrans) menyebutkan, peluang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) untuk menjadi pemenang di Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 akan terbuka lebar.
Menurut Direktur Intrans, Andi Saiful Haq pernyaan ini didasarkan pada hasil Pemilu 2009 dan Pemilu 2014, di mana perolehan suara Gerindra mengalami kenaikan signifikan di kedua pemilu tersebut.
"Setelah dua kali maju sebagai kontestan dalam pilpres, dari kedua laga itu, Prabowo Subianto tidak menang, tapi juga tidak sepenuhnya kalah. Namun Gerindra sebagai partai pendatang baru berhasil mendapat dukungan 4,46% suara dengan persolehan 26 kursi di DPR," kata Saiful Haq dalam siaran pers, Selasa (3/4/2018).
Lima tahun kemudian kata Saiful Haq, kekuatan Gerindra sudah berlipat ganda saat Pemilu 2014. Sekali lagi, Prabowo yang saat itu menggandeng Hatta Rajasa harus menelan kekalahan dari Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang unggul dengan 53,15%.
"Meski hanya mendapat 46,85% suara di Pilpres, namun di Pemilihan Legislatif Gerindra mampu memastikan posisi ketiga dengan perolehan suara 11,81% suara dan 73 kursi DPR RI. Hanya terpaut tipis dari Partai Golkar yang berada di posisi kedua dengan suara 14,75%," tuturnya.
Intrans yakin, Prabowo justru sedang mencapai tahun keemasannya, dengan semua yang dimiliki Gerindra hari ini, peluang menjadi partai pemenang pada Pileg 2019 sangat terbuka lebar.
"Logika bahwa melawan incumbent itu berat, tidak beralasan sama sekali. Beban Jokowi justru semakin berat, terutama dalam menjaga ekspektasi publik yang begitu tinggi kepdanya. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal di tahun terakhir pemerintahannya," ungkapnya.
Di sisi lain kata Saiful, belum lagi konflik sedang menimpa Golkar, otomatis tinggal PDIP yang menjadi pesaing utama Gerindra. Baik PDIP dan Gerindra sama-sama paham, hanya Jokowi yang bisa menghadang Prabowo.
"Prabowo adalah center of gravity Partai Gerindra. Tanpa Prabowo Subianto di depan pasukan, moralitas tempur dan mesin politik Gerindra akan kehilangan emosi tempurnya," tuturnya.
"Pilpres dan Pileg yang digelar serentak pada April 2019, bisa jadi adalah kondisi yang menguntungkan bagi Gerindra dan Prabowo. Peluang untuk mendapatkan dua kemenangan sekaligus kursi presiden dan kursi mayoritas di parlemen," tambahnya.
Menurut Direktur Intrans, Andi Saiful Haq pernyaan ini didasarkan pada hasil Pemilu 2009 dan Pemilu 2014, di mana perolehan suara Gerindra mengalami kenaikan signifikan di kedua pemilu tersebut.
"Setelah dua kali maju sebagai kontestan dalam pilpres, dari kedua laga itu, Prabowo Subianto tidak menang, tapi juga tidak sepenuhnya kalah. Namun Gerindra sebagai partai pendatang baru berhasil mendapat dukungan 4,46% suara dengan persolehan 26 kursi di DPR," kata Saiful Haq dalam siaran pers, Selasa (3/4/2018).
Lima tahun kemudian kata Saiful Haq, kekuatan Gerindra sudah berlipat ganda saat Pemilu 2014. Sekali lagi, Prabowo yang saat itu menggandeng Hatta Rajasa harus menelan kekalahan dari Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang unggul dengan 53,15%.
"Meski hanya mendapat 46,85% suara di Pilpres, namun di Pemilihan Legislatif Gerindra mampu memastikan posisi ketiga dengan perolehan suara 11,81% suara dan 73 kursi DPR RI. Hanya terpaut tipis dari Partai Golkar yang berada di posisi kedua dengan suara 14,75%," tuturnya.
Intrans yakin, Prabowo justru sedang mencapai tahun keemasannya, dengan semua yang dimiliki Gerindra hari ini, peluang menjadi partai pemenang pada Pileg 2019 sangat terbuka lebar.
"Logika bahwa melawan incumbent itu berat, tidak beralasan sama sekali. Beban Jokowi justru semakin berat, terutama dalam menjaga ekspektasi publik yang begitu tinggi kepdanya. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal di tahun terakhir pemerintahannya," ungkapnya.
Di sisi lain kata Saiful, belum lagi konflik sedang menimpa Golkar, otomatis tinggal PDIP yang menjadi pesaing utama Gerindra. Baik PDIP dan Gerindra sama-sama paham, hanya Jokowi yang bisa menghadang Prabowo.
"Prabowo adalah center of gravity Partai Gerindra. Tanpa Prabowo Subianto di depan pasukan, moralitas tempur dan mesin politik Gerindra akan kehilangan emosi tempurnya," tuturnya.
"Pilpres dan Pileg yang digelar serentak pada April 2019, bisa jadi adalah kondisi yang menguntungkan bagi Gerindra dan Prabowo. Peluang untuk mendapatkan dua kemenangan sekaligus kursi presiden dan kursi mayoritas di parlemen," tambahnya.
(maf)